Ocil & Bimo’s Rustic Forest and Earthy Color Tone Wedding

By NSCHY on under The Wedding

Style Guide

Style

Venue

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Bukit Darmo Golf Surabaya

Event Styling & Decor Raindropsdeco

Photography Alinea.

Videography Vaclav Studios

Make Up Artist Terry Jayanti

Wedding Organizer Mazarzo

Master of Ceremony Agustian Pratama

Wedding Entertainment Steffani & Friends

Invitation Bride’s herself

Souvenir Groom’s hisself

Bride's Attire Handmade by Bride’s mom

Others Hampers by Danti Project

“Dulu, aku kuliah sambil kerja. Di tahun 2015, aku ambil cuti untuk fokus menyelesaikan tugas akhir. Ternyata, TA-ku sekelas sama Bimo, dan salah satu mutual friend kita, Fano. Di situ, Bimo deketin aku, dengan bantuan Fano. Mulai dari tiba-tiba ikutan nonton, main ke rumah bareng-bareng, lama-lama deket, dan jadian deh.”

Ocil sebenarnya senior Bimo di kampus, tapi karena TA itulah mereka saling bertemu, berkomitmen, sampai akhirnya di tahun 2017 lalu, Bimo menghadiahkan Ocil dengan sebuah cincin yang ia dapatkan dengan perjuangan, “Bimo nggak ngomong apa-apa pas ngasih cincin, kayaknya sih sebagai tanda keseriusan gitu maksudnya” cerita Ocil.

Karena berasal dari latar belakang yang sama, kuliah desain, Bimo dan Ocil memiliki selera yang kurang lebih mirip. Di hari pernikahannya, mereka sepakat untuk menggunakan adat tradisional agar ringkas.

“Kita mau adat tradisional, playlist sepanjang acara semua permintaan kita. Untungnya, keluarga sangat membebaskan pilihan kita, jadi kita nggak mengalami drama dengan orang tua.” cerita Ocil.

Lucunya, karena terbiasa di pekerjaannya untuk mempresentasikan moodboard ke klien, Ocil dan Bimo sampai membuat presentasi detail ke orang tua mereka mengenai konsep pernikahannya. Itu juga yang mungkin menjadi salah satu keyakinan orang tua masing-masing terhadap pilihannya yang sudah cukup matang. Kata Ochil, “kayak lagi pitching, tapi ke orang tua”.

Rustic forest dengan hiasan kayu, ranting, dan sentuhan alam dan color tone abu-abu, cokelat dan hijau menjadi tema di hari pernikahan Ocil dan Bimo. Pakaian adat Jawa digunakan pada saat akad nikah, sedangkan, tema modern dipilih untuk resepsi.

“Busana pernikahan Bimo sederhana, dari awal, dia emang ingin pakai jas. Kalau aku, seru! Mama mau mendesain bajuku sendiri, jadi kita bikin moodboard, dan keliling cari kain yang pas untuk menentukan model bajunya. Dari awal, aku mau evening dress sederhana dengan detail payet, dan hasilnya cantik!” cerita Ocil.

Sama-sama menjadi anak desain ternyata gampang-gampang susah, karena mereka berdua memiliki banyak referensi dan jadi kewalahan sendiri dengan moodboard yang dibuat.

“Kita berkomitmen untuk membuat sesuatu sendiri untuk pernikahan kita, aku buat undangan pernikahan, Bimo buat suvenir. Soal undangan benar-benar dibuat dengan cinta dan peluh, aku desain sendiri, cetak sendiri, desain bentuk amplop sendiri, packing sendiri, sampai aku seal dan lem pakai baby’s breath sendiri, satu demi satu. Sebelum dilem, aku juga menjemur baby’s breath-nya juga untuk menghasilkan warna kuning kecokelatan” cerita Ocil.

Kalau cerita perjuangan suvenir Bimo, ia sampai harus berulang kali membuat mock up rangka globe agar steady. Dia pun juga harus menggunakan tinta khusus untuk mendapatkan warna yang sesuai, setelah beberapa kali ganti desain, akhirnya Bimo berhasil dengan suvenir buatannya. Bagi Ocil dan Bimo, undangan dan suvenirnya memang apa adanya, tapi berkesan untuk mereka karena bisa berkarya di momen bahagianya.

Bagi Ochil, hari pernikahannya sangat lengkap dan berkesan, mulai dari tamu undangan yang benar-benar menikmati acara, bahkan sampai stay hingga 12 malam karena tempatnya yang asyik untuk ngobrol dan karaokean, sampai video ucapan dari semua orang-orang terdekatnya.

“Yang paling mengesankan lagi, aku hampir masuk UGD H-1 pernikahan karena tiba-tiba demam dan lemas. Katanya, aku overthinking soal pernikahan dan pekerjaan. Di hari H, aku masih baik-baik aja selama akad, tapi menjelang resepsi yang ditemani dengan angin kencang kala itu, badanku kumat lagi. Tapi, karena happy, aku lupain rasanya dan aku coba kuat. Akhirnya, H+1 pun tumbang, dan masuk UGD lagi” cerita Ocil.

Top 3 vendors:

All hail to all vendors! Tanpa vendor-vendor ini, aku benar-benar bisa diopname. Tanpa mereka, acara pernikahanku mungkin kurang seru. Aku dan Bimo juga nggak akan pernah lupa jasa mereka. 80% vendor pilihanku adalah teman sendiri, jadi benar-benar berkesan, prosesnya pun juga ringan.”

Tips untuk brides to be:

“Buatlah detail kebutuhan dan anggaran yang sudah disepakati untuk memudahkan mengetahui hal yang perlu dikerjakan, dan memutuskan vendor yang sesuai dengan anggaran. Kalau sudah dapat vendor, percayakan mereka, jangan paksa diri untuk mengurus semuanya sendiri. Tentukan konsep dari awal dengan jelas, biar semuanya bisa disiapkan segera dan tidak membuang waktu untuk brainstorming saja, karena referensi nggak akan ada habisnya, dan rumput tetangga pasti selalu terlihat lebih hijau. Jangan overthinking dan terlalu mendetail yang kurang perlu, karena hanya membebankan pikiran dan mengganggu kesehatan.”

×