Pernikahan Adat Sunda a la Karina Salim dan Aldy Primanda

Style Guide

Venue Hall
Color Gold White

The Vendors Who Made This Happen

Akad Nikah

Brides, kamu pasti pernah mendengar nama Karina Salim, seorang perempuan multibakat di kancah industri seni di Indonesia. Karina memulai kariernya sebagai balerina sejak kecil, lalu merambah ke dunia akting melalui film “What They Don’t Talk About Love When They Talk About Love”, “Raksasa dari Jogja”, dan “Salawaku”. Pada tanggal 18 Maret 2017 yang lalu, Karina baru saja melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya, Aldy Primanda.Banyak yang berpendapat bahwa high school sweethearts tidak akan bisa langgeng hingga jenjang yang lebih serius karena jaraknya terlalu lama. Tapi, Karina dan Aldy membuktikan sebaliknya. Karina dan Aldy, yang telah berpacaran selama lebih dari delapan tahun, dikenal oleh teman-teman SMA-nya sebagai high school sweethearts karena keduanya memenangkan banyak sekali ‘penghargaan’ kecil-kecilan seperti prom king dan prom queen, best couple, dan sebagainya. Walaupun mereka berdua melanjutkan kuliah di lain tempat dan menempuh jalan karier yang berbeda, Karina dan Aldy mampu menemukan jalan untuk sampai ke jenjang pernikahan.

Aldy melamar Karina di hari jadi hubungan mereka yang ke-8, dilanjutkan dengan prosesi lamaran resmi pada tanggal 23 Juli 2016. Kurang lebih delapan bulan kemudian, mereka melaksanakan prosesi pernikahan di Jakarta.

Prosesi akad nikah diselenggarakan di Thamrin Nine, Gedung UOB, Jakarta, dengan pakaian dan dekorasi yang didominasi warna putih dan sampanye. “Kami memutuskan untuk menggunakan adat Sunda untuk prosesi akad dan pakaian di resepsi, karena kebetulan ibuku berasal dari Jawa Barat, begitu juga dengan ayah Aldy,” ujar Karina. Pagi itu, Karina mengenakan kebaya putih dan emas yang didesain oleh Anne Avantie, sementara Aldy mengenakan beskap putih dari Brutus Rumah Mode. Setelah akad nikah diselenggarakan, Karina dan Aldy juga melewati sejumlah prosesi khas adat Sunda yang disaksikan oleh keluarga dan teman dekat mereka, diikuti dengan konferensi pers di mana Karina dan Aldy menjawab sejumlah pertanyaan dari media yang hadir.

Acara resepsi diselenggarakan di tempat dan hari yang sama. Walaupun mereka memilih adat Sunda untuk acara pernikahan, tetapi pelaminan dan dekorasi didesain secara modern dengan warna-warna yang senada. Berbeda dengan riasan akad di mana Karina dirias dengan adat Sunda Puteri, di malam hari Karina mengenakan headpiece berupa siger. “Tanpa kusangka, ternyata siger itu berat sekali dan membuat kepala cukup pusing. Meskipun begitu, tentunya aku harus tetap tersenyum dan merespons tamu-tamu yang datang dengan baik. Aku beruntung karena Aldy berada di sisiku dan terus memperhatikan, sehingga aku tidak terlalu khawatir,” ujar wanita yang juga baru merilis single “Sesuka Hati” itu.

Pakaian yang Karina kenakan di acara resepsi pun cukup unik. Jika biasanya, bahan kebaya atau brokat yang dibiarkan menyapu lantai, kebaya karya Anne Avantie ini disambung dengan kain batik khas Jawa Barat yang memanjang ke belakang. Selain itu, bagian atas kebayanya dibuat off shoulder, pas sekali dengan figur Karina yang relatif mungil. Kebaya yang juga didominasi warna emas dan dihiasi beberapa beads itu terlihat megah dan elegan sekali, khas karya-karya Anne Avantie. “Aku selalu bermimpi untuk bisa mengenakan karya Bunda Anne yang menurutku indah sekali, seperti seni. Alhamdulillah, ternyata hal ini bisa tercapai di hari pernikahanku, seperti kado tersendiri dari Bunda Anne dan tentunya Pak Amin dari Brutus Rumah Mode yang membuatkan pakaian untuk Aldy.”

3 Vendor Pilihan Karina dan Aldy:

Anne Avantie & Brutus Rumah Mode — Jika diminta memilih vendor terbaik, menurutku tentunya Bunda Anne dan Pak Amin dari Brutus Rumah Mode pasti ada di peringkat satu. Kami puas sekali dengan karya mereka berdua. Kebaya yang Bunda Anne buatkan untukku tidak hanya bagus, tapi juga konseptual, dan dibuat sesuai dengan kepribadian aku. Pak Amin tentunya juga membuatkan baju untuk Aldy yang pas jika disandingkan dengan kebaya yang aku kenakan.

Griyo Palastri — Griyo Palastri sangat berhasil dalam merealisasikan konsep dekorasi yang aku inginkan, mulai dari tentunya pelaminan hingga dekorasi di luar ruangan. Apa yang Griyo Palastri kreasikan di hari pernikahanku sesuai dengan yang aku cita-citakan. Griyo Palastri memang dikenal bisa menghasilkan dekorasi yang sangat bagus, terutama untuk acara-acara yang berkonsep tradisional, tanpa menghilangkan kesan elegan. Selain itu, dibandingkan dengan vendor lain yang aku temui, Griyo Palastri menawarkan rate yang cukup bersahabat atau relatif terjangkau dibanding lainnya, tanpa mengorbankan kualitas.

Parler Studio — Parler Studio bisa membuatkan desain undangan seperti yang aku bayangkan. Benar sekali apa yang orang bilang — selera itu tidak bisa dibeli. Michelle, pemilik Parler Studio, memiliki selera yang sangat classy, dan hal ini terlihat dari karya-karyanya. Desain undangan kami, walaupun dibuat sederhana karena permintaan kami memang untuk dibuatkan yang sederhana saja, tetap bisa menampilkan selera classy Michelle tersebut, dan aku suka sekali dengan hasilnya.

Tips untuk Para Bride to Be:

Aku merasa bahwa apa yang orang bilang ke kami soal kelancaran acara itu tergantung ibadah para pemangku acara benar sekali adanya. Jadi, selain melakukan hal-hal yang sifatnya duniawi untuk mempersiapkan hari H, alangkah baiknya jika kita mendekatkan diri dengan Tuhan secara spiritual, karena hanya Tuhan yang bisa memastikan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Karena aku dan Aldy Muslim, kami berusaha untuk puasa, shalat, bahkan Aldy juga puasa sebelum membaca ijab kabul. Alhamdulillah, semuanya berjalan sesuai dengan yang kami cita-citakan.

*All photos are courtesy of Lights Journal