Pernikahan Adat Palembang Yang Sweet dan Penuh Kejutan

Style Guide

Venue Hotel

The Vendors Who Made This Happen

Akad Nikah
Resepsi Pernikahan

Kisah cinta Diny dan Uta berawal dari kegemaran dan ketertarikan mereka akan hal yang sama yaitu fotografi. Telah saling mengenal sejak lama dan sering bertemu karena memiliki teman-teman yang sama, mereka awalnya tidak pernah ngobrol dan tidak memiliki ketertarikan satu sama lain, sampai suatu hari di acara makan siang bersama teman-teman, Uta menyampaikan ketertarikannya kepada Diny kepada salah satu teman mereka yang bernama Tika.

Tanpa mengetahui apapun kalau Uta sudah diam-diam suka kepadanya, saat Diny sedang berada di dalam mobil salah satu temannya, ia menemukan kamera SLR milik Uta di mobil tersebut. Tidak tahu bahwa kamera tersebut milik Uta, ia langsung saja mencoba mengambil foto sambil mengutak-atik kamera tersebut. Belakangan baru ia tahu kalau kamera tersebut milik Uta saat diberi tahu oleh temannya.

Tepat tanggal 8 Desember 2010, Diny dan Uta sama-sama menghadiri acara birthday surprise salah satu teman mereka. Pertemuan itu berlangsung tanpa adanya obrolan sama sekali diantara mereka berdua. Tapi karena Diny perlu menanyakan sesuatu tentang kamera dan teman mereka Tika, yang ternyata sengaja ingin mengatur agar mereka saling ngobrol, menyarankan Diny untuk meng-add BBM Uta. Sejak saat itu, komunikasi diantara mereka berdua mulai terjalin rutin sampai saat ini, dan mereka juga menemukan banyak kesamaan yang bukan hanya soal fotografi tapi juga soal selera musik, fashion, dan juga visi dalam hidup.

Memiliki keinginan yang cita-cita yang sama untuk fokus dan serius menggeluti dunia fotografi, akhirnya Diny dan Uta memutuskan untuk membangun usaha bersama dan berhasil melahirkan Tala (@tala.img) yaitu brand fotografi yang juga merupakan wujud dari passion mereka berdua. Tala berhasil menjadi media mereka mewujudkan ide kreatif dan tentunya juga membuat hubungan mereka berdua semakin kuat dan selalu berwarna.

Setelah enam tahun menjalankan hubungan pacaran, Diny dan Uta akhirnya memutuskan untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius dan mulai merencanakan untuk menikah. Saat ditanya mengenai adakah romantic proposal dari Uta, Diny menjawab tidak ada. Menurut Diny, semua berjalan secara alami saja diantara mereka berdua sampai akhirnya mereka berdua yakin dan siap untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Seluruh proses persiapan dilakukan selama kurang lebih delapan bulan tanpa ada hambatan berarti, dan tanpa ada drama atau kendala yang berarti. Menurut mereka, tantangan terbesar dalam mempersiapkan acara mereka hanya saat melakukan kordinasi dengan vendor, namun itu semua tetap dapat ditangani dan diselesaikan dengan baik oleh semua pihak.

Untuk acara resepsi pernikahan, Diny dan Uta memutuskan untuk mengangkat adat dan budaya dari masing-masing keluarga. Keluarga Diny berasal dari Yogyakarta – Betawi sedangkan keluarga Uta berasal dari Palembang – Semarang, sehingga mereka memutuskan untuk menggunakan adat Yogyakarta untuk keseluruhan susunan acara Akad Nikah, dan adat Palembang Komering Ulu untuk acara resepsi pernikahan mereka.

Seperti adat Sumatra lainnya, tantangan terbesar untuk pengantin dalam menggunakan adat Palembang adalah hiasan kepala atau headpiece yang biasanya lumayan berat dan terkadang membuat pengantin wanita menjadi sakit kepala. Selain itu khusus untuk adat Palembang Komering Ulu, headpiece yang dikenakan berukuran sedikit lebih besar dari model lainnya. Walaupun besar, Diny mengaku tidak terlalu kesulitan menggunakannya karena tusukan sunting lumayan besar dan tidak terlalu banyak. “Sunting relatif terasa berat setelah dipakai beberapa jam, tapi tips aku dalam memakai headpiece yang besar adalah jangan terlalu dipikirkan!” ujar Diny. Secara umum, keseluruhan pakaian yang dikenakan baik oleh Diny maupun Uta sangat simple dengan warna-warna subtle yaitu champagne. Untuk menambah kesan mewah dan cantik, pakaian mereka juga dihiasi dengan mutiara dan Swarovski, ditambah dengan penggunaan songket emas yang sudah digunakan oleh keluarga secara turun temurun.

Untuk dekorasi, Diny dan Uta tetap mengangkat tema simple. Dekorasi difokuskan pada pelaminan dengan panjang mencapai 28 meter dan dibuat mirip sekali dengan rumah adat Palembang berwarna emas, coklat dan tentunya champagne. Unutk dekorasi Diny dan Uta mempercayakannya kepada tim Suryo Decor yang sangat membantu merencanakan dan menentukan tema dan model dekorasi sesuai keinginan Diny dan Uta, yaitu simple dan berkesan luas sehingga seluruh tamu yang hadir merasa nyaman. Uniknya, dekorasi juga dikombinasikan dengan beberapa pojokan bergaya Palembang yang disiapkan oleh Mahkota Sriwijaya.

Bagi Diny dan Uta, seluruh momen pernikahan mereka sangat berkesan dan tidak terlupakan. Beberapa yang paling berkesan diantaranya saat sepupu-sepupu mereka memberikan kejutan dengan memainkan lagi yang sangat bagus menggunakan Ukulele, lalu adik Diny yang juga seorang sutradara film membuat video keluarga Diny dan Uta yang sukses mengundang haru dan membuat Diny menangis. Kemudian yang paling berkesan adalah kejutan dari Papa mertua Diny, yaitu Papa Uta, yang mendatangkan Kahitna tanpa memberitahu siapapun termasuk wedding organizer acara, “surprise yang sangat rapi dan memorable!,” kenang Diny.

Berikut top 3 vendor pilihan Diny dan Uta:

1. Olis Herawati

“Mba Olis benar-benar menyulap muka aku menjadi luar biasa cantik tanpa membuat aku terlihat seperti orang lain. Makeup Mba Olis membuat muka aku memancarkan aura pengantin yang dipuji ratusan tamu yang datang malam itu. Makeup aku benar-benar flawless dan super detail. Mba Olis juga on time dengan dibantu oleh Mba Yanti sang asisten yang super cepat merespon semua keinginan aku.”

2. Fitri Alamsjah

“Fitri adalah desainer muda yang super talented. She listens to what we want dan super helpful. Hasilnya sangat sesuai dengan keinginan aku. Kombinasi mutiara dan swarovski membuat kebayaku elegan dan penempatannya sesuai dengan selera aku. Dan satu hal yang luar biasa banget dari Fitri sebagai vendor adalah dia tidak hitung-hitungan! Sangat membantu sekali dalam proses persiapan pernikahan yang super hectic itu! Thanks Fit!”

3. Mahkota Sriwijaya

“Mahkota Sriwijaya sebagai sanggar Palembang sangat mengerti detail dan pakem adat Palembang khususnya Komering Ulu. Namun, tidak seperti sanggar lainnya yang kaku dan kadang tidak fleksibel, Mahkota Sriwijaya bisa menyeimbangkan keinginan klien dengan pakem yang berlaku. Tante Ama, salah satu pemilik sanggar, sangat helpful mulai dari persiapan lamaran (kami memakai prosesi Nyawak pada saat lamaran) sampai penyediaan dekorasi resepsi, penyediaan penari Tanggai (yang mencapai 20 orang penari) hingga pemakaian headpiece yang tidak biasa itu.”

Tidak lupa, Diny juga memperikan tips khusus untuk brides-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahannya.

“Untuk para brides-to-be yang sedang mempersiapkan acara pernikahan, persiapkan semua dengan matang dan tenang. Pilihlah vendor yang memiliki ulasan yang bagus dan jangan hanya memilih vendor yang murah atau vendor yang super terkenal sekalipun. Carilah vendor yang ulasannya mencerminkan bahwa vendor tersebut reliable, flexible dan bisa dekat dengan klien. Lalu yang terakhir, nikmatilah setiap detik persiapannya, baik itu yang menyenangkan atau yang menyebalkan, karena semua itu cuma datang sekali dan pasti akan sangat kita rindukan nantinya :).”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *