Nikah Beda Agama? Ini Cara Pengurusannya

By Penna on under How To

Mengurus pernikahan sudah cukup ribet persiapannya, apalagi kalau untuk pernikahan beda agama. Kalian akan dihadapkan dengan ribetnya persoalan administrasi, biaya yang lebih besar dan prosedur yang rumit. Tapi jangan sampai tantangan ini menyurutkan perjalanan cinta kalian brides! Yuk pahami dulu cara mengurus pernikahan beda agama di Indonesia.

Dasar Hukum Undang- Undang Pernikahan di Indonesia

Aturan perkawinan di Indonesia salah satunya diatur di UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan dianggap sah di mata negara jika dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing- masing.

Tetapi secara spesifiknya, hukum pernikahan juga tidak mengatur secara khusus mengenai perkawinan pasangan beda agama. Ini artinya adanya kekosongan hukum, sehingga ada istilah “ celah hukum” yang bisa dimanfaatkan oleh kalian pasangan beda agama.

Cara- Cara Pernikahan Beda Agama             

Dijabarkan oleh Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia Prof. Wahyono Darmabrata, ada 4 cara yang sering digunakan oleh pasangan beda agama untuk melangsungkan pernikahan di Indonesia.

1. Melalui Penetapan Pengadilan

Ini adalah salah satu cara yang kerap dilakukan pasangan beda agama karena tergolong lebih logika dibandingkan dengan memaksakan pilihan agama yang berbeda pada pasangan.

Menggunakan dasar hukum Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 1400 K/Pdt/1986, maka kantor catatan sipil punya kuasa hukum untuk melangsungkan pernikahan beda agama. Pasangan boleh memilih menikah di salah satu lembaga agama, lalu mengajukan berkas- berkas yang dibutuhkan untuk melanjutkan prosesi pernikahan. Setelah itu, pasangan boleh mengajukan penetapan pernikahan ke pengadilan negeri setempat dengan melampirkan surat bukti nikah terdahulu untuk diterbitkan akta pernikahan.

2. Perkawinan Menurut Masing- Masing Agama

Perkawinan ini sesuai dengan UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 2 ayat (2) dimana pasangan boleh melangsungkan pernikahan sesuai dengan agama masing- masing, misalnya menikah sesuai agama laki- laki terlebih dahulu dan disusul dengan pernikahan pihak perempuan atau sebaliknya.

3. Perkawinan Tunduk Pada Salah Satu Hukum Agama

Penundukan diri terhadap salah satu hukum agama mempelai mungkin lebih sering digunakan. Dalam agama Islam, diperbolehkan laki-laki Islam menikahi wanita non-Islam, yang termasuk ahlul kitab. Ayat Al-Quran inilah yang dipraktekkan sungguh oleh lembaga-lembaga seperti Yayasan Paramadina, Wahid Institute, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), bahkan diperluas jadi memperbolehkan kawin beda agama bagi wanita muslim.

4. Menikah di Luar Negeri

Menikah di luar negeri tentunya akan menggunakan hukum luar negeri, tergantung dengan negara yang dipilih. Pastinya kalian harus mempertimbangkan bukan hanya dari segi agama tetapi juga urusan pengadilan sipil untuk kemudian hari, misalnya untuk perceraian.