Pernikahan dengan Konsep Jawa Rustic di Balai Kartini

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Azka Anggun

Photography Owlsome Project

Videography The Brooms Picture

Bride's Attire Merras

Pemandu Adat Ambar Paes

Resepsi Pernikahan

Venue Balai Kartini

Groom's Attire Tari Donolobo

Make Up Artist Ayura

Dikha dan Ardya bertemu pertama kali dua tahun lalu saat proses rekrutmen di perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. “Itu bukan jenis cinta pada pandangan pertama,” kata Ardya. Namun, mereka menjadi dekat dalam waktu yang cepat. Sebagai pekerja junior di perusahaan, mereka sering bekerja hingga larut malam bersama para karyawan baru lainnya. Situasi ini membuat mereka memiliki waktu bersama yang lebih banyak, baik pada hari kerja maupun weekend, saat mereka tetap harus bekerja.

“Kami mulai jalan sekitar 5 bulan setelah pertama kali bertemu. Everything went quite fast from there. Saya sempat agak khawatir jika hubungan kami terlalu cepat.  I also just got out of a very very long term relationship. But his patience and persistence that made me sure he’s the one. To top it off, after only a few months going out he bought a plane ticket to NZ to be with me for my graduation,” kisah Ardya.

Lamaran di Tepi Pantai

Sekitar 7 bulan kemudian, mereka berlibur ke Bali untuk mengunjungi saudara perempuan Dikha yang baru saja melahirkan. Di sana, pada suatu pagi, Dikha mengajak Ardya untuk menyaksikan sunrise di Sunrise Beach, Sanur. Sambil menikmati udara segar, mereka duduk di tepi pantai. Saat matahari mulai muncul, Dikha mengajak Ardya untuk berjalan di tepi pantai.

“Lalu, dia tiba-tiba berlutut dan melamar. Meskipun waktu itu dia nggak membawa cincin atau apa pun, menurutku itu tetap momen romantis,” kenang Ardya. Bagi wanita ini, takdirlah yang membuat mereka akhirnya bersama. “For me, if I didn’t come home to marry my then boyfriend, I wouldn’t have considered living in Jakarta after 13 years on my own overseas. And if I have taken another job offer I was sure to accept, Dikha would have just been somebody-I-came-across-during-a-job-interview,” ujar Ardya. Menurutnya, kedua hal tersebut adalah keputusan terbesar yang pernah diambilnya dalam hidupnya. Meskipun berada di luar comfort zone dan karakternya, ia mengakui itulah keputusan terbaik.

Persiapan pernikahan pun mulai dilakukan setelah acara pertunangan di Jakarta pada 29 Agustus 2015 lalu. Sekitar 9 bulan, mereka berusaha mengatasi berbagai tantangan yang menghadang. Tantangan terbesar menurut Ardya adalah menyatukan keinginan orangtua yang super Jawa dengan keinginan mereka sendiri. Ardya dan Dikha juga menginginkan nuansa rustic pada momen spesial tersebut. “Dan semua harus masuk dalam budget,” tutur Ardya.

Mix Rustic Jawa

Ada tiga prosesi adat Jawa yang mereka lakukan, yaitu siraman, midodareni, dan panggih. Dari semuanya, favorit Ardya adalah panggih. Saat itulah ia bisa bertemu kembali dengan Dikha setelah sehari sebelumnya mereka tidak bertemu sama sekali. “Dipertemukan saat panggih, setelah akad nikah, terasa lebih spesial. Pas ketemu lagi, kami sudah menjadi suami istri,” kata Ardya tersenyum.

Untuk mempercantik venue, Ardya menggunakan jasa Azka Anggun. Mulai dari acara siraman, midodareni, hingga akad nikah, dekorasi yang dipasang terkesan sangat njawani dengan gebyok coklat dan dominasi warna merah. Sedangkan untuk resepsi, mereka memilih mix yang pas antara Jawa dan rustic. “Ada gebyok yang dikelilingi daun-daun, jalur jalan menggunakan lampion, dan pagar pembatas kayu. Ada pula daerah semi-outdoor yang dihias dengan daun-daun dan lampion.”

Dari keseluruhan acara, momen yang paling berkesan bagi Ardya dan Dikha adalah saat speech dari maid of honour dan best man. Bridesmaid dan maid of honour Ardya, yaitu Erin, datang jauh-jauh dari New Zealand. Mereka sudah berteman kurang lebih 15 tahun. “Dia sangat tahu aku orangnya seperti apa. Apa yang dia share sangat memorable dan berkesan. Begitu juga best man Dikha yang share cerita yang nggak pernah aku tahu dan sangat lucu. Sepertinya semua undangan dan keluarga enjoy speech mereka,” tutup Ardya.

Top 3 vendor pilihan Ardya adalah:

1. Azka Anggun

“Mereka bisa menciptakan nuansa Jawa yang sangat klasik. Untuk resepsi, mereka menciptakan nuansa Jawa rustic yang belum terlalu sering ada.”

2. The Owlsome Project/The Brooms Picture

“Aku dan Dikha ingin foto prewedding yang natural dan menunjukkan kami berdua apa adanya. Foto-foto prewedding yang kami dapatkan sangat memuaskan. Saat hari-H, fotografer dan videografer membuat kami nggak tegang. Jadi, foto-fotonya menunjukkan kami sangat enjoy.”

3. Merras

“Untuk akad dan resepsi, aku sangat puas dengan kebaya yang aku pakai. Kebaya akad nikah tidak terlalu banyak payet dan sangat elegan. Untuk resepsi, aku sangat suka kebaya brokat hitam dari Merras. Sangat elegan, tapi tidak over the top. Pas dengan nuansa rustic Jawa yang kami cari. Pas juga dengan dekorasi dan feel yang kami inginkan.”

Ardya pun membagikan tips kepada para brides to be saat mempersiapkan pernikahan. “Semua detail dan perintilan lebih baik dipersiapkan jauh-jauh hari. Misalnya, saat memilih kain untuk keluarga, katering, dekorasi, dan sebagainya, lebih baik langsung memikirkan detailnya juga. Kalau baru melihat detailnya beberapa waktu sebelum hari-H, kita akan pusing. Detail juga menentukan harga. Jadi, jika sedang menanyakan harga ke vendor, lebih baik sekalian memberikan detailnya supaya nanti nggak shock jika ada perbedaan harga.”