Pernikahan Klasik dengan Tema Merah dan Putih ala Hana dan Gillar

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Butuh waktu setahun bagi Hana dan Gillar untuk menegaskan komitmen mereka dalam sebuah ikatan pernikahan setelah menjadi sepasang kekasih pada Mei 2015 lalu. “Aku dan Gillar teman sekantor. Awalnya sih cuma partner kerja. Tiga tahun terakhir, kami temenan dekat. Tapi, kami nggak pernah nyangka kalau bakal pacaran apalagi sampai menikah. Bahkan, orang-orang sekantor juga nggak percaya kalau kami bakal menikah,” tutur Hana memulai ceritanya. Ia tertawa kecil mengenang hal itu.

Menurut Hana, Gillar bukan tipe pria romantis. Karena itu, Gillar terkadang minder karena berbeda jauh dengan mantan-mantan Hana yang sebelumnya terkenal romantis. “Nggak ada sweet proposal kayak di film-film itu. Baru 3 bulan berpacaran, dia langsung bilang mau serius dengan aku dan minta izin sama Papa dan Mamaku untuk menikah denganku.”

Setelah itu, persiapan pun mulai dilakukan. “Yang paling ribet dan lama adalah mencari venue,” aku Hana. Awalnya, mereka berencana mengadakan acara pernikahan di Jakarta, tempat tinggal Hana dan keluarga. Mereka pun mem-booking salah satu gedung di daerah Halim untuk venue acara. Namun, setelah melalui proses diskusi yang lumayan panjang, rencana itu di-cancel. Mereka pun menetapkan hati untuk menikah di Bandung, tempat Gillar dan keluarganya berdomisili. “Bandung juga kota favorit kita berdua,” sebut Hana.

Konsep yang diusung Hana dan Gillar dalam acara pernikahan mereka yang diadakan pada Mei 2016 ini adalah classy dan simple. Untuk itu, Hana menginginkan semua perlengkapan, termasuk kebaya, dekorasi, invitation card, hingga souvenir bertema white classy. Namun, setelah berdiskusi dengan Gillar, ia pun memadumadankan warna dasar itu dengan warna merah, warna kesukaan Gillar.

Untuk kebaya yang dikenakan pada saat akad, Hana tetap memilih warna putih karena melambangkan kesucian. Ia ingin prosesi akadnya terlihat bersih, suci, sederhana, dan elegan. Karena itu, ia juga meminta makeup-nya bisa menyesuaikan dengan tema sehingga tetap terlihat soft. Untuk attire saat resepsi, Hana lebih berani berekspresi dengan memilih tema baju berwarna merah maroon. Makeup yang digunakan pun lebih tegas supaya terlihat manglingi.

Supaya venue terlihat lebih cantik, Hana dan Gillar menggunakan jasa Daff decoration untuk menghiasnya. “Aku cukup bawel soal dekorasi sama vendor. Aku kasih gambaran tema dekorasi yang aku inginkan dan mereka membuatkan gambarnya sampai berkali-kali. Karena aku di Jakarta dan vendor ada di Bandung, kami lebih banyak berkomunikasi via email dan Whatsapp.”

Setelah beberapa kali berdiskusi dan mengganti warna serta desain, akhirnya Hana pun menemukan desain dekorasi yang sesuai keinginannya. “Konsepnya classy tetapi megah karena menggunakan warna merah.”

Pada momen istimewa itu, prosesi adat yang dilaksanakan adalah adat Sunda modern. Selesai akad, ada prosesi sungkeman. Selain itu, ada pula prosesi adat lengser, kirab, dan mapag pengantin. “Yang menjadi favoritku adalah prosesi lengser dan kirab karena kami membuatnya agak berbeda dari biasanya.”

Hana menjelaskan, prosesi adat lengser dan kirab adalah saat ketika pengantin masuk ke area resepsi diikuti barisan keluarga dan dibuka oleh para penari. Namun, supaya berbeda dari biasanya, Gillar mengusulkan supaya ia tidak ikut masuk dengan barisan keluarga melainkan sudah berada di pelaminan.

“Jadi, aku berdiri sendiri. Di belakangku ada barisan keluarga yang siap masuk. Lalu, Gillar datang dari pelaminan dan nyamperin aku sambil memberikan hand bouquet. Pas prosesi ini, lagu backsound dari Adam Sandler yang berjudul I Wanna Grow Old With You diperdengarkan. Para tamu pun bertepuk tangan,” kata Hana.

Selain prosesi adat yang agak berbeda, ada peristiwa lain yang tak bisa dilupakan Hana. “Hampir semua vendorku datang telat karena jalan menuju venue pernikahanku sedang macet parah karena libur panjang. Tapi, mereka semua commit untuk datang pakai gojek satu-persatu dan ninggalin mobil. Sesampainya di gedung, mereka semua nenangin aku yang panik. Alhamdulillah, acara tetap berjalan dengan lancar,” tutup Hana.

Top 3 vendor pilihan Hana adalah:

1. Raden Annisa Brides

“Ini vendor favoritku banget. Dari awal hunting baju, semua tim ramah banget, apalagi owner-nya, Teh Icha yang baik banget. Magic hand-nya bikin semua orang yang datang ke pernikahanku memuji-muji dandananku karena manglingi tapi nggak menor. Bajunya juga bagus-bagus dan bisa request sesuai yang kita mau. Sampai-sampai pada hari-H, aku disuapin sama tim mereka saking baiknya.”

2. Redwhite Photo

“Dari awal aku pakai mereka untuk prewed, orang-orang di Redwhite ini seru banget. Suasana prewed menjadi cair dan seru karena mereka gokil semua. Mereka paling bisa membuat klien bersemangat dan ketawa serta bisa membangun suasana positif. Sampai hari-H pun mereka seru, bikin pengantin nggak tegang. Mereka humoris dan banyak ketawa. Hasilnya pun luar biasa.”

3. Inspiring Music

Owner-nya Mas Raymond. Dari awal meeting, mereka udah asyik banget. Mereka ngikutin apa yang kita pengen, lagu-lagu apa aja yang mau dibawain pada hari-H, dan alat musik apa aja yang mau disediain. Sampai mereka juga membawa fotografer sendiri untuk motoin acara. Orangnya seru-seru banget semua.”

Untuk para brides to be yang sedang mempersiapkan pernikahan, Hana berpesan, “Pastiin dulu konsep apa yang diinginkan. Yang paling penting, pilihlah sanggar makeup dan attire yang paling sreg di hati. Nggak apa-apa mahal dikit, tapi hati puas dan mood bagus selama acara berlangsung. Karena makeup dan attire paling berpengaruh pada mood kita sebagai pengantin perempuan. Selain itu, perlakukan semua vendor dengan baik dan ramah supaya mereka juga baik sama kita sampai hari-H. Setelah acara selesai, hubungan kita dengan mereka pun bisa tetap baik, bahkan bisa menjadi relasi atau teman.”

×