Pernikahan dengan konsep Sundanese Romantic Garden a la Adriane dan Aditya

By Leni Marlin on under The Wedding

Pernikahan dengan konsep Sundanese Romantic Garden ala Adriane dan Aditya

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Adriane dan Aditya telah melangsungkan acara lamaran pada Oktober 2016 lalu. Kisah seru mereka mempersiapkan acara bernuansa Ethnic Nusantara telah diulas di The Bride Dept dan bisa dibaca di sini. Nah, kali ini, Adriane bercerita tentang persiapan pernikahan yang baru saja dilangsungkan di IICC (IPB Convention Center).

Persiapan No Drama

Adriane menerima banyak pertanyaan tentang proses persiapan pernikahan yang baru saja berlangsung. “Ada banyak yang nanya, ‘Kalian sering berantem nggak sih karena ngurusin pernikahan?’ Kami berdua kompak menjawab, ‘Alhamdulillah, enggak dan no drama.’”

Adriane dan Aditya memang ingin menghapus paradigma kebanyakan orang yang selalu menganggap bahwa mengurus persiapan pernikahan akan mengakibatkan bride dan groom sering berantem. “We find the way how to break that paradigm.”

Untuk itu, mereka berdua berkomitmen mengurus pernikahan dan bertanggung jawab dengan tugas masing-masing yang telah dibagi dengan porsi 50:50. Seperti halnya sedang mengerjakan sebuah project dari client di kantor, mereka berusaha memberikan output yang memuaskan. “Ini sekaligus sebagai nostalgia saat menjadi consultant. We missed our time as a consultant, so we find out how to make our wedding preparation as a project in our last company,” kisah Adriane.

Mereka pun merancang mood board dan project timeline yang menjadi guidance selama melakukan persiapan yang tidak lebih dari 6 bulan tersebut. Pada project timeline ini, mereka membagi waktu 1 bulan untuk fokus pada 5-6 vendor saja. Harapannya, pada bulan ke-4, semuanya sudah selesai dilakukan. Jadi, 2 bulan terakhir bisa dijalani dengan santai. Cara ini, menurut Adriane, selain jauh lebih efektif, waktu untuk vendor juga lebih fokus dan detail.

Namun, tantangan yang mereka hadapi adalah perlu ekstra tenaga dan waktu di tengah kesibukan keduanya bekerja di Jakarta untuk meeting dengan vendor yang berada di kota-kota berbeda, seperti Bogor, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

“Selain itu, ada beberapa items yang perlu persetujuan orangtua. Kami usahakan ini tetap sesuai dengan timeline tanpa terlalu membebani mereka. Contohnya, list undangan. Karena kedua orangtua kami cukup sibuk, kami perlu men-support mereka agar list undangan cepat selesai dicetak. Alhamdulillah, orangtua sangat bersemangat dan saling support supaya dapat selesai tepat waktu,” ujar Adriane.

Prosesi Adat

Untuk prosesi adat, mereka memilih memakai adat Sunda karena kedua orangtua  Adriane berasal dari Sunda dan Jawa. Sedangkan orangtua Aditya yang murni berasal dari Jawa (Yogyakarta) sepakat saja karena belum pernah tahu secara detail pernikahan dengan adat Sunda.

Sebelum hari-H, ada berbagai prosesi yang dijalankan, seperti pengajian dan siraman. Menurut Adriane, rangkaian acara cukup unik karena keduanya memutuskan untuk mengenakan pakaian daerah masing-masing. Lalu, pada hari-H, ada pula prosesi Ayam Bakakak, Huap Lingkung, dan Saweran. Saweran adalah acara yang paling seru karena tamu beramai-ramai memperebutkan permen dan uang yang dilemparkan.

Wedding Attire

Untuk wedding attire, mereka memilih menggunakan jasa Adity House of Kebaya. Vendor ini cukup terkenal di Bandung. Desain yang dibuat oleh Tante Tita (pemilik Adity) menurut mereka simple, tetapi tetap elegan. Ini sangat sesuai dengan selera keduanya.

“Kami memutuskan untuk datang ke Bandung dan bertemu Tante Tita. Surprisingly, di sana kami happy karena orangnya super seru. Setelah diskusi 3 jam, akhirnya kami memutuskan untuk membuat seluruh attire kami, orangtua, kakak adik, bahkan bridesmaid dan groomsman di sana. Permintaan design dari kami tidak banyak. Kami hanya ingin yang simple, cocok untuk kami, dan 1 warna,” jelas Adriane.

Supaya lebih unik dan khas Indonesia, Adriane memesan kain berwarna deep red, seperti warna bunga yang dipakai di pernikahan mereka, untuk dikenakan oleh para bridesmaids dan groomsmen yang berasal dari luar negeri itu. “Kain ini tidak perlu dijahit dan bisa langsung digunakan dengan cara dililit,” tutupnya.

Top 3 vendors menurut Anne adalah:

Irwan Riady

“Make up artis kondang ini adalah favorite-ku sejak 4 tahun lalu. Saat itu, aku baca dan melihat karya riasannya di sebuah majalah. Sejak hari itu, aku pun kepikiran untuk memakai jasanya saat menikah nanti. Ditambah review dari temen-temen yang bilang, “He is the best.” Pada saat test make up pertama kali, aku ketemu dia dan ternyata orangnya humble banget, baik hati, dan cara kerjanya profesional. Team-nya pun sangat helpful di hari-H. Aku merasa beruntung bisa ketemu mereka semua. He isn’t only a make up artist but also an inspiration for me. Million thanks, Mas!”

Dwi Tunggal Citra

“Dari pertama kali cobain DTC 2 tahun lalu pada acara pernikahan temen, aku langsung jatuh cinta dan ingin memakai jasa DTC pada saat pernikahanku. Mas Awang sebagai PIC super ramah dan detail sehingga membuat kami semakin yakin. Table clothes dan dekor catering-nya pun selaras dengan dekorasi kami. Terakhir, sampai sekarang tamu kami semua bilang, enak banget makanannya dan tidak kekurangan sedikit pun. Thanks a lot DTC! Puas banget.

Solitaire Invitation

“Pertama kali ketemu vendor ini di acara pameran pernikahan. Melihat booth mereka, aku dan Adit langsung sreg banget dengan design-nya yang simple dan beda daripada yang lain. Namun, setelah deal, kami juga menginfokan kalau tidak mau sampai kejadian seperti yang dialami temen-temen yaitu ngaret dari timeline. Alhamdulilah, kami tidak salah pilih vendor. Mereka bekerja sangat rapi, packaging-nya juga rapi, on schedule, dan design-nya Mbak Intany (Owner) memang keren banget. Banyak Invitee kami bilang undangannya keren banget. Success for solitaire.”

Meskipun tidak memiliki ide tentang dream wedding, Anne dan Aditya sangat concern pada sesuatu yang “eyecatching” terutama masalah warna. “Jadi, langkah pertama kami adalah menentukan warna baju, yaitu grey. Dari situ, kami menyusun mood board dan jadilah tema Romantic Garden,” papar Anne.

Baginya, momen yang paling berkesan di acara istimewa ini adalah pada saat akad nikah. “Saat masuk ke ruangan, saya deg-degan banget dan tangan terasa dingin. Selama menunggu sebelum dipanggil ke tempat akad, saya hanya bisa berdoa di dalam hati supaya semuanya berjalan lancar. Lalu, saat meminta izin menikah di depan ayah saya, saya hanya bisa tersenyum dan bertatapan dengannya. Hari ini, tanggung jawabnya sudah berpindah.”

 

Berikut adalah tips dari Anne untuk para brides to be:

Set your mood board and project timeline at the beginning. Ini penting sekali agar persiapan selanjutnya lebih fokus. Mood board adalah guidance to meet our expectation agar seluruh tampilan terlihat eye catching. Sementara itu, project timeline membuat kami berdua tetap strict with our timeline.

Bride and grooms has the same responsibility. Acara pernikahan adalah acara dua pihak. Jangan sampai, pihak brides saja yang memikirkan atau sebaliknya. It’s once in your lifetime experience and you need to enjoy it.

Pilih vendor yang fast response dan cekatan. Kami memilih vendor yang bisa membalas email atau chat dengan cepat, dapat bekerja based on timeline kami dan memiliki portofolio yang sesuai dengan selera kami. Ini penting karena kami selalu berharap vendor menjadi teman yang dapat mewujudkan expectation kami, bukan malah membuat ribet. Jadi, kami tidak perlu banyak follow up dan selalu mengingatkan mereka karena vendor sudah profesional.

List undangan dibuat sejak awal persiapan pernikahan. Membuat list undangan membutuhkan waktu yang paling lama dalam timeline kami. Apabila kamu hanya memiliki sedikit waktu, sebaiknya persiapkan list undangan sejak awal. Better, list undangan selesai 2 bulan sebelum hari-H. Jadi, apabila ada penambahan nama yang sangat urgent, masih ada waktu untuk memesan katering dan suvenir.

Saat pelaksanaan acara, nikmati saja, perbanyak senyum dan ikhlas. Pasrahkan seluruh kegiatan pada Tuhan dan berdoa supaya tidak terdapat kekurangan yang signifikan. Sebelum akad, sebaiknya berdoa dulu dan senyum, termasuk kepada vendor agar mereka juga jadi ikut happy dan semakin maksimal dalam bekerja.

×