Pernikahan Adat Bali Utari dan Dika

By Vonika on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Holy Matrimony "Ngidih, tukar cincin, & mepamit"

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Bali Yans Decoration

Photography Pixelicious Bali

Make Up Artist Cahaya Dewi Salon

Hair Do Cahaya Dewi Salon

Bride's Attire Mulberry Bali

Catering Warti Buleleng Catering

Holy Matrimony "Upacara Pawiwahan"

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Rai Sarana Dekorasi

Photography Pixelicious Bali

Make Up Artist Cahaya Dewi Salon

Hair Do Cahaya Dewi Salon

Bride's Attire Cahaya Dewi Salon

Catering Jidekoh Catering

Wedding Reception

Venue Sector Sanur

Event Styling & Decor Bali Berdua Wedding

Photography Pixelicious Bali

Make Up Artist Emma Augustine

Hair Do Emma Augustine

Bride's Attire Lyn Prisma

Catering Sector Restaurant

Wedding Organizer Bali Berdua Wedding

Videography Pixel Cinema Bali

Wedding Cake Ixora

Souvenir Metamorf Bali

Others Bapak Bakery (Pastry Corner)

Jewellery & Accessories Hummingbird Road

Dipertemukan oleh seseorang teman dan sama-sama sedang pencari pasangan hidup, rupanya dialami oleh Utari dan Dika. Berawal dari keinisiatifan teman mereka, akhirnya Utari dan Dika bertemu. “Pertemuan pertama kami di Bali. Saat itu aku masih bekerja di Jakarta dan sering bolak-balik Bali saat long weekend. Kami hanya sekedar dinner dan menikmati wine sambil mengenal satu sama lain. Aku orangnya lebih ke pendiam dan mendengarkan, sedangkan Dika orangnya lebih suka bercerita. Kami benar-benar berasal dari background yang berbeda. Aku engineering dan dia entrepreneur. Jadi, pertemuan pertama kami aku lebih banyak mendengarkan cerita dia, dan pura-pura mengerti, hahaha,” cerita Utari.

Umur pacaran Utari dan Dika berjalan selama 1 tahun saja hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Utari mengaku, tidak ada proposal romantis yang Dika persembahkan untuknya. Karena pada dasarnya, Dika bukan tipikal orang yang romantis. “Namun dari awal dia mengajak aku pacaran, dia sudah bilang kalau tidak mau pacaran lama-lama. Cukup setahun saja jika memang tidak ada halangan. Syukurnya, selama kami pacaran tidak ada halangan yang berarti. Jadinya, tercapailah target kami berdua. Waktu itu sekitar awal bulan Agustus, pagi-pagi saat kami sarapan di pinggir pantai dia mengajakku menikah. Kebetulan memang di Bali hari baik untuk menikah adalah September-November,” ungkap Utari.

Persiapan pernikahan Utari dan Dika hanya 3 bulan saja. Mereka mengaku sempat kewalahan dengan jangka waktu yang sangat singkat. “Kami seperti sedang lari marathon dan kejar-kejaran dalam mempersiapkan pernikahan ini. Apalagi aku orangnya sangat detail dan perfeksionis sekali. Jadi, semuanya aku kerjakan sendiri. Mulai dari cari kain bridesmaid dan family, undnagan, souvenir, detail-detail lainnya,” tambah Utari.

Sector Restaurant dipilih oleh Utari dan Dika sebagai venue pernikahan mereka. Hal ini disebabkan mereka memang menginginkan wedding outdoor di atas rumput yang luas. Sector Restaurant bisa mewujudkan impian mereka karena tempat ini memiliki lapangan golf yang memang diperuntukkan untuk wedding. Selain itu, para tamu yang diundang juga hampir semuanya berdomisili di Bali dan Sector Restaurant memiliki akses yang mudah dijangkau dari Denpansar.

Dalam pernikahannya, Utari dan Dika menggunakan adat Bali. Mereka mengakui bahwa banyak sekali prosesi yang harus dilewati. Seperti, prosesi pertama dalam pernikahan adat Bali yang harus mereka lakukan pada tanggal 16 Oktober 2015, yaitu mesedekan. Dalam Bahasa Indonesia, mesedekan artinya proses pendekatan. Suatu acara pertemuan dari kedua belah pihak keluarga yang dilakukan di rumah keluarga mempelai wanita. Acara ini juga biasa disebut mesekenan (memastikan) dan acara ngidih (meminta) yang akan dilakukan setelah prosesi ini.

Prosesi selanjutnya dalam pernikahan adat Bali yang dilakukan pada tanggal 1 November, yaitu acara ngindih (meminta) dan tukar cincin. prosesi ini merupakan upacara di mana mempelai pria dengan rombongan keluarga besarnya datang ke rumah mempelai wanita dengan tujuan meminta izin kepada orang tua mempelai wanita untuk membawa putrinya mengikuti prosesi pernikahan berikutnya di kediaman mempelai pria.

Sebelum berangkat menuju rumah mempelai pria, mempelai wanita melakukan persembahyangan di merajan/sanggah/tempat ibadah rumahnya. Kemudian juga ada upacara mepamit (berpamitan). Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga mempelai wanita, terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu mempelai wanita telah sah menjadi bagian keluarga besar suaminya. Upacara mepamit dilaksanakan di rumah mempelai wanita dengan melakukan persembahyangan terakhir bagi mempelai wanita dirumahnya untuk berpamitan kepada leluhur mempelai wanita. Prosesi ini juga bertujuan untuk memberitahukan kehadapan Hyang Guru dan para leluhur dipihak mempelai wanita bahwa kedua mempelai telah menyatu dalam sebuah upacara perkawinan, serta mohon doa restu agar selalu melindungi perkawinan atau rumah tangga kedua pengantin sehingga selalu dalam keadaan harmonis.

Selain itu, penandatanganan berkas oleh mempelai wanita dan mempelai pria juga dilakukan di sini. Setelah prosesi di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya mempelai wanita dibawa ke rumah mempelai pria. Sebelum memasuki pekarangan rumah mempelai pria, dilakukan upacara mesegehan agung yang tak lain merupakan sebuah ucapan selamat datang kepada mempelai wanita dirumah mempelai pria.

Selang beberapa hari, yaitu tanggal 6 November 2015, Utari dan Dika mengikuti prosesi mekala-kalaan yang dilakukan di kediaman mempelai pria. Upacara makala-kalaan bertujuan untuk penyucian diri. Upacara ini ditujukan kepada bhuta kala, di mana kala ini merupakan manifestasi dari kekuatan kama yang memiliki sifat keraksasaan. Kedua mempelai dipersonifikasikan sebagai kekuatan kala dan kali yang disebut kala nareswari. Upacara makala-kalaan juga disebut upacara bhuta saksi. Dalam pelaksanaan upacara makala-kalaan digunakan beberapa uparengga (peralatan) sebagai pelengkap upacara. Uparengga yang dipergunakan pada upacara makala-kalaan memiliki fungsi adalah sebagai bahasa isyarat kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya dan mengandung nilai-nilai etika yang sangat tinggi dan dalam.

Kedua pengantin duduk menghadapi sarana upakara dengan posisi duduk, yaitu mempelai wanita berada di sebelah kiri mempelai pria. Kemudian kedua mempelai menatap banten (sesajen) bayakawonan dan dilanjutkan dengan malukat (mempercikan tirta suci) dan maprayascita sebagai pembersihan. Selesai natab bayakawonan dan pembersihan kedua mempelai menuju ke tempat mategen-tegenan. Mempelai pria memikul tegen-tegenan sambil membawa sapu lidi tiga biji. Maknanya adalah merupakan simbol Tri Kaya Parisudha. Mempelai pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik, dan pikiran yang baik. Di samping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.

Sedangkan mempelai wanita menjunjung suhun-suhunan. Maknanya adalah melambangkan tugas wanita atau istri mengembangkan benih yang diberikan suami. Diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar. Suhun-suhunan tersebut dibawa berjalan mengelilingi sanggah surya ke arah purwa daksina (arah jarum jam) dengan posisi mempelai wanita di depan mengelilingi sanggah surya sebanyak tiga kali, dan mempelai pria mengikuti mempelai wanita.

Pada setiap putaran, kedua mempelai menendang serabut kelapa (kala sepetan) yang di dalamnya berisi telor, ditutupi dengan serabut kelapa dibelah tiga, dan diikat dengan benang tridhatu. Serabut kelapa berbelah tiga merupakan simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu merupakan simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian. Telor bebek merupakan simbol manik. Kedua Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali. Setelah itu secara simbolis diduduki oleh mempelai wanita. Ini mengandung pengertian apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan Triguna dapat terkendali. Selesai upacara, serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai. Setelah makala-kalaan serabut kelapa tersebut ditaruh di bawah tempat tidur pengantin.

Acara selanjutnya adalah madagang-dagangan. Pada saat madagang-dagangan mempelai wanita duduk di atas serabut kelapa, mengadakan tawar menawar hingga terjadi transaksi antara mempelai pria dan mempelai wanita yang ditandai dengan penyerahan barang dagangan serta pembayarannya. Prosesi ini melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut, seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.

Akhir dari madagang-dagangan adalah merobek tikeh dadakan yang dipegang oleh mempelai wanita dengan kedua tangannya, dan mempelai pria mengambil keris kemudian merobek tikeh dadakan tersebut yang diawali dengan menancapkan keris ke tikeh dadakan. Lalu dilanjutkan dengan mengambil tiga sarana kesuburan, yaitu keladi, kunyit, dan andong, yang kemudian dibawa oleh kedua mempelai ke belakang sanggah kemulan untuk ditanam. Tikar yang diduduki oleh mempelai wanita sebagai simbol selaput dara dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikar adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).

Acara berikutnya adalah mapegat, yaitu memutuskan benang yang kedua ujungnya diikatkan pada dua cabang pohon dapdap. Selesai memutuskan benang kedua mempelai mandi untuk membersihkan diri. Mandi untuk membersihkan diri ini disebut angelus wimoha, yang memiliki pengertian dan tujuan untuk melaksanakan perubahan nyomya dari kekuatan asuri sampad menjadi kekuatan Daiwi sampad atau nyomya kala bhūta nareswari agar menjadi Sang Hyang Smarajaya dan Smara Ratih. Sehabis mandi kedua mempelai berganti pakaian dan berhias untuk melakukan upacara selanjutnya.

Lalu ada Upacara Widhi Widhana / Majaya-Jaya. Upacara widhi widhana/majaya-jaya dilakukan setelah selesai melaksanakan upacara makala-kalaan. Rangkaian upacara widhi widhana /majaya-jaya ini diawali dengan puja yang dilakukan oleh sang pemuput upacara (Pandita/Pinandita). Setelah sang pemuput upacara selesai mapuja,dilanjutkan dengan persembahyangan yang dilakukan oleh kedua mempelai. Sebelum melakukan persembahyangan kedua mempelai diperciki tirta panglukatan dan dilanjutkan dengan tirta prayascita.

Persembahyangan diawali dengan puja trisandya, kemudian dilanjutkan dengan panca sembah. Selesai sembahyang kedua mempelai diperciki tirtha kekuluh dari pemerajan atau pura-pura, dan dilanjutkan dengan memasang bija. Selesai sembahyang dilanjutkan dengan natab banten sesayut (sesayut nganten). Selesai natab banten sesayut, kedua pengantin diberikan tetebus (benang) dan dipasangkan karawista. Setelah memasangkan bija dan karawista dilanjutkan dengan mengucapkan sumpah perkawinan oleh mempelai pria dan mempelai wanitasetelah itu, dilanjutkan dengan upacara majaya-jaya, sebagai peresmian atau pengukuhan pernikahan telah sah menurut Hindu. Siang harinya merupakan acara resepsi pernikahan yang diadakan dirumah mempelai pria. Resepsi pernikahan dihadiri oleh tamu undangan yang merupakan kawan-kawan dari orang tua mempelai.

Temanya garden and intimate party dipilih Utari yang terinsipasi dari wedding Intan Ayu dan Olaf. “Aku suka sekali pemilihan warna di wedding mereka, namun aku pindahkan dari beach front ke garden. Jadi aku pilih warna dan lighting yang warm, serta rundown acara yang tidak terlalu ribet,” jelas Utari.

Berikut ini 3 vendor favorit Utari dan Dika.

1. Bali Berdua Wedding

“Mereka mendengarkan semua keinginan aku dan mewujudkan sesuai budget wise. Pokoknya puas!”

2. Pixelicious Bali

“Mereka bisa capture momen-momen yang pas sehingga hasil fotonya tidak berlebihan dan lebih bercerita.”

3. Emma Augustine

“Mbak Emma ini make up nya sangat detail sekali.

Sebagai penutup, Utari dan Dika juga memberikan tips kepada kalia, loh para bride-to-be.

Tiga bulan preparation itu sangat tidak cukup, kecuali kamu tidak kerja kantoran. Selanjutnya, memilih vendor bukan pekerjaan mudah. Ada beberapa yang tidak mau mendengarkan klien. Maka pilihlah vendor yang tepat, karena vendor merupakan kunci dari suksesnya acara kita. Lalu, tentukan tema sesuai kepibradian masing-masing pasangan, dan yang terakhir, cobalah untuk semakin sabar dan pengertian pada pasangan saat prepare wedding karena drama-drama dan pertengkaran-pertengkaran pasti semakin banyak muncul.

Semoga bermanfaat, ya, brides!

×