Pernikahan Multikultural di Tugu Kunstkring Paleis

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

International

Venue

Restaurant

Colors

Vendor That Make This Happened

Resepsi Pernikahan

Venue Tugu Kunstkring Paleis

Wedding Organizer Manten Party

Event Styling & Decor Twist Event

Photography Soe and Su

Videography Atipattra

Make Up Artist Lizzie Parra

“And now these three remain, faith, hope and love. But the greatest of these is Love. The Bible’s word on above is exactly reflect our relationship,” ucap Susan saat bercerita tentang perjalanan cintanya dengan Dana. Susan dan Dana bertemu pertama kali di Bali secara tidak sengaja karena teman mereka saling mengenal. Sepulangnya dari Bali, mereka pun semakin dekat dan memutuskan untuk pacaran. Mereka sempat beberapa kali memutuskan hubungan mereka namun ternyata hubungan mereka malah semakin kuat. Walaupun sempat ditentang oleh keluarga dan teman – teman mereka namun mereka tetap bertahan hingga akhirnya semua yang dulu menentang justru merestui hubungan mereka dan mendukung mereka untuk lanjut ke hubungan yang lebih serius.  

Tantangan terbesar bagi Susan dalam merencanakan pernikahannya sama seperti yang dialami oleh kebanyakan para brides di Indonesia, yakni menyatukan keinginan kedua belah pihak keluarga  Susan dan Dana yang berasal dari memiliki darah campuran dari berbagai berusaha untuk memunculkan setiap identitas dari masing – masing budaya di dalam pernikahan  mereka. Seperti saat mereka mengadakan acara sungkeman dari adat Jawa dan juga Tea Pai yang berasal dari adat Tionghoa. Susan mengakui bahwa hal ini memang cukup merepotkan namun membuat mereka dan seluruh keluarganya puas.   

“Tema resepsi dan pernikahan kami adalah 1920s : The Great Gatsby. Tema ini muncul sesudah kami memilih venue yaitu Tugu Kunstkring Paleis. Tempatnya sudah cantik dan bertema Indonesia – Peranakan era 1916an. Lalu kami memikirkan tema yang berhubungan. Sejak awal juga Dana sudah meminta jika dia ingin menggunakan tuxedo pada saat resepsi hahaha. Di samping itu kami berdua ingin sekali para tamu hadir dengan dresscode yang cantik dan tampan. Kami pun membuat dresscode yaitu dress and bow tie. Awalnya orang tua sempat bingung apakah para tamu akan rela untuk pakai tuxedo atau berdandan ala 1920an, namun tanpa diduga para tamu justru semangat dan mostly mengikuti dresscode. Senang melihatnya!” cerita Susan bersemangat.

Susan bekerja sama dengan Twist Event yang merupakan teman dari mereka berdua untuk mendekorasi bagian taman yang digunakan sebagai tempat untuk acara adat Jawa. Tema yang ditonjolkan adalah Classic and Glam 1920s traveler wedding. Pada area ini Susan banyak menghadirkan ornamen – ornamen tentang travelling sesuai dengan hobi mereka yang suka  berpetualang.

Susan tampil sangat cantik dibalut dengan wedding dress rancangannya sendiri. Susan sangat puas dengan hasil rancangannya, begitupun para tamu yang banyak memujinya. Bahkan salah satu temannya sampai mau membeli wedding dressnya tersebut!  “Awalnya sempat kepikiran untuk menggunakan jasa designer, tetapi seperti ada perasaan kurang puas karena maunya sesuai dengan yang aku inginkan. Jadilah aku merancang, memilih bahan, bahkan sampai ikutan menjahit dan memayet beberapa detailnya sendiri. Walaupun jika dihitung total biayanya sebenarnya hampir sama dengan jika diberikan kepada designer. Namun kepuasannya berbeda. Puji Tuhan banyak yang memuji bahkan salah satu teman meminta aku untuk menjual dress  tersebut kepadanya,” ungkap Susan.

Bagi Susan dan Dana yang di awal hubungannya sempat merasakan berbagai macam tantangan, maka momen dimana mereka disahkan menjadi suami istri adalah highlight dari pernikahan mereka.  Susan juga berpendapat bahwa ada baiknya untuk para brides to be merencanakan sebuah after party untuk pernikahannya. “Buat aku, momen paling berkesan adalah pada saat after party. Karena kami benar – benar merasakan kegembiraan bersama dengan teman – teman dekat kami. Berdansa, ngobrol dan tertawa bersama. Pada saat resepsi kami sama sekali tidak merasakan apapun karena harus fokus di pelaminan, hahaha. Selain itu, jangan lupa untuk komunikasi yang baik dengan pasangan dan selalu berpikir positif. Dalam memilih vendor pun tidak perlu terlalu banyak pilihan, karena biasanya akan membuat bingung. Lebih baik jika sudah suka langsung saja booking,” ujar Susan.

Top 3 vendor pilihan Susan :

1. Atipattra

“Foto dan video prewedding serta wedding kami dibuat dengan sangat bagus oleh mereka.”

2. Lizze Parra

“Selain karena teman, Icil sukses membuat aku seperti princess pada hari H.”

3. Tugu Kunstkring

I love their place, great food, and great people!”