Pernikahan DIY dengan Tema Outdoor Rustic ala Qisthas dan Dhanis

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Resepsi

Photography Gardenia Diary

Bride's Attire Qisthas Noeman

Make Up Artist Hana Alaydrus

Event Styling & Decor La Fleur Concept

Setelah melangsungkan lamaran yang bertema rustic pada 21 Maret 2015 lalu di Dago Pakar Bandung, Qisthas dan Dhanis memilih 20 Februari 2016 sebagai hari spesial mereka untuk menyatukan komitmen dalam sebuah ikatan pernikahan.

Hanya butuh waktu 3 bulan bagi keduanya untuk melakukan persiapan. Tantangan terberat yang mereka hadapi adalah menggabungkan selera dua keluarga besar yang masing-masing memiliki latar belakang desain yang kuat. “Mulai dari textile designer, interior, lighting, hingga arsitek. Everybody wants extravaganza wedding, but we are little bit short on cast. That made it even more interesting.”

Dalam masa persiapan singkat itu, Qisthas dan Dhanis sama sekali tidak menggunakan jasa wedding planner. Alasannya sederhana. “Takut kecewa. Paling nggak, dengan ini, at the end, kalau ada yang kurang, kita tahu kalau we did our best to create the best wedding, we could possible have,” ujar Qisthas. Ada sekitar 400 orang yang hadir dalam acara yang terkesan intimate itu.

Konsep Handmade

I want a marriage more beautiful than my wedding. So we created the most beautiful wedding we could possible create just to set the bar high. We try to do everything by ourself from making the blue print to arranging flowers,” kata Qisthas. Pasangan ini berharap, dengan konsep pernikahan yang telah di-arrange secara cantik itu, para tamu bisa menikmati suasana dan tinggal lebih lama. Qisthas juga ingin membuat tamu undangan di pernikahan mereka merasa dihargai kedatangannya. Seperti dekorasi lamaran yang all DIY, Qisthas berusaha sebisa mungkin membuat seluruh detail dekorasi secara handmade.

Berawal dari jatuh cinta pada arsitektur masjid Al-Irsyad karya Ridwan Kamil sejak lima tahun lalu, Qisthas pun berniat akan melangsungkan pernikahan di sana. “Padahal waktu itu saya belum tahu akan menikah dengan siapa,” kenang Qisthas.

Sedangkan untuk acara resepsi, mereka memilih lokasi yang pada dasarnya sudah terlihat cantik sehingga tidak perlu susah payah dan butuh biaya mahal untuk mendekorasi. Keahlian mereka di bidang textile dan interior designer juga dimaksimalkan. Salah satu contohnya dengan menyediakan banyak picnic table sebab tamu akan merasa betah jika disediakan tempat duduk untuk menikmati makanan.

“Kami juga menggunakan banyak textile untuk menghias ruangan. Sebagai pemanis, kami menggunakan bola-bola rotan dan bambu ditambah hiasan bunga,” papar Qisthas. Untuk mengenang sang Ayah, kursi hasil desain almarhum digunakan sebagai kursi pelaminan.

Penuh Kesan

Qisthas boleh bangga karena berhasil mewujudkan mimpinya untuk mendesain kebaya sendiri pada saat lamaran dan pernikahan. Untuk mengimbangi kesederhanaan arsitektur masjid sebagai tempat akad nikah, ia memilih motif kebaya yang sederhana pula. “Saya tidak menggunakan motif kebaya bunga-bunga, tetapi lebih cenderung abstrak. Saya juga menggunakan payet senada dan mengikuti alur sulurnya. Bahkan, Dhanis pun menggunakan pakaian yang jauh lebih sederhana daripada yang biasa dikenakan pengantin pria.”

Untuk acara resepsi, Qisthas mengenakan two pieces white dress. Mengingat ia adalah tipe pemalu yang cenderung memasukkan tangan ke saku supaya tidak terlihat tegang, Qisthas mendesain kantong di kedua sisi dress. Kantong ini juga bisa berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan handphone.

Agar penampilannya terlihat lebih sempurna, Qisthas membawa hand bouquet dengan style cascade yang menjuntai ke bawah. Hand bouquet ini menggunakan succulent dengan sentuhan putih anggrek bulan. “Succulent nggak se-frange bunga. Jadi, nggak takut cepat layu atau jadi jelek karena salah waktu diletakkin.”

Untuk menandai hari spesial mereka, Qisthas dan Dhanis membagikan sebuah piring untuk appetizers sebagai souvenir. Sisi kiri piring bisa digunakan untuk meletakkan makanan, sedangkan sisi lainnya untuk tempat saus. “Kita juga menyelipkan resep salah satu finger food yang bisa dicoba di rumah masing-masing. Ide ini muncul karena aku suka memasak dan Dhanis suka makan.”

Acara wedding yang di-handle sendiri tanpa bantuan wedding organizer ini menyisakan banyak kesan bagi Qisthas dan Dhanis. “Nggak ada yang kepikiran nyisain makanan buat kita. Selesai acara, sekitar pukul 10 malam, akhirnya kami makan nasi goreng di kaki lima. Kami masih menggunakan baju nikah dan mobil pengantin. Seisi trotoar ngeliatin, tapi karena lapar ya cuek aja.”

Untuk para brides to be, Qisthas menyarankan untuk tetap menggunakan jasa wedding organizer. “Paling nggak untuk meng-handle hari-H. It was so much fun for us, but I can’t recommend it for anyone else. Meskipun kita sukses meng-handle sebagian besar acara, tapi kita missed banyak hal-hal kecil, seperti kertas contekan ijab kabul, ke salon untuk mempercantik diri, dan nggak ada yang nyiapin makanan untuk kita,” tutur Qisthas.

Namun, jika memang ingin menyelenggarakan pernikahan tanpa jasa WO, hal yang harus dipersiapkan adalah folder khusus yang bisa dibawa di setiap meeting. Brides to be bisa juga membeli buku wedding guideline yang bentuknya berupa folder sehingga bisa digunakan untuk menyimpan kertas-kertas penting.

Bener-bener take note semua detail yang perlu disiapin. Bukan cuma run down acaranya saja. Bikin list job description yang detail untuk keluarga yang ikut membantu. Jika memungkinkan, bridesmaid juga bisa dilibatkan dan dipercayakan beberapa hal,” tutup Qisthas.

Top 3 vendors menurut Qisthas adalah:

1. Hanna Alaydrus dan Fita Angela (@hanaalaydrus dan @fitaangela )

“Hanna sukses membuatku cantik seharian penuh. Fita juga sukses membuat keluargaku cantik-cantik. Fita dan timnya cepat dan cekatan meng-handle hari besarku. Mereka berdua pengertian dengan kondisi kami yang tanpa WO.”

2. Le Fleur concept (@lefleur.concept)

“Ini adalah bisnis kecilku yang dimulai karena banyak permintaan setelah melihat hasil dekorasi lamaranku. Semua dikerjakan dengan cinta supaya hasilnya maksimal dan membahagiakan.”

3. Minity Catering

“Ini adalah catering favorit kedua keluarga kami di Bandung. Nggak butuh waktu lama untuk memutuskan makanan apa yang akan disediakan saat acara. Servisnya super duper memuaskan.”

×