Pernikahan Chacha Frederica dan Dico Ganinduto

By Valeska on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Fairmont Hotel

Event Styling & Decor Airy Designs

Photography Le Motion

Videography Le Motion

Bride's Attire Nenny Armand

Make Up Artist Tienuk Rifki

Catering Fairmont Hotel

Wedding Organizer One Heart

Lighting Uplight Project

Wedding Reception

Venue Fairmont Hotel

Event Styling & Decor Airy Designs

Photography Le Motion

Videography Le Motion

Bride's Attire Tienuk Rifki

Make Up Artist Tienuk Rifki

Groom's Attire Tienuk Rifki

Catering Fairmont Hotel

Wedding Organizer One Heart

Wedding Entertainment Hanny & Co.

Invitation Reva Card

Lighting Uplight Project

Pernikahan Chacha Frederica dan Dico Ganinduto yang telah dilangsungkan beberapa minggu lalu ini memiliki banyak kisah menarik, terutama terkait persiapannya. Tentunya kamu masih ingat dengan dekorasi rangkaian acara pernikahan Chacha dan Dico yang penuh dengan warna-warna cerah kan? Siapa sangka, ternyata warna-warna tersebut dipilih karena makna yang terkandung di dalamnya! Sebelum menyimak lebih lanjut mengenai pernikahan Chacha dan Dico, mari kita kenali lebih dulu pasangan yang melangsungkan pernikahan dengan adat Jawa ini.

Perkenalan Chacha dan Dico terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Setelah mendekati Chacha beberapa saat, Dico mengutarakan perasaannya pada Chacha bahwa ia ingin berpacaran dengan serius dan ingin menikahi Chacha. Chacha saat itu sama sekali tidak menyangka bahwa Dico berani berkomitmen dengan dirinya. Menurut Chacha, Dico bahkan bukan tipenya. “Aku ngga pernah punya pacar seumuran, eh Dico seumuran. Biasa punya cowok romantis, eh Dico cuma ngasih bunga dua kali selama dua tahun pacaran. Beda banget, kan? Hahaha, tetapi Dico itu berani berkomitmen dan dia visioner banget. Dia tahu langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam hidupnya. Itu yang aku suka dari Dico,” demikian Chacha menjelaskan.

Kurang lebih enam bulan setelah keduanya mulai resmi berpacaran, Chacha dan Dico mengutarakan keinginan mereka untuk menikah, namun saat itu mereka belum mendapatkan izin untuk menikah. “Kami memutuskan untuk menunggu hingga mendapatkan izin dari orang tua untuk menikah. Alhamdulillah, sekarang setelah dua tahun berpacaran akhirnya kami diizinkan menikah,” Chacha kembali menjelaskan.

Sebagaimana calon pengantin lainnya, Chacha dan Dico tentunya juga mengadakan acara pengajian. Bunga-bunga warna cerah yang terdapat dalam dekorasi pengajian Chacha ternyata memiliki makna sendiri, lho, brides! “Bunga-bunga yang warnanya biru dan dedaunan hijau itu untuk melambangkan bumi yang komposisinya terdiri dari 70% lautan dan 30% daratan,” ujar Chacha. Pemilihan warna-warna cerah ini juga memberikan kesan yang sangat manis. Adapun pengajian Dico didominasi oleh warna hijau dan putih yang lebih terkesan maskulin.

Karena Chacha berdarah Jawa, maka adat Jawalah yang digunakan dalam rangkaian acara pernikahan Chacha dan Dico. Bagi Chacha, menikah dengan adat Jawa juga memiliki sentimen pribadi. “Papa kan udah ngga ada, jadi buatku ini bentuk penghormatan untuk Papa dengan menikah menggunakan adat Jawa, karena dari Papa aku berdarah Jawa,” kata Chacha. Chacha juga percaya bahwa setiap prosesi dalam rangkaian acara pernikahan adat Jawa memiliki makna dan pesan kepada pengantin. Misalnya saja tujuh jenis air yang digunakan dalam prosesi siraman. “Dalam bahasa Jawa, angka 7 kan disebutnya ‘pitu’ . Kalau diartikan lebih jauh, artinya ‘pitulungan’. Menyirami pengantin dengan air-air tersebut berarti menolong pengantin memasuki babak baru dalam kehidupannya dengan bersih dan agar kehidupan baru pengantin selalu dipenuhi dengan kebaikan,” tandas Chacha.

Prosesi siraman Chacha juga cukup unik karena dilaksanakan di area outdoor dengan menggunakan gazebo yang merupakan salah satu fasilitas Fairmont Hotel. Fasilitas ini sebetulnya tidak terbuka untuk umum, sehingga Chacha sangat bersyukur karena Fairmont Hotel mau mengakomodir kebutuhannya dan memberikan fasilitas gazebo untuk tempat siraman.

Chacha dan Dico mempersiapkan pernikahan ini hanya dalam 3 bulan. Meskipun persiapannya singkat, Chacha tidak merasa pusing sama sekali, karena baginya yang paling utama dipersiapkan adalah mental. Chacha dan Dico secara khusus mempersiapkan diri mereka ke salah satu tempat konseling di Bandung. Di sana, Chacha belajar mengenai banyak hal, antara lain adalah belajar bersyukur, belajar ikhlas, belajar untuk menerima, meneruskan kebaikan yang diterima, dan turut berbahagia jika orang lain berbahagia. Kata Chacha, “Mungkin terkesan remeh ya, tetapi sebetulnya itu penting sekali. Bahkan aku dan Dico diajarkan untuk berterima kasih kepada semua vendor dan dengan ikhlas menerima hasil kerja vendor bagaimanapun itu.”

Apabila kamu memperhatikan secara seksama, mungkin kamu akan menemukan hal yang unik dari pernikahan Chacha. Ya, Chacha memakai paes ageng Yogyakarta saat akad nikah dan paes Solo basahan untuk resepsi. Sejak kecil, Chacha yang berdarah Jawa-Solo berangan-angan untuk menggunakan paes ageng tanpa mengetahui bahwa paes ageng berasal dari Yogyakarta. Ia baru mengetahui hal tersebut saat berdiskusi dengan Ibu Tienuk Rifki, dukun manten senior yang sudah Chacha idam-idamkan sejak kecil. Chacha mengaku bahwa ia sempat sedikit kecewa karena ia tidak memiliki darah Yogyakarta dan tidak bisa menggunakan paes ageng. Tetapi secara kebetulan, sorjan yang dibuat adalah sorjan Yogyakarta, maka Chacha akhirnya dapat memakai paes ageng Yogyakarta saat akad nikah sesuai keinginannya.


Sentuhan unik lainnya pada pernikahan Chacha dan Dico adalah seragam bridesmaid yang dibuat sendiri oleh Chacha. Chacha menginginkan bridesmaid-nya untuk mengenakan kebaya kutubaru yang tradisional dengan sentuhan modern tanpa melanggar pakem sehingga terciptalah kebaya kutubaru dengan aksen lace pada bagian lengan.

Bagi pembaca The Bride Dept yang juga sedang mempersiapkan pernikahan, Chacha memiliki tips untuk membuat kesepakatan dari awal mengenai vendor yang akan digunakan, tetapi harus berbesar hati juga apabila ke depannya akan ada perubahan-perubahan vendor ya, brides. Chacha juga berpesan untuk membagi-bagi tugas berdua dengan pasangan untuk mempermudah persiapan.

Top 3 vendors pilihan Chacha:

  1. Fairmont Hotel, karena mereka mampu mengakomodir semua kebutuhan klien dan memberikan pelayanan yang memuaskan.
  2. Le Motion, karena pendekatan fotografer yang mampu membuat semua orang merasa comfortable. Le Motion juga mampu memenuhi permintaan-permintaan khusus mengenai beberapa detail pengambilan foto.
  3. Ibu Tienuk Rifki, karena menggunakan jasa Ibu Tienuk Rifki sejak kecil sudah menjadi cita-cita dan hasil riasannya juga sangat memuaskan.