Pernikahan Adat Karo ala Lidya dan Indra

Style Guide

The Vendors Who Made This Happen

Pemberkatan
Acara Adat
Resepsi

Selama ini banyak orang yang tahu bahwa suku dari Sumatera Utara hanya suku Batak Toba saja, padahal ada juga suku yang lain seperti Mandailing, Angkola, Simalungun, Pakpak dan Karo. Suku dari tiap daerah di Sumatera Utara ini memiliki bahasa, adat dan tata cara pernikahan yang berbeda-beda. Satu hal yang sama dari pernikahan tiap suku ini adalah jumlah tamu yang cukup banyak dan prosesi adat yang panjang. Pernikahan adat Sumatera Utara juga identik dengan warna-warna yang meriah seperti warna merah. Kali ini, The Bride Dept akan mengulas pernikahan Lidya dan Indra yang berasal dari suku Karo.

Lidya dan Indra merupakan teman satu gereja yang saling dikenalkan saat ada acara keluarga di rumah Lidya.  “Aku paling males dikenalin gitu sebenarnya, jadi pas kenalan di depan banyak orang super awkward,” kata Lidya. Berawal dari perkenalan itulah mereka semakin dekat dan di satu momen mereka sempat bicara serius tentang hubungan mereka. Setelah itu Indra izin kepada orangtua Lidya dan mereka segera mengadakan pertemuan orangtua. “No sweet proposal at all! Padahal aku sudah kode, tetapi Indra tetap saja gak sadar hahaha,” tambah Lidya.

Rangkaian acara pernikahan digelar selama tiga hari. Hari pertama adalah pemberkatan dan dilanjutkan prosesi adat di hari kedua serta ditutup dengan resepsi di hari ketiga. Untuk menjaga stamina dalam menjalani setiap acara, Lidya dan Indra bersama-sama melakukan suntik vitamin C seminggu sebelum hari H. Hal itu membuat mereka fit sampai akhir acara.

Prosesi adat sudah dimulai sejak perkenalan keluarga. Diawali dengan Nungkun Kata yaitu diskusi antara kedua belah pihak keluarga mengenai persiapan acara adat. Lalu Mbaba Belo Selambar yaitu prosesi lamaran dimana keluarga besar pria mendatangi pihak wanita. Pada acara lamaran ini jumlah tamu yang datang cukup banyak yakni sekitar 500-800 orang. Yang khas dari acara lamaran Suku Karo adalah dimana ketika lamaran sudah diterima oleh pihak keluarga perempuan, maka calon pengantin pria dan wanita harus menyanyi dan menari berdua atau disebut Landek. Terakhir adalah prosesi Kerja Adat yaitu pesta adat pada saat hari H. “Prosesnya sangat panjang mulai dari Runggu yaitu diskusi antara keluarga pengantin pria dan wanita, Landek, pemberian nasihat-nasihat dari keluarga sampai yang terakhir ditutup dengan Mukul, dimana pengantin harus makan sepiring berdua,” ujar Lidya.

Sehari sesudah pesta adat, acara resepsi pun digelar. Lidya mengaku bahwa untuk urusan dekorasi, dirinya cukup dibuat bingung. Karena awalnya, Lidya ingin sekali pernikahan dengan konsep garden dengan nuansa seperti di hutan namun Indra kurang setuju. Akhirnya mereka sepakat untuk membuat konsep seperti halaman rumah dimana pelaminan dibuat seperti rumah yang dihias dengan jendela-jendela kaca dan rangkaian bunga. Sedangkan untuk ruangan ballroom dan foyer disulap seperti halaman rumah dengan pohon dan daun-daun. Untuk photobooth, Indra memajang koleksi vinyl miliknya serta gramophone yang mereka beli khusus untuk detail dekorasi.

Untuk wedding attire, Lidya menyiapkan kurang lebih enam bulan sebelum hari H. Untuk hal ini Lidya tidak mau terlalu banyak permintaan karena sudah percaya kepada vendor yang ia pilih. “Dari awal aku sudah yakin sekali kalau untuk acara lamaran dan adat buat bajunya di Mbak Vera. Setelah ketemu dengan Mbak Vera, aku cuma kasih tahu desain yang aku mau dan untuk detail serta lainnya aku pasrahkan ke mbak vera. Songket dan Uis Nipes-nya, karena aku dan mama mau yang benar-benar khas Karo, jadi kita percayakan ke Merdi Sihombing. Semua songket aku, mama dan mama mertua semua designed by Merdi Sihombing. Untuk design-nya pun aku pasrahkan ke Merdi karena beliau pasti lebih mengerti. Sama halnya untuk wedding dress, aku cuma bilang untuk holy matrimony aku maunya warna off white dan resepsi berwarna navy blue. Aku juga berikan contoh model yang aku mau secara garis besar,” cerita Lidya.

Ada satu momen dimana Lidya sekuat tenaga menahan haru karena ia tidak ingin menangis, yaitu saat dirinya walking down the aisle bersama papa tercinta. Momen ini memang selalu mengharukan untuk semua brides ya! “Be wise in choosing wedding vendors. Pilih yang benar-benar cocok dengan konsep kita dan yang en\ak untuk diajak komunikasi,” kata Lidya sebagai tips untuk para brides to be.

Top 3 vendor pilihan Lidya :

1. Vera Kebaya

“Mbak Vera orangnya super baik dan ramah, dan untuk hasil design-nya tidak perlu diragukan lagi. Aku dan mama sangat puas!”

2. Petty Kaligis

Makeup dengan Kak Petty bawaan-nya happy dan bercanda terus, hehehe dan hasil make up-nya flawless seharian tanpa touch up!”

3. Iluminen

“Salut sama kesabaran Indra dan tim mengikuti seluruh rangkaian acara pernikahan aku dan indra yang super panjang dan momen-momen di tiap acara juga tidak ada yang terlewat satupun dan hasilnya memuaskan.

One thought on “Pernikahan Adat Karo ala Lidya dan Indra

  1. Perfect,
    Pernikahan yang sakral, dibubuhi budaya karo yang begitu kental dalam keanggunannya (bhs karo metunggung/beradat).
    Selamat beru karo.
    GBU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *