Pernikahan adat Jawa Dita Tommy Rumah Ranadi

Pernikahan Adat Jawa ala Dita dan Tommy di Rumah Ranadi

Style Guide

The Vendors Who Made This Happen

Akad Nikah
Resepsi

Dita dan Tommy bertemu dan saling mengenal karena mereka bekerja di tempat yang sama. Meskipun saat itu Dita sedang didekati orang lain, Tommy tak langsung putus asa, tetapi justru mengajak Dita kencan di sebuah restoran. Di sana, Tommy mengutarakan isi hatinya untuk bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan Dita.

Karena ditantang untuk membuktikan ucapannya, tak lama setelah pertemuan itu, Tommy langsung melamar Dita ke orangtuanya. Melihat kesungguhan Tommy, Dita pun meleleh dan acara pernikahan segera dipersiapkan.

Lokasi dan Dekorasi

Dita dan Tommy memilih Rumah Ranadi sebagai venue acara. Konsep dekorasi yang mereka pilih adalah rustic dipadukan dengan adat Jawa dengan dominasi warna merah maroon dan gold dengan sentuhan biru navy. “Kami memilih tema ini karena ingin menampilkan kesan tradisional, tetapi tetap modern. Didukung dengan kehadiran joglo dan interior Rumah Ranadi yang sudah diramaikan oleh kursi-kursi bemo, kami hanya menambah detail rustic di bagian spot untuk foto dan entertainment.”

Detail favorit Dita adalah meja display foto di pintu masuk. Di sana, mereka menempatkan foto prewedding beserta foto almarhum kakek dan nenek mereka saat masih muda. “Tujuannya, kami juga ingin mereka tetap ada di hari pernikahan kami. Ini juga sebagai nostalgia untuk keluarga jauh yang datang di pernikahan kami.”

“Kami sengaja tidak memakai vendor khusus untuk photobooth. Kami memilih untuk meminta bantuan dari beberapa bridesmaids untuk mengambil foto para tamu dengan menggunakan kamera polaroid. Jadi, hasilnya bisa kami simpan dan pajang di rumah kami nanti sebagai kenang-kenangan,” jelas Dita.

Prosesi Adat

Prosesi adat Jawa yang dilaksanakan difokuskan pada hari-H, yaitu Upacara Adat Panggih yang dimulai dengan penyerahan Pisang Sanggan, Lempar Sirih, Ngidak Endhog, Sindur dan Timbangan, Kacar-Kucur, Dulangan, Mapag Besan, hingga Sungkeman.

“Karena aku berasal dari keluarga campuran Batak dan Jawa (yang tidak terlalu kental), aku ingin sekali merasakan “darah” Jawa-nya. Untungnya, penganten pria asli berasal dari Jawa. Jadi, kami langsung klop dan setuju menjalankan prosesi adat Jawa. Meskipun ayahku agak kaku, tetapi beliau cukup senang dan puas menjalankan prosesi adat Jawa untuk pertama kalinya,” kisah Dita.

Karena sempat melihat foto pernikahan Ayah dan Mama-nya yang mengenakan pakaian Jawa, Dita sejak kecil ingin dipaes di hari spesialnya itu. Baginya, pengalaman tersebut sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. “Senang sekali karena Ibu Liza ternyata bisa merias pada tanggal yang kami tentukan. Saat hari-H, aku sangat deg-degan karena mataku minus cukup tinggi dan saat dirias masih belum memakai softlens.”

Selain itu, Dita juga agak shock ketika rambutnya dicukur sana sini. Ia panik membayangkan penampilannya jika riasannya sudah dihapus. Namun, setelah dirias dan dipaes, ia merasa senang sekali karena hasilnya super duper bagus dan manglingi.

Berikut adalah top 3 vendors rekomendasi Dita:

  1. Jumah Cenik

“Mbak Khombe sangat tidak perhitungan. Dari awal ketemu, aku langsung seneng banget dengan orangnya yang ramah dan kreatif. Kalau dibandingkan dengan vendor lain, mereka menawarkan paket-paket. Paket A dapat ini, paket B ini. Which is nggak make sense aja buat aku. Jumah Cenik bener-bener bisa provide apa pun yang kami butuhkan tanpa biaya tambahan. Mbak Khombe sangat fleksibel untuk mewujudkan keinginan kami.”

  1. Imagenic

“Kami puas bukan cuma karena hasil foto yang nggak perlu diragukan, tapi crews-nya juga. Dari awal foto prewed, mereka udah nyambung banget sama kami. Karena kami bener-bener bukan pasangan yang bisa mesra, mereka pun fine dan nggak maksa kami untuk berpose romantis. Jadi, selama prewed, kami merasa nyaman banget karena bisa menjadi diri sendiri.”

  1. Sanggar Liza

“Menurutku, perias pengantin itu harus orang yang berpengalaman dan itu adalah Ibu Liza. Hasil riasnya bener-bener manglingi dan nggak membuat pengantin seperti orang lain. Jadi, bisa menampilkan the best side of the bride. Selain makeup, customer service-nya sangat helpful dan bener-bener bisa menampung keinginan penganten wanita maupun keluarganya. Ini adalah kali kedua keluargaku memakai Sanggar Liza. Untuk adikku nanti, sudah pasti kami akan pakai itu lagi.”

Menurut Dita, highlight pernikahan mereka terletak pada ambience-nya. “Karena venue yang kami pilih tidak terlalu besar, suasana pernikahan pun terasa hangat dengan kehadiran tamu-tamu yang mayoritas keluarga dan kerabat dekat.”

Selain itu, momen yang dianggap paling berkesan adalah saat throwing flower bouquet. Sebenarnya, ini merupakan tradisi yang biasa dilakukan pada saat pernikahan. Namun, Dita membuatnya lebih spesial dengan mengejutkan teman-teman terdekatnya yang masih single.

Alih-alih melemparkan bouquet pada hitungan ketiga, ia justru membalikkan badan, menghampiri teman-temannya, dan membagikan bouquet kecil. “Ini pertanda doa supaya mereka cepat menyusul serta penghargaan bagi mereka yang selalu ada dari saat aku masih remaja hingga menyiapkan pernikahan ini dan pastinya untuk seterusnya.”

Untuk para brides to be, Dita berpesan, “Pernikahan hanya sekali seumur hidup. Lakukan apa yang benar-benar ingin kamu lakukan. Jangan termakan gengsi karena pernikahan orang lain atau mengesampingkan kemauan dari pihak keluarga.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *