Pernikahan dengan Perpaduan Adat Sunda dan Jambi di Fairmont Hotel Jakarta

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Fairmont Hotel

Event Styling & Decor Airy Designs

Photography Fotologue Photo

Make Up Artist Yoga Septa

Seserahan Rose Arbor

Resepsi Pernikahan

Pemandu Adat Sanggar Dewi Kania

Marsha dan Diza pertama kali bertemu pada 2007 karena diperkenalkan teman. Sejak pertemuan itu, Diza sering menanyakan kabar Marsha pada teman-temannya. Saat itu, Marsha masih punya pacar. “Selama bertahun-tahun kemudian, Diza was still trying to contact me, walaupun hanya sekadarnya lewat FB, BBM, Path chat, dan Line,” kenang Marsha.

Karena keduanya tidak berada dalam lingkaran pergaulan yang sama, Marsha dan Diza pun jarang bertemu. Namun, Diza adalah tipe pria persistent. “Dia suka titip-titip sweets dan makanan lewat temen-temenku,” kenang Marsha.

Pertemuan Kembali

Takdir mempertemukan mereka kembali pada 2013 di London ketika Marsha sedang mengikuti training dari kantor. Di kota itu, Diza sedang mengambil kuliah S2. Kedekatan mereka mulai terasa meskipun masih bersifat on off. Saat Marsha pulang ke Jakarta lebih dahulu sedangkan Diza masih di London, ia mulai kepikiran tentang how persistent Diza was. Mereka pun resmi berpacaran pada 2014 saat Diza pulang ke Indonesia.

Setahun berpacaran, Diza akhirnya melamar Marsha. Apakah ada sweet proposal? “Sweet banget sih nggak, cuma emang udah constantly ngobrolin gimana kalau ada rencana nikah, dan sebagainya,” kata Marsha. Setelah lamaran, mereka mulai melakukan persiapan yang memakan waktu kurang lebih 10 bulan.

Meskipun Marsha berdarah Sunda dan Diza berasal dari Jambi, mereka tidak mengalami kesulitan saat menentukan prosesi adat yang akan dijalani. “Kami memutuskan memakai adat Melayu Jambi untuk akad nikah dan adat Sunda untuk resepsi. Setelah resepsi, dua minggu kemudian, ada acara ngunduh mantu di Jambi dengan adat Melayu Jambi.”

Berlangsung Khidmat

Marsha dan Diza memilih Airy Designs untuk menghias venue di Fairmont. Untuk acara akad, nuansa putih dan lavender ditonjolkan, sedangkan acara resepsi dimeriahkan oleh nuansa warna-warna peach. Suasana adat dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlihat terlalu kental.

Menurut Marsha, semua vendor yang dipilihnya sudah memuaskan. Mulai dari WO (One Heart), Yoga Septa, Airy yang bisa mewujudkan keinginan Marsha, hingga Lemon Tree dan Maliq yang membawakan lagu sesuai request. “Overall, happy banget dengan vendor-vendor tersebut,” sebut Marsha.

Momen paling berkesan bagi Marsha adalah pada acara akad nikah. “Aku nggak nyangka bakal terharu banget karena aku bukan tipe orang yang gampang nangis. Keluargaku dan Diza juga ikut terharu. Suasananya mengharukan dan khidmat.”

Sementara itu, Marsha sangat happy dengan jalannya resepsi yang dipandu Irgi Fahrezi. Dekorasi dan entertainment performance menyatu dengan indah. “At the end, we both were very tired but extremely happy at the same time.”

Untuk para bridestobe, Marsha berpesan, “Jangan terlalu stres selama persiapan pernikahan. Yang penting, kita harus pintar mengatur waktu kapan membahas soal wedding dan kapan quality time berdua. Nggak mau kan setiap ketemu malah berantem urusan pernikahan yang lumayan sensitif.”