Classic and Elegant Wedding Day of Alanda & Adit

By Ikke Dwi A on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Melati Hall, Adi Puri

Event Styling & Decor Rolas by Suryo Decor

Photography The Portrait Photography

Make Up Artist Lizzie Parra

Hair Do Dinda Sakato

Wedding Shoes Elittas

Groom's Attire Anggun Busana

Catering Caterindo

Seserahan Perabot Seserahan

Invitation Citra Marina (Ilustrasi)

Wedding Organizer Pasoetri Weddings

Wedding Entertainment Dua Sejoli

Videography Mint Studio

Others wedsiteku.com (wedding website)

Wedding Reception

Venue Soka Garden, Adi Puri

Event Styling & Decor Rolas by Suryo Decor

Photography The Portrait Photography

Make Up Artist Lizzie Parra

Hair Do Olyvia Awuy

Bride's Attire Henny Adli (Songket)

Wedding Shoes UP by Diana Rikasari

Groom's Attire Henny Adli (Songket)

Catering Caterindo

Wedding Cake Amame Ice Cream Therapy

Wedding Organizer Pasoetri Weddings

Others Akusara Production (Sound System)

Videography Mint Studio

Master of Ceremony Mario Patrick

Wedding Entertainment Oomleo Berkaraoke

Souvenir Hay Maca

Setiap hari pernikahan memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan karakter sang pengantinnya. Dan kali ini The Bride Dept akan mengajak kamu melihat suasana hari pernikahan Alanda dan Adit yang terlihat sederhana namun memukau.

The Unexpected Proposal

Alanda dan Adit mulai berpacaran pada tahun 2013 dan saat itu Alanda mengetahui Adit sedang mendaftar program beasiswa S2 di luar negeri. Sampai akhirnya, Adit benar-benar mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia. Keberangkatan yang awalnya dijadwalkan Januari 2015 tiba-tiba harus diundur menjadi Juli 2015. Namun secara mengejutkan pada 19 Desember 2014, Alanda dan Adit mendapat kabar kalau Adit bisa berangkat sesuai rencana awal, yaitu 3 Januari 2015. Saat itu, Alanda dan Adit pun secepat mungkin mengurus segala sesuatu untuk Adit, mulai dari visa sampai akomodasi. Alanda dan Adit pun tidak pernah membahas hubungan kedepannya akan seperti apa. Satu hal yang pasti mereka akan menjalani long distance relationship.

Satu minggu sebelum berangkat Adit mengajak Alanda untuk pergi fine dining, tetapi tiba-tiba dibatalkan. Dan sebenarnya pada hari itu  Adit memiliki jadwal hanya menemani Alanda ke dokter gigi, potong rambut, mengajak minum kopi, dan makan malam. Adit pun menyetir tanpa memberitahu kemana ia akan mengajak Alanda untuk makan malam. Sampai akhirnya saat dalam perjalan Adit bertanya, “apakah Alanda bisa menebak akan diajak makan malam di mana? “Saya menebak dengan benar. Ia mengajak saya untuk makan malam di restoran favorit saya yang sudah lama tidak kami kunjungi. Setelah selesai makan malam, ia me-review hubungan kami selama hampir dua tahun ke belakang dan menutup obrolan dengan pertanyaan, “apakah saya mau menikah dengannya atau tidak. Tanpa saya sangka, ternyata Adit sudah menyiapkan banyak hal,” cerita Alana. Sepulang lamaran yang tidak terduga itu, Adit berencana membawa keluarganya untuk melamar secara resmi ke keluarga Alanda. Saat itu juga, Alanda dan Adit tidak memiliki banyak waktu, mengingat jeda antara lamaran personal Adit dan hari keberangkatannya kurang dari satu minggu. Alanda pun hanya memiliki tiga hari untuk menyiapkan acara lamaran sederhana namun tetap hangat karena akan dihadiri teman serta keluarga dekat keduanya.

Tantangan Masa Persiapan Pernikahan

Mengingat Adit berada di Australia dan Alanda ada di Indonesia, maka tantangan terbesar dalam persiapan pernikahan ini tentunya jarak. Adit melamar Alanda pada Desember 2014 dan hari pernikahan akan dilangsungkan Desember 2015, saat Adit pulang ke Jakarta untuk liburan musim panas. Pada masa persiapan itu, Alanda menyiapkannya sendiri semuanya selama sepuluh bulan karena Adit baru kembali dari Melbourne pada November 2015.

Solusi Menyiapkan Masa Persiapan Pernikahan Long Distance Relationship Ala Alanda & Adit

Semua masalah tentu ada solusinya, termasuk untuk kasus Alanda dan Adit yang menyiapkan pernikahan walaupun berhubungan jarak jauh. “Kami mengatasinya dengan berbagi tugas. Dari awal, Adit selalu bilang, “Soal nikahan, terserah kamu. Terpenting sesuai budget, makanannya enak, dan​ cukup bagi semua tamu.” Adit memberi kepercayaan penuh kepada saya untuk melakukan riset dan memilih vendor di acara pernikahan kami. Biasanya, saya datang dengan dua sampai tiga pilihan dan Adit membantu saya mengambil keputusan final akan vendor yang kami pilih. Saya in charge selama sepuluh bulan karena Adit harus fokus kuliah di Melbourne.” ungkap Alanda.

Saat kembali ke Jakarta, Adit langsung mengambil alih semua tugas Alanda dan melakukan segala finalisasi dengan semua vendor, memimpin rapat keluarga, sampai mengambil berbagai keputusan yang harus diambil di hari-hari terakhir. Semua ini dalam rangka menebus absennya selama sepuluh bulan pertama di masa persiapan pernikahan. Bisa dikatakan Alanda dan Adit benar-benar berbagi tugas sesuai keahlian dan kepribadiannya. Alanda mengaku lebih senang bekerja di depan komputer, sedangkan Adit yang seorang ekstrovert menyukai bertemu dengan banyak orang. Alanda senang membuat konsep, sementara Adit pandai mengambil keputusan. “Setiap pasangan tentunya punya gaya yang berbeda dan pembagian tugas ini bisa disesuaikan dengan kebiasaan, kekurangan, dan kelebihan masing-masing,” ucap Alanda yang tentu saja bisa menjadi masukan bagi pembaca The Bride Dept.

Prosesi Adat Di Hari Pernikahan

Alanda dan Adit tidak memiliki latar belakang suku yang kental sehingga memutuskan mengambil konsep nasional di hari pernikahan. Ibunda Alanda berdarah Minang dan Sunda namun lahir di Jakarta, sedangkan Sang Ayah berdarah Jawa. Sementara itu, Adit berdarah Sunda-Tionghoa dan Arab-Manado. Namun karena Alanda cukup dekat dengan almarhum Nenek yang berdarah Minang jadi untuk menghormatinya, Alanda memutuskan menggunakan songket dengan atasan kebaya. Alanda juga ingin menggunakan headpiece khas Indonesia agar terlihat seperti pengantin. Dan mengingat bawahan yang dikenakan adalah songket maka headpiece yang cocok tentunya Sunting.

Beautiful Venue

Alanda dan Adit ingin sekali menyelenggarakan pernikahan di daerah Jakarta Selatan. Awalnya ingin bertempat di Pondok Indah Lestari (PIL) namun venue ini ditutup sementara sejak Mei 2015. Dari sejumlah venue semi outdoor yang ada di Jakarta Selatan, mayoritas tidak cocok dengan konsep pernikahan Alanda dan Adit karena memiliki dekor khas Jawa. Pencarian pun berlanjut, beberapa venue ada yang mengharuskan menggunakan jasa vendor tertentu saat menggunakan venue mereka.

Kala itu, Alanda sedang iseng-iseng browsing portofolio fotografer, di sanalah menemukan Adi Puri yang dirasa cocok dengan konsep sang pengantin. Akhirnya, Alanda mengunjungi Adi Puri dan langsung memiliki feeling di sinilah pernikahannya akan diselenggarakan. Ada beberapa alasan mengapa venue ini dipilih, yaitu sebagai berikut.

  • Alanda dan Adit ingin sekali menyelenggarakan pernikahan di daerah Jakarta Selatan. Awalnya ingin bertempat di Pondok Indah Lestari (PIL) namun venue ini ditutup sementara sejak Mei 2015.
  • Venue pilihan Alanda dan Adit sama yaitu ingin semi outdoor.
  • Dari sejumlah venue semi outdoor yang ada di Jakarta Selatan, mayoritas tidak cocok dengan konsep pernikahan Alanda dan Adit karena memiliki dekor khas Jawa.
  • Beberapa venue juga ada yang mengharuskan menggunakan jasa vendor tertentu saat menggunakan venue mereka.
  • Terletak di Jakarta Selatan dan di jalan besar.
  • Memiliki bangunan untuk menyelenggarakan akad nikah yang sifatnya lebih hikmat dan taman untuk menyelenggarakan resepsi.
  • Bisa disewa selama satu hari penuh. Kami bahkan diperbolehkan untuk melakukan persiapan sejak H-2 untuk pemasangan tenda, dll secara gratis.
  • Tidak/belum memiliki rekanan vendor. Kami bisa memilih catering makanan, dekorator, dan vendor apapun yang kami mau.
  • Parkir relatif luas.
  • Ada guest house di mana keluarga kami bisa menginap atau bersiap-siap.
  • Gedung Adi Puri, menurut saya, cantik sekali. Lantainya marmer (lantai satu) dan parket (lantai dua), dilengkapi banyak kaca dan cermin, dan warnanya putih bersih. Bagi saya, terlihat seperti kapel di resort di Bali. Hal ini sesuai dengan konsep dekorasi yang saya inginkan.

“Adi Puri terbagi menjadi beberapa ruangan dan kami menggunakan seluruh ruangan untuk acara kami. Untuk akad nikah, menggunakan Melati Hall, area di lantai dua yang biasa digunakan untuk acara resital. Melati Hall juga memiliki balkon, sehingga sebagian tamu bisa menyaksikan prosesi akad nikah melalui balkon. Untuk resepsi, kami menggunakan Soka Garden, sebuah taman di sisi Gedung Adi Puri yang berukuran 19 x 35 meter persegi,” jelas Alinda.

Tema Pernikahan

Klasik dan elegan dengan sentuhan budaya Indonesia menjadi konsep pilihan Alanda dan Adit untuk hari pernikahannya. Dan venue Adi Puri cocok dengan konsep ini. Dari sisi dekorasi, Alanda meminta agar dekorasinya mengambil warna biru dongker, biru langit, putih, dan abu-abu. Selain itu Alanda menghindari warna emas dan glitter di hari pernikahannya. Walaupun konsep resepsinya sedikit modern dan internasional, namun Alanda dan Adit tetap memasukkan sentuhan budaya Indonesia di tempat lain. Seperti penggunaan kebaya dan beskap di akad dan resepsi, kebaya untuk bridesmaids, dan penggunaan motif songket di desain undangan pernikahan.

About The Wedding Day

Alanda dan Adit saling berbagi tugas dalam mewujudkan hari pernikahan impiannya ini. Alanda bertugas untuk acara akad, sedangkan Adit yang pernah bekerja di stasiun radio dan sering menyelenggarakan berbagai event sejak SMA bertugas untuk acara resepsi. Di awal, Alanda dan Adit sudah memutuskan untuk mingle di resepsi pernikahannya nanti. Namun, mereka juga mengetahui walaupun acara pernikahan ini milik mereka namun tetap harus mengakomodir keinginan orang tua.Untuk menyiasatinya, setelah akad nikah pada pukul 14:00 – 15:00, Alanda dan Adit menyelenggarakan resepsi kecil-kecilan di mana tamu orang tua bisa menyalami sang pengantin di pelaminan mini. Dan pada malam hari, mulai pukul 19:00 tidak ada lagi acara salam-salaman di pelaminan. Sang pengantin di sesi resepsi malam langsung “turun” menyalami tamu, berfoto, sambil menikmati makan malam dan mendengarkan musik. Awal acara resepsi ini pun dimulai dengan sangat indah, di mana saat sang pengantin masuk ke venue disambut bridesmaids dan groomsmen yang sudah menyalakan kembang api.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pidato dari Adit dan pemotongan kue pengantin, diikuti penampilan Soulvibe. MC lalu memanggil lima orang bridesmaids dan groomsmen untuk menyampaikan cerita serta kesan pesan untuk sang pengantin. Dilanjutkan dengan ucapan terima kasih sang pengantin atas kehadiran para tamu. Acara pun diakhiri dengan after party berupa karaoke bersama Oomleo. “Inspirasinya, sih, sederhana. Kami ingin bercengkerama dengan teman-teman dekat kami, berbagi cerita soal masa lalu dan masa depan, dengan lingkungan yang nyaman, ruang yang terbuka, musik yang membuat ingin berdansa, dan makanan yang terus-terusan tersedia. Kami senang sekali karena ternyata konsep resepsi yang sifatnya intimate diiringi alunan musik dan berbagai acara ternyata membuat tamu betah dan tetap berada di sana sampai acara selesai.”

Kebaya Pernikahan Warisan Sang Ibunda

Untuk akad nikah, Alanda memutuskan menggunakan kebaya yang digunakan ibunya di hari pernikahan 26 tahun lalu. Berawal dari iseng-iseng mencoba kebaya sang ibunda dan ternyata masih muat serta terlihat cantik. Lalu sang tante menyarankan untuk memodifikasi sedikit kebayanya dengan menambah bunga-bunga mawar dalam bentuk sulam pita serta beberapa beads kecil untuk menambah aksen tanpa menghilangkan kesan klasiknya.

Sedangkan untuk resepsi, Alanda membuat kebaya di Merras. Alanda pun mengakali keterbatasan budget dengan memilih lace yang bagus dan memasang aplikasi payet di tempat-tempat tertentu saja. Merras juga membuatkan rok berbahan songket agar saat mingle di resepsi lebih nyaman.

Dress Code Di Hari Pernikahan

Alanda dan Adit tidak meminta tamu mengenakan dress code tertentu karena tidak ingin merepotkan mereka. Namun khusus untuk bridesmaid ditetapkan harus menggunakan kebaya kutu buaru atau kartini agar sesuai dengan konsep pernikahan. Untuk masalah bridesmaid dan groomsmen, Alanda menunjuk delapan orang bridesmaids, tujuh di antaranya sahabat sejak SMP, sedangkan satunya sahabat di SMA. Di antara delapan bridesmaids tersebut ada dua maids of honour yang ditunjuk untuk memastikan Alanda tampil prima di hari H serta membantu memilihkan bahan kebaya, menemani fitting, memilih sepatu, sampai nai art yang digunakan.

Di sini pengantin pria, terdapat tujuh groomsmen yang terdiri dari teman-tema SMA serta rekan kerja Adit di Oz radio Jakarta. Tugas para groomsmen ini lebih banyak soal resepsi dan after party. “Para bridesmaids dan groomsmen tersebut memang tidak hanya mendapatkan seragam, tetapi juga tugas di hari pernikahannya. Saya tahu ini bisa jadi merepotkan (dan menyebalkan) bagi mereka. Untuk itu, ketika memberikan bahan untuk dijahit menjadi kebaya, saya juga memberikan lipstick dan cat kuku sebagai ucapan terima kasih. Kami juga mengadakan photoshoot khusus dengan mereka karena bagi kami, mereka sangat spesial dan kami ingin mereka tahu itu.” ujar Alanda

Hal Unik dari Pernikahan Alanda dan Adit

Satu hal yang unik dari pernikahan Alanda dan Adit adalah disebarnya kode promo untuk Uber, Grab Taxi, dan GoJEK untuk para tamu undangannya. Alasannya agar para tamu tidak terjebak macet dan bisa sampai di venue pernikahan dengan nyaman. “Beberapa bulan sebelum acara diselenggarakan, kami meminta para undangan untuk mengkonfirmasi kedatangan mereka (RSVP) di http://bit.ly/aditalanda (Google Form) dengan mencantumkan alamat rumah dan email mereka untuk pengiriman undangan. Dua minggu sebelum hari H, kami mengirimkan undangan dalam bentuk digital dan hard copy. Tiga hari sebelum hari H, kami mengirimkan email ke semua undangan berisi informasi soal venue (berikut link peta digital di Google Maps dan Waze), rute yang kami rekomendasikan untuk menghindari macet, kode referral/promo Uber, GrabTaxi, Go-Jek dan bahkan informasi soal angkutan umum yang melewati venue kami,” kisah Alanda.

 

Memorable Things From The Wedding Day

Bisa menjalani resepsi dua kali. Di mana untuk acara akad, hanya mengundang keluarga besar dan teman-teman orangtua. Selain menyajikan santap sore seperti nasi liwet dan bakwan malang. Di acara tersebut juga diiringi alunan lagu 1960 sampai 1990an dari Dua Sejoli yang memainkan piringan hitam vintage. Sedangkan untuk resepsi malam hari, tamu hanya berasal dari keluarga besar Ibu Alanda ditambah 150 teman-teman dekat sang pengantin. “Fakta bahwa tidak banyak keluarga dan “tamu VIP” yang hadir di resepsi malam membuat kami bisa lebih bebas bercanda dengan teman-teman, bernyanyi, berdansa dengan lagu Soulvibe maupun karaoke dengan Oomleo,” kisah Alanda. Hal yang mengesankan lainnya di hari pernikahan ini adalah banyak teman yang membantu. Salah satu bridesmaids mendesainkan undangan pernikahan, dilengkapi dengan ilustrasi dan hand-lettering yang dibuatkan oleh dua teman lainnya. Seserahan dibuatkan oleh Tante & sepupu Alanda. Pakaian resepsi Adit yang didesain dan dijahit oleh junior Alanda di sekolah dan kampus. Teman-teman Alanda di Amame Ice Cream Therapy dan Dulcet Patisserie menyajikan desserts di acara resepsi pernikahan. Alanda pun mendapatkan wedding gift spesial dari Diana Rikasari, pemilik label sepatu UP.

Dari sisi Adit, banyak sekali teman-temannya yang juga terlibat di acara pernikahan ini. Mulai dari pemilik katering yang ternyata teman sekolah Adit, begitupun saat memesan cincin yang juga teman SMP Adit dan Soulvide yang juga berteman dekat dengan Adit. Selain itu, kehadiran Oomleo yang pernah bekerja bersama Adit di salah satu acara radionya. “Kami merasa beruntung sekali dikelilingi teman-teman dan keluarga yang begitu murah hati dan mau terlibat di penyelenggaraan pernikahan kami. Ini adalah pernikahan yang kami cita-citakan dan resepsi pernikahan yang dihadiri dan dibantu oleh orang-orang terdekat,” ungkap Alanda.

Top 3 Vendors Pernikahan Pilihan Alanda dan Adit beserta Alasannya:

Agak susah milihnya. Bonus satu boleh ya.

1. Rolas by Suryo Decor

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dekorasi dari Suryo Decor dan second line-nya, Rolas. Ketika pertama bertemu dengan Mbak Kanya, saya menceritakan konsep dekorasi yang saya cita-citakan dan langsung “klik”. Karena keterbatasan budget, saya merasa bahwa saya tidak bisa meminta banyak hal kepada Rolas, yang memang sudah punya kelas dan reputasinya tersendiri. Jadi, saya mempercayakan semuanya kepada Mbak Kanya, bahwa budget saya sekian, dan saya serahkan ke Mbak Kanya saja item-item yang hendak diberikan. Pada awalnya, saya pikir, “Wah, sedih juga ya, kok sepertinya dekorasi pernikahan saya akan polos sekali karena itemnya sedikit.

Ternyata, di Hari H, dekorasinya lebih indah daripada yang saya cita-citakan! Mbak Kanya dan Mas Yarry mengerti betul apa yang saya mau. Mulai dari penempatan dan warna bunga, desain tenda, penempatan lampion, dan lain-lain. Lebih dari itu, ada banyak kejutan yang diberikan oleh Rolas, hal-hal yang tidak ada dalam perjanjian tapi ternyata dihadirkan dan dibuatkan secara cuma-cuma di Hari H.

Saya juga dengar dari WO bahwa Mbak Kanya dan Mas Yarry secara spesifik meminta mereka supaya merahasiakan hal ini dari saya, agar saya tidak tahu bahwa ada banyak kejutan, dan baru melihat “hadiah” ini di acara pernikahan. Saya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan ketakjuban saya melihat karya dan kebaikan hati Mbak Kanya dan Mas Yarry sesampainya di taman. (Salah satu “hadiah” dari Rolas Decor adalah backdrop photobooth yang dihias dengan bunga berwarna ungu. Foto terlampir.)

Pasoetri Weddings

Kinerja Pasoetri Weddings bagus sekali! Kami dibantu oleh Omar, Uti, dan Reni yang sejak awal sudah mengerti betul konsep pernikahan yang cita-citakan. Mereka bisa berimprovisasi dengan baik dan mengambil keputusan yang sejalan dengan pemikiran kami di Hari H. Sama dengan ketika bekerja bersama Rolas, saya merasa ada chemistry yang kuat antara saya dan Adit dengan team leaders dari Pasoetri. Nilai plus lain yang dimiliki oleh Pasoetri adalah fakta bahwa mereka detail-oriented (mereka bahkan mengingatkan groomsmen dan bridesmaids untuk bawa parfum!), all out (mereka memayungkan tamu ketika tiba-tiba hujan turun dengan derasnya), dan sensitif terhadap budaya Indonesia (mereka tahu bagaimana menghadapi keluarga inti, keluarga besar, tamu sepuh dan tamu VIP). Definitely recommended.

Soulvibe

Sebelumnya, saya tidak pernah menonton Soulvibe di resepsi pernikahan. Kami memilih untuk  mengundang Soulvibe karena salah satu kencan pertama kami adalah menonton konser Soulvibe pada tahun 2013, dan personil-personil Soulvibe merupakan teman-teman Adit sejak beberapa tahun silam. Ternyata, sebagai wedding band pun mereka sekeren biasanya! Berkat Soulvibe, kami jadi bisa punya resepsi yang menyenangkan dan seru banget. Di sela-sela pertunjukan, masing-masing personilnya bergantian berbagi cerita yang mereka tahu soal Adit dan beberapa groomsmen-nya. Mereka juga berbaik hati memainkan sejumlah lagu yang kami inginkan untuk ada di pernikahan kami, kendati mereka tidak terbiasa membawakan lagu tersebut.

Lizzie Parra (Ichil)

Menurut saya, membiarkan orang lain mendandani kita adalah soal rasa percaya. Saya memilih untuk didandani oleh Kak Ichil karena saya sudah mengenalnya sejak tahun 2011 dan percaya dengan karyanya. Kak Ichil juga sudah pernah mendandani saya beberapa kali untuk pemotretan. Bisa dibilang, Kak Ichil sudah mengenal wajah saya bahkan sebelum tes make up sekalipun.

Saya puas sekali dengan make up Kak Ichil hari itu. Hampir semua orang yang melihat saya memuji penampilan saya dan make up saya termasuk Adit, yang tidak pernah suka melihat saya dandan. Paling penting dan bagus dari make up Kak Ichil menurut saya adalah fakta bahwa saya bisa terlihat cantik (yang membuat saya percaya diri) tanpa menghilangkan diri saya yang sebenarnya. Saya tetap bisa mengenali sosok yang saya lihat di depan cermin. Kak Ichil juga bisa membuat saya berani terlihat berbeda dan berani tampil dengan lipstick merah gelap dan big hair up do.

Apa Tips yang Ingin Dishare untuk Pembaca The Bride Dept Saat Mempersiapkan Hari Pernikahannya?

Saya dan Adit sangat merekomendasikan pemisahan resepsi untuk keluarga besar dan tamu penting dengan resepsi untuk teman dekat. Dengan begini, kita bisa mendesain acara sesuai dengan tamunya. Suatu hal yang membuat tamu (saya rasa) lebih nyaman. Mungkin, teman-teman orang tua tidak terlalu ingin berlama-lama di resepsi pernikahan, sehingga memang pas dengan konsep salam-salaman di pelaminan. Di sisi lain, mungkin teman-teman kita ingin sekali untuk bisa berlama-lama di acara pernikahan, karena biasanya sekalian reuni. Bagi kami, keputusan ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kami ambil, dan kami menyarankan untuk membagi tamu ini dengan selisih beberapa jam (misalnya jam 15:00 dan jam 19:00, atau jam 11:00 dan jam 16:00, bukan 19:00 dan 20:30).

Sebagai calon pengantin, terutama yang budget-nya pas-pasan, kita harus berani mengeksplorasi dan berkreasi. Sejak ada media sosial seperti Instagram, kadang kita merasa malas untuk mencaritahu. Saya beberapa kali bertemu calon pengantin yang harus merogoh kocek puluhan juta untuk membuat kebaya di penjahit terkenal hanya karena tidak tahu penjahit lain yang bagus, atau membuat undangan di tempat yang harganya lima kali lipat lebih mahal karena ia pikir harga di online shop tidak jauh berbeda dengan di pasar tradisional (hint: harganya bisa beda jauh). Padahal, kita bisa saja menemukan vendor yang bagus dengan harga yang masuk akal jika kita mau lebih rajin mencaritahu. Selain itu, di internet, ada banyak tutorial untuk membuat berbagai hal. Saya bisa menekan budget dengan menghias mahar, mencetak buku pengajian, dan mendesain souvenir sendiri. Coba buat beberapa hal sendiri, paling tidak untuk hal-hal yang kecil. Jangan sungkan juga untuk meminta bantuan teman-teman, terutama bridesmaids dan groomsmen. Kalau kita tidak punya dana untuk menggunakan WO, kita bisa membuat “WO sendiri” yang terdiri dari bridesmaids dan groomsmen juga.

Siapkan energi untuk “drama”! Ada banyak hal yang tidak pernah kita pikirkan tapi ternyata bisa menjadi masalah besar, baik di antara kita dengan pasangan, maupun dengan keluarga besar. Mungkin hal-hal seperti seragam dan siapa yang mengantar CPW ke meja akad tidak terlalu penting di mata kita, tapi bisa jadi penting sekali di mata keluarga besar. Di setiap pasangan, “cobaan” yang datang pasti berbeda-beda, di waktu-waktu yang tidak disangka-sangka pula. Jadi, jangan terlalu lelah dalam menyiapkan pernikahan, sisakan cukup energi untuk berdiskusi dengan pasangan dan keluarga besar. Kadang, diskusi-diskusi ini bisa menguras lebih banyak energi dibanding bolak-balik ke sanggar untuk fitting.

Last but not least: have faith and be kind. Kalau orang bilang, “Orang mau nikah, pasti ada aja rejekinya”, dalam kasus kami, hal ini benar adanya. Rejekinya bisa berbeda-beda bentuknya. Bisa bantuan dari teman, bisa “kehadiran” banyak kenalan di vendor-vendor yang digunakan, bisa sumbangan uang dari keluarga, bisa pekerjaan baru atau gaji yang bertambah, dan lain-lain. Have a little faith.

Shop