Pernikahan Adat Bangka ala Audira dan Rollando

By Septa Mellina on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Hotel Dharmawangsa Jakarta

Event Styling & Decor Airy Designs

Photography The Portrait Photography

Bride's Attire Vera Kebaya

Make Up Artist Nita Kabul

Pemandu Adat Sanggar Ekayana

Resepsi Pernikahan

Bride's Attire Didiet Maulana

Make Up Artist Upan Duvan

Souvenir Studio Skato

Wedding Organizer Artea Organizer

Cerita bahagia kali ini datang dari pasangan Audira dan Rollando. Pasangan yang satu ini membutuhkan waktu sekitar 1 tahun untuk mempersiapkan hari pernikahan mereka. Dalam persiapan tersebut, Audira sempat kembali kuliah ke Melbourne. Jadi, hal pertama yang pasangan ini lakukan adalah menyewa gedung dan memilih wedding organizer. “Selama di Melbourne, saya melakukan skype call dengan WO untuk budgeting dan pemilihan vendor, seperti sanggar, fotografi, dan make up,” kata Audira. Alhasil, persiapan pernikahan baru efektif dilakukan sekitar 8 bulan sebelum hari H setelah Audira pulang dari Melbourne.

Seperti pasangan pengantin pada umumnya, Audira dan Rollando juga mengalami banyak tantangan dalam mempersiapkan hari bahagia mereka. “Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan orang tua dengan konsep yang kami miliki, sampai membuat mood board segala. Dengan komunikasi yang baik, untungnya hal ini bisa diselesaikan. Tantangan kedua adalah mencari attire, headpiece dan susunan budaya Bangka yang pakem. Lucunya, adat Bangka ini berasal dari pihak ibu Rollando, tapi saya justru sangat penasaran untuk meng-explore budaya yang jarang kelihatan ini,” kata Audira.

Awalnya, Ibunda Rollando sempat ragu karena beliau pun kurang memahami tata cara dan pakem budaya Bangka. Pasangan ini bahkan sampai pergi ke Bangka untuk menemukan jawabannya. Sayangnya, mereka nggak menemukan jawabannya karena banyak tata cara yang sudah dimodifikasi. Akhirnya, Audira, ibunya, beserta Mas Didiet Maulana melakukan riset sendiri. Audira dan Ibunya mencari perajin yang akhirnya membantunya membuat paksian (hiasan di dahi), hiasan headpiece, gelang, dan sebagainya.

Untuk prosesi adat, pasangan ini melakukan beberapa ritual. Untuk Rollando, ia melakukan pengajian dan upacara adat upah-upah (upacara tepung tawar). Sementara Audira melakukan pengajian, siraman, dan ngeuyeuk seureuh. Pasangan ini juga ternyata punya pengalaman berkesan dengan prosesi adat yang mereka lakukan.

“Untuk saya, prosesi siraman adalah yang paling berkesan. Sebelum siraman saya “dijemput” oleh mama dan papa saya. Mama saya mengikatkan kain di badan saya, sementara papa membawa pelita (lilin). Kami berjalan di atas 7 kain yang dijajarkan panjang. Kain yang dililitkan di badan saya oleh ibu melambangkan bimbingan ibu; lilin yang papa bawa melambangkan penerangan dan bimbingan untuk saya,” Audira menjelaskan.

Setelah itu, Audira duduk di pangkuan orang tuanya yang kemudian dilanjutkan dengan prosesi ngaras atau permohonan maaf kepada orang tua. Prosesi pun berlanjut dengan mencuci kaki orang tua, siraman, pengerikan atau membersihkan bulu-bulu halus di sekitar wajar dan leher, parebut parawanten, berebut bebetian atau berebut kacang-kacangan, ubi, dan hasil tanah lainnya, serta parebut hahampangan atau berebut makanan ringan. Upacara ini dimaksudkan agar calon pengantin lancar rejekinya, cepat mendapat keturunan dan selalu berfikir positif bila ada masalah dalam rumah tangganya. Ada pula prosesi suapan terakhir dari orang tua dan tanam potongan rambut.

Prosesi lainnya yang nggak kalah berkesan adalah ngeuyeuk seureuh, di mana kedua keluarga besar dipertemukan sebelum akad nikah. “Menurut kami, prosesi ini berkesan karena di sana keluarga kembali menyambung silaturahmi dan seperti ice breaker agar hubungannya lebih kekeluargaan, akrab dan tidak kaku,” kata Audira.

Di upacara ini, Audira dan Rollando mendapatkan banyak nasihat untuk bekal hidup kami ke depannya agar kami selalu rukun, saling menyayangi dan sebisa mungkin jauh dari perselisihan. “Menurut kami upacara-upacara adat ini sangat berkesan dan menyimpan banyak sekali makna yang baik. Ini bisa memberikan bekal untuk kami dalam menjalani hidup setelah pernikahan,” kata Audira.

Di hari pernikahannya, pasangan ini mengusung nuansa tradisional yang tetap modern. Untuk akad nikah, misalnya, Audira tetap memilih warna putih untuk pakaian yang kenakan. “Modelnya tetap Sunda klasik, namun saya mau sedikit berbeda. Jadi saya memilih bahan lace. Biasanya kan hanya motif bunga atau swirl, tapi saya lebih fokus dengan motif daun yang lebih besar dan tegas dan ditambah aksen spider web yang unik di bagian lengan,” katanya.

Konsep tradisional yang kental membuat pasangan ini tak mau melewatkan satu prosesi adat pun, mulai dari huap lingkung yakni suapan dari orang tua dan suami istri, pabetot bakakak, saweran, meuleum harupat, nincak endok dan ngaleupas manuk japati. Pakaian adat Sunda pun mereka kenakan lengkap sesuai adat.

“Untuk resepsi saya memilih konsep Bangka dan peranakan, karena Bangka masih kental juga dengan adat peranakan. Tone warna terinspirasi dari jewel tones. Maka saya memilih emerald green sebagai baju pernikahan saya. Warna ini di luar kebiasaan baju adat Bangka yang umumnya merah atau ungu. Sementara dekorasi terinspirasi dari red ruby, seragam untuk bridesmaids saya pilih warna sapphire blue,” Audira menjelaskan.

Pasangan ini juga menggunakan detail chinoiserie untuk membuat kesan unik tanpa meninggalkan esensi tradisional budaya Bangka, misalnya adanya tudung saji dan ketupat yang biasa dipakai dalam upacara adat Bangka. “Saya juga meminta diputarkan lagu-lagu tradisional Melayu Bangka di pintu masuk agar tamu-tamu yang hadir bisa langsung merasakan vibe-nya,” Audira menambahkan. Saat kedua mempelai ini memasuki ruang resepsi, keduanya juga diiringi 12 orang laki-laki penabuh rebana dan disambut dengan Tari Sambut Bangka dan ditutup dengan Tari Senapelan. Audira mengaku mendapat inspirasi dari jalan-jalan ke museum, riset dari buku dan internet, serta berdiskusi.

Dari serangkaian prosesi adat dan kemeriahan resepsi, pasangan ini mengaku momen ijab kabul menjadi highlight dari hari pernikahan mereka. “Moment ijab kabul berjalan lancar dan khidmat tanpa pengulangan. Melihat kerja keras serta harapan kami dalam acara pernikahan ini menjadi kenyataan benar-benar membuat kami senang. Yang terakhir, melihat souvenir pernikahan menjadi kenyataan dan sesuai harapan. I put a lot of effort to create it, membuat resep-resepnya sendiri, memasak semua makanan-makanannya, turut menata fotografinya bersama Studioskato. Kami sangat beruntung karena Studioskato benar-benar mengerti konsep yang aku inginkan untuk recipe book itu. Semuanya jadi sangat berkesan ketika tamu yang hadir ikut senang dan menghargai kerja keras kami,” pungkas Audira. 

Top 3 vendor pilihan Audira & Rollando:

Artea Organizer

“Senang banget ketemu dengan orang-orang yang passionate about wedding and also compassionate. Kerjanya cekatan, very detailed and thorough, sangat sabar dan pengertian. They gave us peace of mind, our worries diminished, hence more happy faces!”

Airy Designs

“Yang mewujudkan keinginan-keinginan kami dan keluarga, sangat pengertian dan hasil kerjanya sudah gak diragukan lagi.”

Didiet Maulana & IKAT Indonesia

Service-nya sangat baik, kerjanya on time, senang sekali bertemu Mas Didiet dan tim yang sama-sama mencintai adat dan budaya Indonesia. Thank you sudah berhasil membuatkan baju emerald harapanku!”

Kepada The Bride Dept, pasangan serasi ini membagikan tips untuk para brides-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahan. “Bekerjalah sesuai plan, punya to-do list, dan jangan bekerja last minute. Maintain terus komunikasi yang baik dengan semua pihak yang berperan dan jangan lupa mendelegasikan tugas dengan jelas. Percayakan tugas itu dengan orang yang bersangkutan. Kita juga harus ikhlas dan positive thinking, agar nantinya muka kita nggak keliatan tegang, aura kita nanti juga akan keluar sendirinya, dan jauh dari rasa anxious jadi kita bisa lebih enjoy ngejalanin acaranya,” pungkas Audira.

Congrats Audira and Rollando, we wish you an eternal marriage!