Lamaran Nuansa Warna Gold dan Hijau Ala Gita dan Dauz

By Vonika on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

The Engagement

Event Styling & Decor Diah Kharisma Dekorasi

Groom's Attire Sarinah Tailor

Photography Storia Wedding Photography

Videography Storia Wedding Photography

Make Up Artist liekuang&co

Hair Do liekuang&co

Meskipun sudah berteman sejak jaman SMP, tetapi tidak terpikirkan sama sekali oleh Gita dan Dauz untuk berpacaran. Hingga akhirnya keduanya dipertemukan kembali di bangku kuliah dimana Gita dan Dauz menempuh pendidikan di fakultas yang sama, yaitu Fakultas Hukum. Gita bercerita awal mulanya dia dan Dauz berkomunikasi ketika Gita sedang membutuhkan buku panduan ujian untuk dipelajari. Dengan cepat, Dauz langsung meminjamkan buku tersebut kepada Gita. “Ketika ujian, aku baru sadar ternyata buku yang Dauz pinjamkan itu bukan miliknya, tetapi dia pinjam buku itu dari temannya hanya untuk aku. Dari situ Dauz mulai intens menghubungi aku dan hubungan kita menjadi semakin dekat. Sampai akhirnya bulan januari 2014, he asked me to be his girlfriend and I said yes,” ungkap Gita. Dari awal berpacaran, Gita dan Dauz sudah saling merasa cocok dalam segala hal. Baik dari personal keduanya, maupun keluarga masing-masing. “Orang tua aku dan orang tua Dauz sangat mendukung sekali hubungan ini. Sehingga setelah lulus kuliah, Dauz langsung melamarku dengan konsep lamaran nuansa warna gold dan hijau,” tambah Gita.

Tidak ada proposal romantis dari Dauz untuk Gita, yang ada hanya ada keharuan yang sangat dalam.  Karena Dauz melamar Gita langsung di hadapan makam mamanya Dauz yang telah wafat 8 tahun silam. Di situ Dauz meminta izin untuk melamar Gita dan memberikan cincin peninggalan mamanya Dauz kepada Gita. Rasa haru pun semakin terasa. Air mata sudah tidak dapat dibendung lagi. Ditambah ada sanak saudara Dauz yang menyaksikan momen tersebut. “Aku bersyukur bisa dipertemukan oleh seseorang yang sangat menyayangi dan mempercayai aku,”  tutur Gita. Prosesi lamaran Gita dan Dauz berjalan sangat lancar. Semua persiapan dilakukan sendiri tanpa bantuan jasa vendor wedding organizer. Ibunda Gita pun ikut turun tangan dalam menyusun acara lamaran. Prosesi lamaran diawali dengan kedatangan keluarga Dauz yang menanyakan kesediaan orang tua Gita untuk menerima lamaran dari keluarganya.

Setelah itu dilanjut dengan orang tua dari Gita yang yang menanyakan secara langsung atas jawaban lamaran dari Dauz kepada Gita. Sang ibunda menjemput Gita dari kamar dan mengajaknya keluar kamar untuk bertemu dengan Dauz dan keluarganya. Selanjutnya, acara dilakukan tukar cincin, serah terima, ramah tamah, dan kejutan unik dari keluarga Gita, yaitu menyiapkan flashmob untuk keluarga Dauz, sehingga di tengah acara, suasana keakraban itu menjadi lebih terasa.

Kediaman orang tua Gita yang kala itu digunakan sebagai tempat acara lamaran, terlihat sangat berbeda. Banyak bunga-bunga cantik yang mengiasi disetiap sudut rumah tersebut. “Untuk dekor, aku memakai konsep modern dengan tidak banyak mengubah suasana rumahku. Jadi, para pendekor pun hanya menambahkan bunga-bunga untuk menyempurnakan keindahan rumahku,” tutur Gita. Untuk penataan bunga, Gita sengaja request kepada vendor dekor untuk dibuatkan secara grouping. Hal ini dikarenakan, menurutnya penataan bunga secara grouping lebih menojolkan keindahan dari jenis bunga itu sendiri.

Dalam acara lamaran kemarin, Gita lebih memilih mengenakan kebaya sebab dia sangat menyukai sekali kebaya. Secara spesial dia mendesain sendiri kebaya dengan perpaduan warna gold dan hijau dan meminta tolong kepada penjahit dekat rumahnya untuk menjahitkan kebaya hasil rancangannya tersebut. “Memang cukup lama waktu yang dibutukan untuk menjelaskan secara detail konsep kebaya yang aku bikin. Karena secara background dia hanya penjahit bukan special fashion designer. Tetapi aku sangat suka dengan hasil jaitannya dia,” ungkap Gita.

Tantangan yang dihadapi Gita dalam mempersiapkan acara lamaran tersebut, yaitu mencari dan survey satu persatu vendor yang akan digunakan. Gita sangat selektif dalam menentukan vendor-vendor tersebut karena tidak banyak vendor-vendor di Semarang yang bisa mewujudkan konsep dan ide-ide yang dia inginkan. “Aku harus makesure satu-satu untuk mendapatkan hasil yang aku mau karena sebenarnya banyak inspirasi yang aku dapatkan dari vendor-vendor di Jakarta,” tambah Gita.

Sebelum menutup ceritanya, Gita dan Dauz juga memberikan tips kepada para brides-to-be yang sedang mempersiapkan acara lamarannya. Gita berpesan, kalian harus pintar-pintar berkomunikasi kepada semua pihak. Tidak hanya kepada kedua belah pihak saja, tetapi harus bisa mengkomodir keinginan dari kedua keluarga besar. Jadi, untuk memutuskan pilihan, baik vendor atau apapun, kalian harus bisa menyampaikannya dengan baik.