Pernikahan Adat Melayu dan Mandailing ala Amira dan Cheta

By Vonika on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Zahdi Décor

Photography Kunci Langit Fotografi

Make Up Artist Irene Chandra

Hair Do Irene Chandra

Bride's Attire Monalisa

Catering Evie Mongi Catering

Jewellery & Accessories Zahdi (Adat Melayu)

Wedding Reception

Venue Santika Dyandra Premier Hotel Medan

Event Styling & Decor Sehat Decor & Art Design

Photography Ferry Dhyka

Bride's Attire Windy Chandra

Make Up Artist Irene Chandra

Hair Do Irene Chandra

Catering H & Co

Perbedaan usia 7 tahun rupanya tidak menjadi hambatan yang berarti bagi Amira dan Cheta. Keduanya sama-sama saling mengisi dan menyayangi. “Cheta itu lebih senior dari aku. Aku pertama kali ketemu dia ketika kami sedang jalan-jalan sore. Kesan pertama aku melihatnya, yaitu dia tipe orang yang serius dan cool, sedangkan aku orangnya sangat cuek,” ujar Amira. Setelah itu, keduanya pun berkenalan. Tidak jarang Amira dan Cheta pergi bersama, meskipun hanya sekedar ngobrol. “Awalnya kami hanya berteman, tetapi aku dan Cheta sama-sama merasa cocok. Lalu akhirnya kami pun memutuskan untuk berpacaran,” terang Amira.

Usia pacaran Amira dan Cheta baru berjalan 5 bulan. Namun, dari awal pacaran keduanya memang sudah komitmen untuk menjalani hubungan ini dengan serius. Tidak disangka-sangka, Cheta pun menunjukkan komitmen-nya tersebut dengan melamar Amira.“Cheta bukan tipe orang yang romantis. Aku masih ingat sekali pembicaraan kami diawal pacaran tentang pernikahan dan komitmen menjalani hubungan ini dengan serius. Namun, setelah beberapa bulan kami berpacaran, tiba-tiba dia dan orang tuanya datang ke rumah tanpa sepengetahuan aku. Ketika itu aku belum pulang kerja dan baru sampai rumah malam sekali. Tetapi, dia sudah duduk dan ngobrol-ngobrol­ dengan orang tuaku,” cerita Amira.

Untuk mempersiapkan pernikahan adat Melayu dan Mandailing ini, Amira dan Cheta membutuhkan waktu sekitar 6 bulan saja. Keduanya mengaku memiliki tantangan dalam menentukan konsep pernikahan. “Karena kami berasal dari adat yang berbeda, jadi penggabungan adat-adat tersebut cukup menantang. Akhirnya kami memutuskan untuk menggabungkan adat Melayu dan Mandailing dalam prosesi akad nikah dan dilanjutkan malam harinya pesta resepsi,” tutur Amira.

Dalam dekorasi akad nikah, Amira dan Cheta menggabungkan dua adat, yaitu adat Mandailing dan Melayu. Dekorasi adat Mandailing terletak pada alas duduk yang berupa tikar bertingkat. Mulai dari tingkat 1 hingga 9. Alas tikar ini menunjukkan posisi seseorang dalam suatu keluarga. Semakin tinggi posesinya, semakin banyak lapisan alas tikarnya. Selanjutnya terdapat adat Melayu pada dekorasi pelaminan. Untuk di belakang pelaminan terdapat hiasan tangga bertingkat 7 yang melambangkan 7 lapis langit di mana kedua pengantin berada. “Keseluruhan dekor kami memilih warna netral yang dikombinasikan dengan warna emas dan sedikit biru muda. Sedangkan untuk resepsi kami memilih tema internasional dengan style gedung-gedung tua yang didominasi warna cream dengan aksen coklat dan gold,” Jelas Amira.

Dalam rangkaian pernikahan, Amira dan Cheta lebih banyak menjalankan adat Melayu, contohnya seperti, tepak sirih. Tepak sirih adalah prosesi di mana kedua pengantin harus memilih dan mengambil isi tepak tersebut. Di dalam tepak tersebut ada lima barang yang melambangkan kehidupan rumah tangga, seperti garam, gula, jahe, buah delima, dan bawang putih. Selanjutnya, yaitu prosesi tepung tawar. Prosesi ini dilakukan sebagai simbol pemberian doa restu dan selamat dari keluarga inti. Lalu yang ketiga dan yang paling seru menurut Amira adalah nasi hadap hadapan. Dalam prosesi ini, Amira dan Cheta harus memperebutkan beberapa barang, mulai dari permen hingga ayam. Prosesi ini dilakukan sebagai gambaran siapa yang lebih pintar mencari rezeki dan kelak akan memimpin keluarga.

Pernikahan Amira dan Cheta semakin sempurna dengan busana pengantin yang mereka kenakan. “Aku dan Cheta memakan pakaian adat Melayu Tanjung Pura. Pakaian ini terbuat dari kain sungkit yang didesign menjadi baju kurung Melayu. Aku memakai crown khas Melayu yang berbentuk seperti topi dan veil jika dilihat dari belakang. Sedangkan Cheta, selain menggunakan hiasan kepala, dia juga memakai buckle tali pinggang yang disebut pending. Setiap Kesultanan Melayu memiliki ukiran pending yang berbeda-beda,” ucap Amira.

Jika ditanya apa yang menjadi highlight pernikahan adat Melayu dan Mandailing ini, Amira menjawab ketika dia dan Cheta harus menari adat. “Kami hanya berlatih satu kali saja dengan salah satu tetua dari adat tersebut. Di saat mereka mengajarkan kami, mereka berbicara menggunakan bahasa daerah, jadinya aku dan Cheta hanya berdiri dan menunggu hasil translate bahasa tersebut,” ujar Amira.

Untuk menutup cerita, Amira juga memberikan tips untuk para bride-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahan. “Persiapan pernikahan sebenarnya tidak terlalu extrim yang dipikirkan. Asalkan kamu dan pasanganmu saling support dan jangan panik. Semakin lama waktu persiapan menuju hari H, biasanya akan semakin matang dan bisa menata budget dengan baik,” tutup Amira.

Selain cerita, Amira dan Cheta juga membagi 3 vendor favoritnya, brides.

1. Windy Chandra

Aku suka sekali sama dress yang aku pakai. Windy juga sangat ramah dan membantu aku sekali. Sampai-sampai dia mengajari aku cara berjalan dan memegang hand bouquet.

2. Taipan

Makanan dari Taipan benar-benar enak sekali. Staff-nya juga ready di tempat sehingga makanan di acara resepsi tidak pernah kosong.

3. Indra Leonardi

Foto pre-wedding ini sangat seru sekali. Kami berdua suka sekali hasil fotonya yang klasik dan timeless.

×