Outdoor Javanese Wedding at De La Rossa Kemang

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue De La Rossa Kemang

Event Styling & Decor Gaia Nata Slara

Photography The Poto Moto

Bride's Attire Sanggar Nani Nazeh

Pemandu Adat Sanggar Nani Nazeh

Seserahan Rose Arbor Seserahan

Others Pop Your Heart (Mahar_

Catering Yvonne Catering

Wedding Organizer Pasoetri Wedding Organizer

Others Bayu Svara Soundsystem

Wedding Reception

Venue De La Rossa Kemang

Event Styling & Decor Gaia Nata Slara

Lighting Pijar Lighting

Photography The Poto Moto

Bride's Attire Inezia Chrizita

Make Up Artist Jasmine Kaligis

Hair Do Chika Wantie

Catering Yvonne Catering

Others Bayu Svara Soundsystem

Wedding Organizer Pasoetri Wedding Organizer

“Kami menjalani hubungan pacaran selama 5 tahun dan sempat backstreet selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Hubungan kami dulu kurang disetujui oleh keluarga Ryo, karena kami punya latar belakang pendidikan yang berbeda. Ryo berprofesi sebagai dokter dan diharapkan keluarganya untuk mempunyai pasangan yang seprofesi juga,” cerita Tiwi memulai pembicaraan dengan tim The Bride Dept. Namun karena Ryo tetap berjuang mempertahankan hubungan mereka dan berkat bantuan adik serta sepupu Ryo maka hubungan mereka akhirnya direstui oleh keluarga besar Ryo.

Ryo dan Tiwi bertemu pada tahun 2009 secara tidak sengaja. Saat itu Ryo sedang menjemput sahabat Tiwi di salah satu mall di Jakarta. Sejak itu mereka intens berkomunikasi dan saling tertarik satu sama lain. Tiwi masih ingat momen dimana Ryo menyatakan perasaannya di mobil saat hujan deras dan macet total. Pada awalnya, Ryo berencana untuk melamar Tiwi di Eropa berbarengan dengan sesi pre wedding mereka. Namun, orangtua mereka tidak mengizinkan ada sesi pre wedding sebelum terjadi pertunangan. Oleh karena itu, proposal dilakukan di depan orang tua mereka, saudara dan keluarga besar. “Menurut saya prosesi lamaran itu berlangsung romantis karena Ryo meminta bertunangan dengan saya langsung di depan keluarga besar saya,” ucap Tiwi.

Sepulangnya dari Eropa di bulan Mei, mereka berdua langsung menyusun budgeting dan konsep pernikahan mereka di bulan November. Tiwi dan Ryo mengaku memiliki tantangan berat dalam pernikahan mereka. Pada awalnya mereka menginginkan konsep acara bertema garden party dan mingle kepada tamu tanpa pelaminan. “Kedua orang tua Ryo sudah berpisah lama dan kami berdua berusaha untuk menghindari konflik yang mungkin bisa terjadi. Akan tetapi Tiwi adalah anak Betawi dan Melayu, juga anak perempuan terakhir. Papi Tiwi tidak setuju dengan konsep tanpa pelaminan karena Papi Tiwi tidak familiar dengan konsep mingle. Beliau ingin menyapa dan berfoto bersama keluarga serta tamu di atas pelaminan,” papar Tiwi. Untuk itu mereka membutuhkan pihak ketiga yang dapat menjadi penengah dan menjabarkan konsep pernikahan, rundown acara serta posisi orangtua dan keluarga pada saat acara tersebut. “Beruntunglah kami menemukan Pasoetri Wedding Organizer. Mereka sempat bingung karena konsep dan vendor semua sudah siap, bahkan ditambah dengan detail budgeting. Tetapi kenapa kami masih membutuhkan bantuan wedding organizer. Akhirnya setelah kami menjelaskan masalah latar belakang keluarga barulah Pasoetri sadar bahwa acara pernikahan kami cukup challenging bagi mereka.

Akad nikah dan resepsi diadakan dalam waktu satu hari agar tidak merepotkan keluarga besar terlebih yang datang dari jauh. Mereka pun membagi resepsi menjadi dua sesi atas dasar konsep acara, kapasitas ruangan dan kapasitas parkir mobil. “Resepsi sesi pertama kami buat untuk tamu orang tua, kolega kerja dan keluarga besar. Disaat resepsi sesi pertama kami dan orang tua menerima tamu di atas pelaminan dengan alunan musik top 40 dan Melayu dari Deasy Natalina yang didatangkan langsung dari Medan,” lanjut Tiwi.

Tiwi dan Ryo melakukan prosesi adat Jawa Solo yakni Panggih seusai melakukan akad nikah. Beberapa prosesi dijalani seperti melempar tujuh sirih berhadapan yang bermakna melempar kasih sayang diantara Tiwi dan Ryo. Lalu dilanjutkan dengan Ryo yang menginjak telur dan Tiwi membersihkan kaki Ryo dengan air bunga. Tiwi juga menjalani puasa Senin-Kamis sebelum acara pernikahan berlangsung. Karena menjalankan adat Jawa maka Tiwi pun di-paes walaupun sebenernya dia agak khawatir dengan hasilnya karena Tiwi merasa keningnya terlalu kecil. “Saat dirias aku diam saja dan pasrah, selain itu aku tidak mau melihat kaca sering – sering. Waktu dimulai aku cuma bisa mengucapkan bismillah. Aku langsung shock saat rambut aku dikikis sama tante Nani supaya paes bisa nempel dan terlihat natural. Tips dari aku untuk para brides to be, sebaiknya jangan sering – sering lihat cermin karena riasan tradisional itu berbeda dengan make up biasa.”

Untuk resepsi sesi keduanya yang dibuat sesuai konsep yang mereka inginkan yaitu mingle dan informal. “Resepsi sesi kedua dihadiri oleh teman – teman terdekat kami yaitu teman masa sekolah, kuliah dan teman sebaya. Pada saat itu kami turun ke dance floor dan menerima tamu disana. Kami membuat suasana resepsi sesi kedua lebih rileks dengan surprise dance dari bridesmaid & groomsmen, open bar free flow drinks dan alunan playlist R&B dari DJ Demmy.” Ide yang bisa ditiru nih brides! Win – win solution bagi orangtua dan pengantin. Tiwi merasa beruntung memilih De La Rossa Kemang sebagai venue pernikahannya yang mendukung konsep pernikahannya dengan full day service untuk penyewaan tempat dan bisa leluasa mengatur konsep, alur tamu serta undangan. Lucunya, Tiwi dan Ryo ternyata memiliki mimpi masa kecil yang sama yaitu menikah di De La Rossa Kemang.

Tiwi lanjut bercerita mengenai wedding dress yang dia kenakan saat resepsi. Awalnya Tiwi sudah mendatangi beberapa desainer namun belum ada yang cocok di hati Tiwi. Sampai akhirnya Tiwi menemukan Inezia Chrizita di Instagram. Tiwi pun langsung pergi menuju butiknya di kawasan Kelapa Gading. “Disana aku coba beberapa dress dan cocok pula semuanya di aku. Makin galau milih dressnya. Tapi semua dress yang aku coba itu tidak berlengan sedangkan keluargaku mostly religious. Akhirnya aku minta ke Inez merubah dress tanpa lengan jadi berlengan panjang dan hasilnya amazing,” jelas Tiwi.

Tiwi berujar bahwa pernikahannya bisa lebih hidup dan meriah karena kehadiran bridesmaid dan groomsmen mereka. Bridesmaid Tiwi merupakan teman SMP, SMA dan kuliah. Begitu juga dengan groomsmen Ryo yang merupakan teman band Ryo beserta manager dan produsernya serta teman kuliah Tiwi yang menjadi sahabat Ryo. “Semua dari mereka baru pertama kali menjadi groomsmen dan selalu ada disaat kita mempersiapkan pernikahan. Bahkan ada beberapa dari mereka yang baru pertama kali  fitting di taylor. Karena memang mungkin jarang ada yang memberikan groomsmen card dan bahan jas untuk seragam groomsmen, ditambah kembaran pocket square, dasi dan mengenakan boutonnière,” cerita Tiwi.

Dance bersama dengan bridesmaid dan groomsmen mereka merupakan highlight dari pernikahan mereka berdua. “Awalnya aku dan Ryo mengundang mereka dengan alasan rapat dengan wedding organizer namun lokasinya di sanggar Nari Nari, Kemang. Di sana sudah ada koreografer dan playlist untuk dance. Mereka kaget dan sempat menolak karena malu harus dance dihadapan banyak orang. Ternyata saat hari H mereka kompak sekali. Salut dengan mereka, keren banget! Sekarang mereka malah bilang mau dance lagi dan belum bisa move on dari acara kita,”kenang Tiwi bahagia.

Tiwi tidak lupa menyisipkan pesan kepada brides to be  untuk jangan ragu dalam menyusun konsep pernikahan berdua dengan pasangan. Pastikan konsepnya bagus dan mempunyai alasan yang kuat mengapa mau memilih konsep tersebut sehingga kita bisa menjabarkan ke keluarga. Terjun langsung dalam persiapannya seperti meeting dengan vendor, memilih color palette untuk seragam dan sebagainya. Pernikahan akan sesuai dengan harapan dan memuaskan bila kita terjun langsung dalam prosesnya. Prinsip kami dalam mempersiapkan pernikahan adalah ‘my wedding, my rule’, so don’t be afraid to make your own dream wedding.”

Top 3 vendors pilihan Tiwi :

1. Gaia Nata Selaras

“Suka sama dekor mereka. Hasilnya benar – benar seperti yang aku mau.”

2. Yvonne Catering

“Catering langganan keluarga sejak kakaki menikah. Orangnya ramah dan makanannya pun tidak pernah mengecewakan.”

3. Pasoetri WO

“Mereka ini nih yang tahu drama keluarga Tiwi dan Ryo dari awal. Kita gak yakin acara kita bakal sukses kalau gak ada Pasoetri. Pasoetri yang sangat memegang peran di balik kesuksesan acara pernikahan Tiwi dan Ryo. Semua team Pasoetri juga ramah, sabar, cekatan dan gercep a.k.a gerak cepat hehehe. Top deh Pasoetri! Keren!”

×