Pernikahan Cultural Heritage Jawa dan Mandailing a la Ade dan Rama

By NSCHY on under The Wedding

Pernikahan Cultural Heritage Jawa dan Mandailing a la Ade dan Rama

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Fairmont Jakarta

Event Styling & Decor Mawarprada Decoration

Photography Namora Pictures

Hair Do Jasmine Lishava

Beauty Preparation Ambar Paes Jakarta

Bride's Attire Dina Vahada

Catering Fairmont Jakarta

Resepsi

Venue Fairmont Jakarta

Event Styling & Decor Mawar Prada Decoration

Photography Namora Pictures

Make Up Artist Jasmine Lishava

Hair Do Nauli Dekor

Bride's Attire Svarna by Didiet Maulana

Catering Fairmont Jakarta

Wedding Entertainment Untitled Band Jakarta

Pemandu Adat Nauli Dekorasi

Others Bridesmaids and bride's hand bouquet : Kreasi Yaya

Menyambung cerita perjalanan hubungan Ade dan Rama yang lamarannya pernah di-featured di The Bride Dept sebelumnya, kini, mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri.

Sama dengan permasalahan pasangan muda lainnya, kesibukan menjadi permasalahan utama yang menunda dan membuat lama persiapan pernikahan. Terlebih lagi, Ade dan Rama ini menginginkan pernikahan kombinasi adat Jawa dan Mandailing. Alhasil, penyocokan jadwal di luar kesibukan masing-masing, pemilihan dekorasi dan konsep serta penanggalan Jawa membuat persiapan pernikahan keduanya memakan waktu sekitar 1,5 tahun.

Namun, waktu lama yang telah mereka korbankan untuk mengadakan pernikahan sempurna sekali seumur hidup ini benar-benar bisa terbayar. Dengan konsep Cultural Heritage yang memadukan adat dari asal suku Ade dan Rama, mereka berhasil mengadakan acara pernikahan yang tak terlupakan. Mulai dari rangkaian pengajian, siraman, midodareni, akad nikah dengan menggunakan adat Jawa simple lengkap dengan gebyok dan nuansa putih serta resepsi yang menggunakan adat Mandailing.

“Aku sangat suka momen malam Midodareni dan masa mutih atau ‘menyucikan diri sebelum menikah’. Aku dilarang ketemu Rama selama dua minggu dan melaksanakan puasa Senin Kamis.”

Bagi Ade, momen midodareni dan masa mutih tersebut membuatnya tersugesti dan menjadi lebih tenang serta merasa puas dengan segala prosesi dan momen dalam pesta pernikahannya. “Bahkan, kata beberapa tamu, auraku manglingi dan pengantin banget!” seru Ade.

Meskipun bukan berasal dari Mandailing, namun Ade tidak merasakan kesulitan mengenakan Bulang yang kebetulan ia beli langsung dan pesan custom ke pengrajinnya di Sipirok, Sumatera Utara.

“Untuk baju adat Mandailing, sampai sekarang aku masih kagum. Aku memang menginginkan baju yang modern khas pengantinnya. Dengan perpaduan warna khas Mandailing yaitu hitam, merah dan emas, Mas Didiet berhasil mengkombinasikan ketiga warna tersebut dengan sentuhan modern dengan nuansa glamor.”

Untuk memberikan kesan modern dalam pernikahan Cultural Heritage-nya pun, Rama dan Ade sepakat untuk memberikan dekorasi chandelier atau lampu gantung di titik vokal ruangan.

Yang lebih menarik lagi dari pernikahan Ade dan Rama ini adalah penampilan tarian Tor Tor Mandailing dari keduanya. Pst, dengan penampilan maksimal tersebut, mereka berdua hanya pernah melakukan latihan sekali dalam dengan durasi 3 jam!

“Saat latihan, kita merekam semua gerakannya. Jadi, saat menunggu make up selesai, aku fokus memperhatikan gerakan di video tersebut biar hafal semua gerakan.”

Top 3 vendor:

  1. Didiet Maulana

“Untuk pernikahan dengan nuansa adat, serahkan ke Mas Didiet karena desainnya selalu surprising dan personalized.”

2. Dina Vahada

“Payet dan beading-nya Mba Dina juara!”

3. Mawarprada Decor

“Semua keinginan aku bisa tersampaikan dengan baik lewat dekorasi venue pernikahan impian kita.”

Tips untuk brides to be,

“Banyak-banyak berdoa, tenang dan legowo. Dekatkan diri ke keluarga dan orang-orang terdekat untuk selalu mendapatkan dukungan moral dan doa agar acara pernikahanmu bisa berjalan lancar pada saat hari H bahkan sampai ke depannya.”