Pernikahan dengan Nuansa Hitam ala Ega dan Anthony

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Resepsi Pernikahan

Venue Shangri-La Hotel Jakarta

Event Styling & Decor Elssy Design

Lighting Lumens Indonesia

Bride's Attire Ivan Gunawan

Make Up Artist Marlene Hariman

Photography Speculo Photo

Wedding Organizer Big Enterprise

Wedding Entertainment Voyage Entertainment

Ega dan Antony berkenalan pada 2006 silam. Saat itu, Ega baru saja pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan studi di Melbourne, Australia. “Saya diajak main ke kampus UPH oleh saudara saya. Kebetulan, saya juga mau melanjutkan kuliah di sana. Dialah yang mengenalkan saya kepada Tony,” kisah Ega.

Setelah pertemuan itu, Ega dan Tony pun mulai dekat. Di benak keduanya, belum ada niat untuk berpacaran. Mereka memang baru saja sama-sama putus dengan pasangan mereka. “Selain itu, saya juga orang yang paling males pacaran. Kalau pacaran nggak pernah lebih dari 2 tahun. Tapi, ternyata hubungan kami semakin serius dan akhirnya berpacaran hingga 10 tahun. Saking lamanya, sahabat saya pernah bilang ke Tony kalau dia hebat karena bisa membuat saya betah sama dia.”

Tidak ada lamaran romantis saat Tony meminta Ega menikah. Pria itu hanya bilang, “Kamu kalau nikah sama aku mau nggak? Kalau kita nikah tahun depan gimana?” Pertanyaan itu dijawab singkat oleh Ega, “Mau.”

Awalnya Ega hanya mengira Tony berbasa-basi karena mereka jarang banget ngomongin soal pernikahan. “Ternyata dia serius dan bilang ke mama saya kalau mau menikah dengan saya.”

Black Wedding

Konsep yang dipakai Ega dalam pernikahan yang dipersiapkan selama 8 bulan ini adalah black wedding. Ia memang bercita-cita sejak dahulu untuk mengenakan wedding dress berwarna hitam. Inspirasinya berasal dari gaya victorian dan gothic era.

“Mulai dari pakaiannya dan dekorasinya, semua ala Transylvania gitu. Saya dari dulu juga suka banget sama arsitektur gothic. Keren banget,” ujar Ega.

Meskipun awalnya Ega menginginkan semua bagian dalam pernikahannya serba hitam, ternyata hal itu tidak bisa diwujudkan. Oleh sang Mama, keinginannya tidak diluluskan sepenuhnya. Akhirnya, ia memilih perpaduan warna hitam, merah maroon, dan gold untuk memperkaya warna. Namun, Ega tetap memilih mengenakan wedding dress berwarna hitam dilengkapi dengan handbouquet berwarna burgundy.

Tidak seperti acara wedding pada umumnya, Ega lebih memilih mingle dengan tamu setelah berdiri di stage kurang lebih satu jam. “Jadi, jam 8-an saya udah turun ke bawah untuk jalan-jalan. Saya baru balik lagi ke stage hanya untuk foto bersama yang sifatnya formal. Biasanya sih sama temen orangtua.”

Untuk wedding cake, Ega juga memilih warna hitam. Kepada Ci Miyo dari Le Novelle, ia secara spesifik meminta konsep vintage scroll banner dengan tulisan “Till Death Do Us Part” dengan tambahan bunga mawar. Selain itu, ia juga ingin menambahkan motif-motif sugar skull yang terkesan lucu, tetapi tidak kesampaian.

Wedding Dress dari Ivan Gunawan

Wedding dress yang dikenakan Ega pada acara tersebut didesain oleh Ivan Gunawan. “Awalnya sih nggak kepikiran mau buat di tempat Ivan. Tapi, karena Mama saya adalah teman baiknya Mama Ivan, ia bilang mampir aja dulu. Akhirnya, saya mampir di butiknya. Pas di sana, saya bilang maunya material jangan lace yang terlalu cantik, tapi lebih ke arah motif baroque.”

Ega memang mengaku selalu bawel kalau soal baju. Ia sama sekali tidak mau ada sparkle di dress itu, tapi ada pearls, dan tidak terlalu banyak beads atau payet. Baginya, tersebut yang penting tidak sparkly dan puffy seperti ball gown.

Setelah 6 bulan menunggu, Ega pun diminta fitting. Saat itu, ia merasa sudah suka banget, padahal dress belum sepenuhnya selesai. Saat fitting terakhir, Ivan bilang ke Ega kalau dress-nya berat banget. Saat dicoba, ternyata bagus banget, full pearls. “Cantik banget. Saya nggak nyangka kalau pearls-nya bener-bener dikasih full. Pokoknya keren banget. Bener-bener nggak salah milih Ivan Gunawan.”

Dari semua momen yang dilalui Ega dan Tony, mereka paling terkenang pada saat adegan slow dance. “Kita nggak pernah sema sekali ngelakuin slow dance dan selama ini juga nggak latihan. Rasanya aneh, tapi kocak karena spontan aja. Semua teman dan sepupu saya nyorakin karena terkesan lucu, bukan romantis. Aneh sih, kok yang berkesan malah bukan yang romantis. Tapi, karena aneh dan lucu itu membuatnya dibahas melulu,” tutur Ega.

Sementara itu, top 3 vendors rekomendasi Ega adalah:

1. Big Enterprise – Bigson

“Ini adalah vendor pertama yang saya hubungi setelah menentukan tanggal. Lumayan deg-degan sih pas nelpon karena takut udah booked. Saya pilih Bigson karena dulu kakak saya pake jasa Mas Bigson dan orangnya fun banget. Semua bener-bener terorganisir dengan bagus dan mantap.”

2. Marlene Hariman

“Kakak saya juga menggunakan jasa Marlene saat menikah. Warnanya super soft dan bagus. Akhirnya, saya juga milih Marlene dan rasanya santai karena udah kenal.”

3. Elssy Design (decoration)

“Menurut saya, dekorasi Elssy nggak monoton, bisa berubah-ubah. Kayaknya, ia bener-bener ngikutin apa yang dimaui oleh klien. Saya ketemu salah seorang dari Elssy, Mbak Tessa, dan orangnya super baik. Enak banget diajak ngobrol dan ini adalah nilai plus. Dekorasinya pun super perfect. Saya sampe speechless.”

Kepada para brides to be, Ega berpesan, “Just take it easy!” Jangan terlalu pusing sama masalah-masalah kecil yang kadang bikin ribut besar. Take it easy, just embrace it. Setelah semuanya nanti selesai, kita akan merasa, ‘Ya ampun! Gitu aja? Cepet banget ya ternyata!’”

×