Pernikahan Kunto Aji & Dewi Syariati

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Rumah Ranadi

Make Up Artist Marlene Hariman

Pemandu Adat Tari Donolobo

Bride's Attire Tari Donolobo

Invitation Pop Your Heart

Catering Dwi Tunggal Citra

Resepsi

Venue Rumah Ranadi

Make Up Artist Marlene Hariman

Hair Do Marlene Hariman

Bride's Attire Cynthia Tan

Invitation Farid Stevy

Catering Dwi Tunggal Citra

“Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa. Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya. Walau jauh dilubuk hati, aku tak ingin terus begini. Aku harus berusaha, tapi mulai dari mana. Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri. Lama tak ada yang menemani rasanya. Sudah terlalu asik sendiri, sudah terlalu asik dengan duniaku sendiri. Lama tak ada yang menemani rasanya.”

Lirik lagu yang dibawakan Kunto Aji tersebut memang terdengar miris dan prihatin. Untungnya hal tersebut tidak terjadi dalam kehidupan nyata percintaan Kunto Aji. Selama 10 tahun belakangan ini, selalu ada Dewi kekasih hati yang menemani Aji dalam setiap perjalanan hidupnya. Kabar bahagia pun baru saja datang dari mereka berdua yang beberapa waktu lalu melangsungkan pernikahan.

“Pertama kenal dengan Aji saya kesal sekali karena Aji orang yang sangat menyebalkan. Belum kenal saja Aji sudah mengejek saya karena saya terlalu pendiam. Aji bilang dia bisa mati kebosanan jika dengan orang seperti saya,” ungkap Dewi tentang pertemuan pertamanya dengan Aji. Kala itu Dewi baru saja pindah dari Balikpapan ke SMA 9 Yogyakarta tempat Aji sekolah. Dewi mengaku dirinya memang pendiam dan tidak banyak bergaul. Berbeda dengan Aji yang merupakan ketua OSIS dan sangat supel, sampai-sampai hampir satu sekolah mengenal dirinya. Mereka akhirnya semakin dekat ketika Dewi duduk semeja dengan sahabat Aji. Aji jadi semakin sering main ke kelas Dewi dan mengajaknya ngobrol. Sifat Dewi yang selalu tertutup berhasil dicairkan oleh Aji yang pembawaannya selalu humoris dan ceria. Aji menyatakan perasaannya justru di saat mereka akan lulus SMA. Saat itulah Aji berhasil menjadi pacar Dewi yang pertama dan juga yang terakhir.

Siapa yang bilang bahwa hubungan LDR akan sulit untuk dipertahankan? Aji dan Dewi berhasil mematahkan pandangan tersebut. Mereka berhasil menjalani 10 tahun masa LDR sampai akhirnya menikah. Hebat ya, brides! “Selama 10 tahun ini perjalanan kami tidak mudah. Kami tidak pernah tinggal dalam satu kota dan bahkan pernah selama 3 tahun terpisah jarak yang sangat jauh, yaitu ketika saya kuliah di Rotterdam dan Aji di Jakarta. Sebenarnya cobaan sangat banyak karena kami sibuk dengan urusan kami masing-masing dan tentunya selama 10 tahun berjauhan. Secara pribadi kami juga berubah satu sama lain. Namun, kami ingat tujuan untuk terus bersama dan yang terpenting adalah kami ada untuk satu sama lain. Aji tidak pernah kasih janji-janji manis. Dia bilang masalah ada untuk membuat kami berdua jadi lebih kuat dan hubungan kami pun bukan hanya sekedar untuk senang-senang saja, tapi untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Walaupun klise sekali, tapi kunci dari LDR adalah komunikasi. Sesibuk apapun tidak ada alasan untuk tidak berkomunikasi. Komunikasi disini bukan hanya saling memberi kabar, tetapi juga bertukar pikiran, mencari solusi, atau membahas mimpi-mimpi kami,” cerita Dewi.

Jika kamu sempat menyaksikan acara Anugerah Planet Muzik Award yang berlangsung di Singapura Oktober silam, kamu pasti mendengar saat di mana Aji mendapatkan penghargaan lagu terbaik Indonesia. Saat itu, dia speech di hadapan ribuan orang. “Penghargaan kali ini saya tujukan untuk orang yang selalu mendukung saya selama ini. Dewi Syariati, marry me!” ucap Aji sambil mengangkat trophy penghargaannya. Tak pelak semua orang yang hadir di sana turut kaget dan senang mendengarnya.

Dewi dan Aji pun sepakat menggelar acara pernikahan di Jakarta. Dewi sendiri merasa cukup kerepotan saat harus bolak balik Jakarta dan Yogyakarta, tempat Dewi tinggal. Orang tua mereka ingin mengundang banyak tamu karena mereka sama-sama baru pertama kali menggelar acara pernikahan untuk anak mereka. Namun, Dewi dan Aji menginginkan acara pernikahan yang intimate. Sebagai jalan tengahnya, mereka membagi dua acara resepsi di mana pada siang hari dikhususkan untuk tamu-tamu dari keluarga dan kerabat serta kolega orang tua mereka, sedangkan resepsi di sore hari mereka mengundang sahabat dan teman terdekat mereka berdua saja.

Undangan yang mereka buat sangat unik karena didesain khusus oleh desainer favorit Aji yang juga mendesain album Aji. “Aji sudah lama kagum dengan sosok Mas Farid Stevy. Baik design-nya dan cara berpikirnya. Untuk pemilihan warna undangan, saya sendiri yang memilih warnanya. Simple karena saya suka warna tiffany blue. Untuk undangan resepsi siang, kami berdua sengaja memasukkan elemen pohon kelapa karena seluruh bagian kelapa itu berguna. Kami ingin menjadi manusia yang berguna untuk orang lain. Padi, karena kami berdua suka filosofi padi, makin berisi makin merunduk. Terakhir, pinguin yang artinya kesetiaan, karena pinguin binatang yang setia dan hanya memiliki satu pasangan hidup.” jelas Dewi.

Rumah Ranadi mereka pilih sebagai venue pernikahan mereka dengan alasan konsep dan nuansa Jawa yang sangat kental oleh tempat tersebut. Mereka mengaku, bahwa langsung jatuh cinta ketika pertama kali datang mensurvei ke Rumah Ranadi. Untuk akad nikah dan resepsi di siang hari, Dewi tampil cantik dengan riasan adat Yogyakarta, yaitu Paes Ageng. “Bagian yang paling mengharukan dari pernikahan kami berdua adalah pada saat akad nikah dan bagian ketika saya minta izin kepada kedua orang tua,” kenang Dewi.

Acara berlanjut di sore hari yang sifatnya lebih santai. Dewi memilih untuk memakai dress dan mengubah tampilan riasan dan hair do. Awalnya Dewi sempat khawatir bagaimana riasan untuk sore hari setelah menjalani riasan paes karena Dewi tahu bahwa akan ada bekas kerikan paes. Untuk itu Dewi dan tim MUA menyiasatinya dengan memakai hiasan tepat di depan poni bekas paes. Tips untuk para brides-to-be yang harus mengganti hair do dalam satu hari di waktu yang sempit sebaiknya tidak memilih hair do yang membutuhkan sasakan di pagi atau siang harinya. hal ini agar memudahkan kamu berganti tatanan rambut ya, brides.

“Resepsi sore temanya santai. Kami memberlakukan dress code formal with sneakers. Dari pengalaman saya tiap ke acara resepsi pernikahan, kaki saya selalu sakit karena saya tidak suka pakai high heels. Dresscode itu pun berlaku buat saya dan Aji. Kami berdua mengenakan sneakers, karena dress saya panjang jadinya tidak keliatan. Acara yang santai membuat saya dan Aji bisa mingle, ngobrol dan foto-foto sama teman-teman. Ya pokoknya kami ingin acaranya mengalir begitu saja seperti teman-teman yang datang main ke rumah kami hehehehe.” cerita Dewi.

Untuk Dekorasi Dewi tetap mempertahankan nuansa Jawa dari Rumah Ranadi dan kemudian menambah akses manis dengan bunga baby’s breath yang simpel dan cantik. Selain itu, kursi pelaminan mereka juga ditambahkan tulisan tuan dan nyonya yang berkesan sangat “Jawa”. Dewi juga bercerita tentang wedding dress yang dia dapatkan di hari-hari terakhir dengan cara tidak sengaja ketika sedang iseng membuka Instagram. Dewi jatuh cinta dengan dress dari Cynthia Tan tersebut yang memang sesuai dengan impiannya, yaitu ringan, tidak berat, tidak terbuka, berwarna putih, dan memiliki cape.  “Langsung saya tanya apakah available atau tidak. Ternyata masih available jadi saya langsung janjian fitting di H-5. Pas dicoba ternyata cocok sekali dengan badan saya. Mungkin ini yang namanya jodoh,” lanjut Dewi.

Ada kejadian lucu saat akad nikah berlangsung dan Aji sudah rapih dengan busana adat Jawanya. Susah payah Aji harus membongkar kembali semua busana adatnya karena ingin pergi ke toilet. Menurut Dewi, Aji selalu bolak-balik ke toilet apabila sedang grogi menjelang naik panggung untuk menyanyi. Ternyata saat akad, hal itupun terjadi juga, haha.

Menutup cerita, Dewi dan Kunto Aji tidak lupa memberikan pesan dan tips kepada brides to be:

Dewi Syariati :

“Karena kecapekan dan stress, saya tidak sempat melakukan perawatan apa-apa dan kulit saya malah jadi jerawatan parah. Sesibuk dan secapek apapun kalau bisa sempatkan diri untuk perawatan. Jika kalian stress, sabar saja. Semua pasti terbayar kok dan setiap pasangan punya jalan dan cerita masing-masing. Jadi, jangan membanding-bandingkan karena yang paling tahu pernikahan kita adalah kita berdua. Kalau ada yang memberi masukan setengah memaksa dan dirasa tidak mungkin jangan dipaksakan, tetap fokus dengan apa yang kamu mau. Penyebaran undangan yang paling menyita perhatian saya da Aji. Kami tidak menyangka kalau ternyata mengumpulkan contact teman-teman itu susah sekali dan walaupun kami sudah membuat list, tetap saja banyak yang terlewat. Jangan lupa juga untuk konfirmasi kembali setelah undangan dikirim. hal ini untuk memastikan mereka benar- benar menerimanya.

Kunto Aji :

“Dengan siapapun bekerja sama pastikan semua ada di kontrak secara detail. Jangan sampai kecewa di hari H dan menyesal akibat vendor. Karena menikah hanya sekali.”

Top 3 vendor pilihan Dewi :

  1. Marlene Hariman

“Cita-cita saya dari dulu jika menikah make up harus dengan Marlene. Saya jatuh cinta dengan hasil make up Marlene dan yakin kalau di tangan Marlene saya akan disulap jadi cantik. Hasil riasan yang tidak sesuai keinginan pasti membuat bad mood, makanya untuk urusan make up ini saya tidak mau main-main. Pilihan saya tepat dan sesuai ekspektasi bahkan lebih. Marlene sendiri pun sangat baik dan menyenangkan. Paling kagum sih sewaktu akad nikah. Pada saat berlangsung, acaranya panas sekali dan saya basah dengan keringat. Dalam hati saya gelisah memikirkan make up, ternyata saat saya bercermin saya kaget karena riasannya masih utuh dan menempel.

2. Tari Donolobo dan Sri Renggo

“Tante Tari ini sangat menyenangkan dan beliau sangat membantu sekali. Setiap bertemu rasanya jadi tenang dan senang karena beliau juga memberi masukan dan cerita-cerita. Untuk paes ageng ini saya survei dan menurut saya hasil paes ageng yang paling rapi dan bagus adalah tante tari. Untuk perlengkapan adat dan penyewaan baju adat, saya pesan melalui kakak Tante Tari, Ibu Sis. Beliau juga sangat baik dan memberikan wejangan-wejangan yang bikin semangat lagi setelah capek dengan semua urusan pernikahan. Menurut saya sangat penting bekerja sama dengan orang-orang yang tidak hanya kerjanya bagus, namun personal juga baik, pengertian, dan menolong agar kita tidak tambah stres.

3. Dwi Tunggal Catering

“Banyak yang memuji makanan pada hari itu, bahkan setelah acara selesai banyak yang menanyakan tentang catering-nya. Pokoknya puas dengan catering dari Dwi Tunggal.”

×