Pernikahan Kombinasi 3 Konsep ala Gema dan Erick

Style Guide

Venue Hall

The Vendors Who Made This Happen

Resepsi

“Awalnya aku nggak mau punya pacar yang berprofesi sama. Aku pernah menjadi pasiennya dan nggak kepikiran untuk deket. Tapi, setelah kami makan bareng, lama-kelamaan jadi nyambung waktu ngobrol,” kisah Gema menceritakan awal mula hubungannya dengan Erick.

Setelah lulus kuliah, Gema membuka klinik dokter gigi. Semakin lama, ia semakin yakin ditakdirkan bersama Erick karena pria itu bisa diajak berbagi informasi, tugas, dan keluh kesah.

Perbedaan Suku

Hanya saja, perbedaan suku di antara keduanya sempat membuat Gema ragu. Sebelum berpacaran, ia meminta Erick bertanya kepada keluarganya yang bersuku Batak perihal perbedaan tersebut. Beruntung, keluarga Erick menerima dengan hangat. “Aku nggak mau mencoba bepacaran kalau nanti ujungnya nggak bisa (bersama). Akhirnya, kami pun berpacaran 3,5 tahun sebelum menikah.”

Terkait perbedaan suku tersebut, Gema mengaku memang cukup sulit untuk beradaptasi. Apalagi karena ia sebagai orang Jawa terbiasa berbicara dengan nada yang lemah lembut. “Batak cenderung berbicara dengan frontal. Namun, pemikiran mereka di depan dan di belakang kita sama. Jadi, aku nggak perlu menebak-nebak.”

“Erick juga selalu mengajari aku jika there’s no life like a fairy tale. Kehidupan berumah tangga pasti ada lika-likunya, hanya bagaimana kita bisa menyikapi dan menanganinya. Dia suka kasih aku low expectation biar ke depan nggak kecewa. Tapi, reality-nya dia ngasih lebih dari yang aku bayangkan.”

Prosesi Jawa dan Batak

Pada hari ulang tahun Gema yang ke-24, yaitu 21 Juni 2015, Erick melamar. “Ia melamarku di depan keluarga dan teman-temanku. Ternyata, sebelum itu, ia sudah diam-diam bertemu dengan keluargaku dan meminta izin untuk propose aku,” ujar Gema.

Untuk acara pernikahan, mereka menggabungkan prosesi Jawa dan Batak. Maknanya adalah saling menghargai keanekaragaman. “Jangan suka memandang dari sudut pandang kita saja karena banyak orang di luar sana yang punya pandangan lain yang berbeda berdasarkan kebiasaan dari kecil dan yang diajarkan oleh suku kita. Jadi, kita nggak bisa langsung memaksakan kehendak. Kita butuh tahu pandangan orang lain. Jangan langsung mengambil keputusan seakan pendapat kita pasti benar.”

Untuk momen spesialnya tersebut, Gema menjahitkan wedding dress di penjahit langganannya, yaitu Reds Ari. Sementara itu, kebayanya dibuat oleh Myrna Myura. Keduanya ia peroleh dengan harga yang cukup terjangkau.

 

Mengenai paes dan sortali, Gema mengaku sama sekali tidak mengalami kesulitan. Ia justru bersyukur bisa memakai kedua hal itu di hari bahagianya. “Tapi, butuh waktu yang lama untuk membersihkan paesnya. Setelah nikah malah lebih sibuk untuk membersihkan paes,” katanya tertawa.

Top 3 vendor menurut Gema adalah:

  1. Tari Donolobo (Hair Do)
  2. Irwan Riady (Makeup Artist)
  3. Diera Bachir (Photography dan Videography)

Bagi Gema, momen yang paling berkesan adalah ketika mereka mengucapkan janji nikah. Itu adalah waktu untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidup, yaitu untuk memilih pasangan seumur hidup.

Pesan Gema kepada calon pengantin adalah, “Yang penting ada komunikasi dan usahakan selalu mulai dengan berdoa. Banyak yang bilang kalau mempersiapkan pernikahan banyak berantemnya, baik dengan pasangan atau orang tua. Puji Tuhan, kami bisa menghadapinya bersama-sama.”

“Dari situ kami bisa saling mengerti apa yang diinginkan. Aku juga bersyukur punya keluarga besar yang mendukung aku. Apa yang kami pikirkan cenderung sama sehingga meminimalisir debat. Saranku, selesaikan dahulu urusan akad atau pemberkatan serta keputusan setelah nikah. Jangan terlalu fokus untuk resepsi,” lanjutnya.

“Di sini aku juga masih belajar. Jadi, mari sama-sama berdoa agar kita bisa menjalani pernikahan yang bahagia dan berkah untuk orang banyak,” tutup Gema.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *