Pernikahan dengan Tema Warna Putih dan Pale Blue di Plataran Cilandak

By Friska R. on under The Wedding

Style Guide

Style

International

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Resepsi Pernikahan

Venue Plataran Cilandak

Event Styling & Decor Karanda

Photography Max Willy

Videography Adi Widiantara

Bride's Attire Svarna by Ikat Indonesia

Make Up Artist Teddy Lim

Groom's Attire Grisvian Hewis

Perkenalan Chrisye dan Seno dimulai pada tahun 2007, ketika mereka masih duduk di bangku kuliah semester 2. Keduanya sama-sama berkuliah di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Awalnya mereka dekat karena tergabung dalam satu kelompok studio perancangan arsitektur. Dari situ lah mereka akhirnya sering melakukan banyak hal bersama, seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga belajar.

Chrisye mengatakan bahwa Seno memang bukan pria yang romantis. Saat Chrisye dilamar, ia mengaku bahwa Seno melamarnya dengan cara yang tidak romantis. Secara spontan, Seno malah meminjam kartu debit Chrisye untuk membeli cincin ketika mereka sedang berjalan-jalan. Saat itu ia meminjam kartu debit Chrisye karena sedang ada sale dengan bank tertentu. Setelah itu, mereka berdua langsung berdiskusi mengenai waktu yang tepat untuk melangsungkan pernikahan. Rencana pernikahan ini dibicarakan dengan banyak pertimbangan, terlebih lagi mereka tidak ingin terlalu banyak merepotkan orang tua.

Keduanya sama-sama berkecimpung di dunia arsitektur dan desain, sehingga mereka sama-sama excited dalam merencanakan pernikahan ini. Chrisye dan Seno sangat menyukai konsep serta detail-detail yang ada dalam pernikahan. Sehingga keduanya sangat berantusias untuk berdiskusi dengan vendor mengenai segala hal yang berkaitan dengan acara.

Awalnya keluarga Seno menginginkan pernikahan dengan mengusung adat Jawa. Namun setelah berdiskusi lebih lanjut, mereka akhirnya memutuskan untuk mengadakan pernikahan dengan gaya internasional tapi tetap memasukan unsur 2 tradisi, yaitu Jawa dan Chinese. Unsur Jawa ditampilkan dalam pemilihan baju pengantin Chrisye. Sedangkan tradisi Chinese ditampilkan dengan adanya tradisi tea pay.

Chrisye mempercayakan baju pengantinnya kepada Mas Didiet Maulala by Ikat Indonesia. Didiet membuat kebaya dengan dua versi yang berbeda. Versi pertama digunakan untuk pemberkatan di gereja. Mas Didiet membuat rok dengan bahan songket Bali yang terinspirasi dari kebaya kurung. Sedangkan untuk resepsi, Mas Didiet membuat rok dengan bahan lace. Dengan atasan kebaya yang sama, Didiet membuat gaun pengantin Chrisye terkesan berbeda saat pemberkatan dan resepsi.

Untuk meminimalkan budget, Chrisye dan Seno memilih tidak menggunakan jasa wedding organizer dengan keseluruhan konsep berasal dari mereka sendiri. Keduanya memanfaatkan teman untuk membantu seluruh rangkaian acara pernikahan. Fotografer yang mereka pakai merupakan teman Chrisye sejak SMP yang kebetulan sedang berkecimpung dalam bidang fotografi. Videografer merupakan teman Chrisye di kantor lamanya. Tim dekor adalah kontraktor yang sering bekerja sama dengan Chrisye dalam proyek kantor. Florist dibantu oleh Twigs & Twine untuk masalah bouquet, boutonniere, dan backdrop pelaminan. Kemudian teman Chrisye dari Karanda membantu menata dekorasi di sekitar venue. Mereka memang sengaja memilih Plataran Cilandak yang tempatnya sudah cantik, sehingga tidak perlu terlalu banyak keluar budget untuk dekorasi. Dan untuk souvenir serta desain undangan juga dibantu oleh teman Chrisye, yaitu Ervi dan Arsheila.

×