Pernikahan Dhila dan Andre dengan Adat Komering di Balai Kartini

Pernikahan Dhila dan Andre dengan Adat Komering

Style Guide

Venue Hall

The Vendors Who Made This Happen

Dhila dan Andre bertemu pertama kali pada 2015 lalu. Saat itu, keduanya sedang menghadiri acara lamaran sahabat SMA Dhila yang juga kenal dengan Andre. Karena masing-masing memiliki gebetan lain, PDKT tidak berjalan lancar. Tiga bulan setelah itu, mereka bertemu kembali dan langsung merasa klik. “Akhirnya kami pacaran,” ujar Dhila memulai ceritanya.

Setelah itu, mereka berpacaran jarak jauh karena Andre tinggal di Jogjakarta, sedangkan Dhila di Jakarta. Tujuh bulan kemudian, Andre bahkan pindah lebih jauh karena melanjutkan S2 ke Washington DC.

“Sayangnya, nggak ada sweet proposal. Cuma kejutan setelah 7 bulan dia di US. Tiba-tiba, pada Desember 2016, dia pulang ke Indonesia. Dia langsung ngomong serius untuk nikah. Aku kaget dan awalnya menolak karena belum siap untuk pindah ke US. Aku juga sudah punya rencana lain pada awal 2017 ingin mendaftar di sekolah dokter spesialis. Itu rencana dan impianku sejak sekolah kedokteran. Aku tidak pernah berpikir untuk berkeluarga sebelum sekolah spesialis. Tapi, nasib berkata lain,” cerita Dhila sambil tertawa.

Dhila pun memberitahukan hal itu kepada orang tuanya. Ibunya setuju dan mendukung Dhila untuk menikah. Dhila pun menjadi lebih yakin mengambil keputusan. “Akhirnya, dia ketemu orang tuaku. Lalu, terjadi pertemuan keluarga. Intinya, dalam 3 minggu kepulangannya, pihak keluarga sudah membicarakan pernikahan. Cukup singkat, kan?”

Setelah 3 minggu, Andre kembali ke US. Di Jakarta, Dhila menyiapkan pernikahan seorang diri di sela-sela pekerjaannya. “Sebulan pertama setelah kepergian Andre, aku sempat menyesali keputusan menikah karena berat banget rasanya mengurus pernikahan sendirian. Apalagi karena keluarga Andre ada di Jogjakarta, sedangkan keluargaku ada di Bangka Belitung. Tapi, lama-kelamaan aku terbiasa dan banyak saudara serta teman yang membantu.”

Pernikahan kejar tayang, begitulah istilah Dhila untuk acara spesialnya. Semuanya memang dipersiapkan serba cepat. Andre bahkan baru pulang 2 minggu sebelum hari-H. Seminggu kemudian lamaran dilangsungkan. Tiga hari setelah acara pernikahan diadakan ngunduh mantu. Lalu, 10 hari kemudian, Andre mengajak Dhila untuk pindah ke US.

Prosesi Adat Komering

Acara dilangsungkan dalam prosesi adat komering OKU (Ogan Komering Ulu) karena Papa Dhila berasal dari Sumatera Selatan. Namun, karena Dhila sangat suka dengan suntiang, ia memohon untuk mengenakan suntiang Padang saat akad nikah. Permintaan tersebut dikabulkan, apalagi karena Mama Dhila pun berasal dari Padang Panjang, Padang.

Meskipun menyukai pelaminan dengan nuansa yang modern, Dhila tetap menginginkan ada sedikit unsur adat dalam dekorasinya. Salah satunya, dengan menghadirkan songket di pelaminan dan di sudut-sudut. “Untuk pelaminan dan furnitur, aku memilih nuansa champagne. Untuk bunga, aku pilih warna ungu, biru muda, dan putih. Tidak ada warna merah, pink, atau peach karena menurutku tidak senada dengan warna biru silver baju pengantin.”

Sementara itu, untuk akad nikah, Dhila memilih menggunakan dekorasi bernuansa hutan dan taman. Ada 5 pohon yang mengelilingi meja akad nikah dengan rumbai-rumbai melati yang menjuntai sehingga suasana hutan dan taman lebih terasa kental.

Sesuai temanya, Dhila juga mengenakan baju adat Komering, Sumatera Selatan. Biasanya busana adat Sumatera Selatan berwarna merah terang, namun Dhila lebih nuansa biru silver. Menurutnya, warna ini cukup terang, tetapi tidak mencolok mata. Nuansa soft-nya berasal dari warna silver.

Untuk melengkapi prosesi acara, Dhila juga membawakan tarian Pagar Pengantin khas Palembang. Tarian ini biasanya ditarikan pengantin perempuan yang berdiri di tengah dan dikelilingi 4 atau 6 adik/saudara perempuan yang belum menikah. “Gerakan tarian ini seolah menceritakan bahwa adik-adik tersebut akan mengantarkan kakak perempuannya melepas masa lajang. Ada pula gerakan pengantin memohon ampun kepada orang tua dan sanak keluarga sebelum menikah.”

Top 3 vendor yang direkomendasikan Dhila adalah:

1. Griyo Palastri Décor

“Dari awal melihat dekorasi Griyo di nikahan teman, aku sudah jatuh cinta. Aku pilih Griyo karena harganya bersaing, tetapi taste, hasilnya, dan etos kerja tim bisa diacungin jempol. Dekorasi songketku di background pelaminan dan di 2 cornes asli dilukis oleh Griyo. Hasilnya juga sesuai dengan ekspektasiku. Pilihan bunga dan rangkaiannya juga bagus, belum ornamen furnitur Griyo yang selalu beragam dan nggak ngebosenin.”

2. Vienna Gallery

“Sejak tahu aku mau menikah, aku sudah tahu akan ke siapa masalah baju adat kuserahkan, yaitu Vienna Gallery. Reputasinya di pakaian adat Sumatera Selatan sudah tidak diragukan. Pertama kali ke sanggarnya, aku langsung suka dengan pilihan baju dan warna-warnanya yang banyak dan bagus. Tim Vienna juga sangat ramah, profesional, dan kreatif. Aku merasa terbantu sekali ketika memadu-padankan warna baju pengantin dengan baju orang tua dan keluarga inti. Mereka enak diajak bertukar pikiran. Aku puas dengan baju pengantinku. Andre yang baru pulang 2 minggu sebelum acara langsung fitting dan hasilnya bagus.”

3. Studio Boh

“Ini sudah jadi dream aku banget. Aku suka style-nya. Pas sudah jadi dan pertama kali melihat hasilnya, aku langsung kegirangan sendiri. Intinya Studio Boh memang bagus.”

Menurut Dhila, momen yang paling berkesan pada acara pernikahannya itu adalah ketika menari pagar pengantin. “Aku bukan perempuan yang bisa menari, jadi deg-degan minta ampun. Latihannya pun baru H-3. Untuk aku, nari itu susah. Sampai akhirnya, pas nari, kuku-kuku yang dipasang di jariku nyangkut. Aku sok stay cool, diem aja. Kedua kukunya bahkan ada yang lepas setelah nyangkut di songket. Akhirnya, karena nggak leluasa, aku copot semua kukunya dan lanjut menari. Adegan ini yang kayaknya bakal aku ingat seumur hidup,” tutup Dhila.

Beberapa tips dari Dhila untuk para brides to be adalah sebagai berikut:

  • Karena menyiapkan pernikahan sendiri itu melelahkan, cobalah untuk mengerahkan anggota keluarga.
  • Tetapkan bujet dari awal. Jika perlu, catatlah di buku. Dengan demikian, lebih gampang untuk melihat bagian mana yang harus di-cut dan mana yang harus diprioritaskan.
  • Rajinlah bertanya kepada orang-orang yang sudah pernah menikah. Orang yang belum pernah menyiapkan pernikahan tentu bingung. Karena itu, sangat penting menanyakan tips dan trik kepada orang lain.
  • Ada banyak pendapat yang mungkin akan kamu dengar, tetapi jangan didengarkan semua jika tidak ingin pusing. Ingat, sebagus apa pun acara yang dilaksanakan, pasti ada saja kurangnya di mata orang lain.
  • Mendekati hari-H, jaga kesehatan dengan tidur cukup, stop diet, olahraga, pijat, dan perawatan agar tetap fit.
  • Bagi yang akan menikah dengan adat Palembang/Padang, ketahuilah suntiang sangat berat dan bisa menyebabkan sakit kepala dan keringat dingin. Apalagi jika kurang fit. Jika perlu, sediakan painkiller untuk mengatasi rasa pusing supaya bisa reda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *