Pernikahan Percampuran Dua Budaya Ala Nadia dan Matthias

By Anita Ve on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Hotel Singgasana Surabaya

Event Styling & Decor Clara Florist

Pemandu Adat Raddin Wedding

Photography Ruang Photoworks

Sama-sama berkuliah di Taiwan, jalinan pertemanan antara Nadia dan Matthias yang seorang warga Jerman pun tumbuh menjadi benih-benih cinta.

“Kami dulu teman sekelas di Universitas Tsing Hua, Taiwan,” kenang Nadia ketika ditanya bagaimana ia dan Matthias bertemu untuk pertama kalinya. Matthias yang mengikuti program pertukaran pelajar pun bertemu dengan Nadia di kelas Research and Development. “Kami berteman dan sering membahas hal-hal seputar pelajaran tapi kami baru berpacaran setelah kembali dari menonton festival musik.”

Keduanya pun menjadwalkan pertemuan setiap 5 bulan sekali, entah itu di Taiwan, Jerman, maupun Indonesia, hingga ke beberapa negara lain seperti Hong Kong dan Filipina. “Setiap dapat kesempatan cuti, kita selalu beli tiket pesawat untuk bertemu satu sama lain.”

“Waktu itu di bulan Desember, kita pergi ke Salzburg Austria dan mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah termasuk tempat favorit saya di Schloss Leopoldskron.” Nadia sangat suka dengan tempat bersejarah ini karena mengingatkannya akan film favoritnya, The Sound of Music.

Tiba-tiba saja Matthias berlutut dan mengeluarkan sebuah cincin. “Dia berlutut dan meminta saya untuk menikah dengannya, saya sangat terharu,” kenang Nadia. Ketika ditanya tentang hubungannya dengan Matthias, Nadia mengatakan, “Meski kita punya banyak perbedaan tapi kita saling melengkapi. Saya merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. We are living each other’s dreams.”

“3 tahun kami berpacaran layaknya nomaden, akhirnya kami memutuskan untuk menikah di kampung halaman saya, kota Surabaya.”

Meski sedang musim hujan, namun cuaca tanggal 4 Juni begitu cerah. Matthias dan Nadia pun mengikat janji yang disaksikan oleh keluarga dan kerabat terdekat. “Malamnya kami melakukan upacara pernikahan khas adat Jawa lengkap dengan prosesi Widji Dadi dan Dhahar Kalimah.”

Nadia pun menceritakan momen-momen lucu saat Matthias kesulitan duduk untuk proses sungkeman serta ukuran kopiah yang kekecilan. Tapi Matthias bersemangat melakukan prosesi Widji Dadhi (proses injak telur) karena kakinya akan difoto, dan juga melakukan pedicure untuk persiapan pengantin pertama kali dalam hidupnya. “Matthias sangat ingin tahu, mengapa mempelai lelaki memakai keris, mengapa harus minum air kelapa muda saat panggih,” ungkap Nadia.

Raddin Wedding pun dengan sabar menjelaskan inti setiap prosesinya, seperti mengapa bentuk blangkon menonjol di belakang. “Bagi Matthias bentuk blangkon sangat aneh,” katanya. Namun tim Raddin menjelaskan falsafah Jawa dari sebuah blangkon, bahwa masyarakat Jawa menyukai tutur kata yang halus dan segala tindak-tanduk yang buruk diletakkan di belakang.

Nadia juga mengenang momen dimana MC panggih harus mengingatkannya agar menyendok nasi perlahan-lahan saja, “Saya sangat bersemangat untuk menyendok nasi kuning sesuap penuh,” kenangnya. Waktu itu MC sedang berbicara dengan bahasa karma inggil dan ia pun ganti mode bahasa untuk mengingatkan kedua mempelai.

Saat proses sungkeman, atmosfir haru pun menghampiri kedua mempelai dan keluarga karena orang tua Nadia mengucapkan nasihat dalam bahasa Inggris yang terbata-bata namun terasa sangat tulus. “Sayangnya, ortu Matthias tidak dapat hadir karena kondisi kesehatan nenek-nya yang berada dalam koma.”

Resepsi pernikahan Matthias dan Nadia dilakukan di Singgasana Hotel dengan konsep pesta kebun yang santai. “Ada 250 undangan yang kami bagikan dan instrumen pengiring manten pun kami buat sederhana dengan alunan gending Jawa,” jelas Nadia yang mengatakan bahwa penggunaan gending itu ide dari ayahnya.

“Konsep dari resepsi kami adalah adat muslim-abangan Jawa dengan tema garden party yang sederhana.” Hal ini dikarenakan keluarga Nadia yang asli Magetan sehingga paes nikah menggunakan corak dari adat Putri Solo. Untuk busana, kedua mempelai mengenakan tiga macam busana, mulai dari warna putih untuk akad nikah, cokelat tua untuk Panggih, dan baju tradisional beludru hitam untuk acara resepsi dengan tamu.

Dekorasi akad juga bernuansa romantis lengkap dengan bunga mawar merah segar. Sedangkan dekorasi Panggih dan resepsinya menggunakan tema pink garden (pink, ungu, dan putih). Suasana tamana yang asri, langit berbintang, berbagai macam bunga segar dan lampu temaram kecil menghiasi pernikahan Matthias dan Nadia.

“Jika tamu biasanya datang dan pergi, para tamu kami bisa leluasa ngobrol, duduk di bawah pohon, dan bercengkrama dengan keluarga kami di bawah pendopo-pendopo kecil.” Suasana pesta yang intimate ini juga dibarengi dengan hidangan favorit khas daerah seperti Rujak Cingur, Tahu Campur dan lain sebagainya. Awalnya, keluarga memesan 275 porsi tapi ternyata harus menambah 50 porsi lagi. “Tamu kami ternyata sangat suka jajanan kecil seperti kebab dan siomay.”

Keduanya juga berencana untuk ke Jerman di bulan Agustus dan mengadakan pesta perayaan kecil-kecilan disana.

Ketika ditanya, momen apa yang paling berkesan, tanpa pikir panjang, Nadia pun menjawab, “Saat Matthias berhasil mengucapkan ijab dengan bahasa Indonesia yang lancar!” Menurutnya, hal itu tidak mudah apalagi untuk Matthias belum begitu memahami bahasa Indonesia. “Hal ini menunjukkan keseriusan Matthias dalam menjalani pernikahan adat dan menghormati setiap prosesinya,” puji Nadia terhadap suaminya.

“Prosesi akad nikah kami menggunakan bahasa Indonesia karena ayah saya kesulitan dalam mengucapkan bahasa inggris.” Matthias pun tak segan menghafal dan mempelajari tata cara Panggih lewat YouTube dan mencatatnya supaya selalu ingat.

Nadia pun sangat bangga dengan Matthias yang berniat membawa budaya salim (cium tangan) ke Eropa! “Nantinya anak-anak kami juga akan diajarkan tradisi ini,” katanya.

Kedua mempelai ini memiliki banyak perbedaan namun ternyata itu bukanlah suatu halangan. “Kami berencana untuk mempelajari budaya Asia dan Eropa lalu mengambil intisari baiknya,” jelas Nadia yang menganjurkan setiap pasangan untuk mempelajari dan menerima perbedaan apapun.

Top 3 Vendor Favorit menurut Matthias dan Nadia:

1. Singgasana Hotel

Menurut Nadia, manajemen Singgasana Hotel bekerja dengan sangat professional. “Pihak hotel sangat menekankan kecepatan, kelezatan dan ketersediaan hidangan.” Hal ini yang membuat pasangan ini memuji pelayanan Singgasana Hotel. Nadia mengaku sangat terbantu karena pihak keluarga sudah tidak perlu pusing dengan hal teknis.

 2. Raddin Wedding

“Mbak Eka sangat knowledgeable,” puji Nadia saat ditanya bagaimana pengalamannya berkomunikasi dengan pemilik Raddin Wedding. “Payet-Payetnya indah dan fitting-nya sangat pas!” Nadia dan Matthias pun merasa puas dengan hasil kerjanya. Nadia juga sempat memuji selera musik Mbak Eka yang cukup membantu menciptakan mood yang menenangkan. “Saat make up session, Mbak Eka memutar lagu top 40 yang kalem.”

 3. Ruang Photoworks

Nadia menemukan Ruang Photoworks lewat Instagram dan sangat memuji hasil jepretan dan video wedding yang di posting disana. “Style foto Ruang itu white-clear dan ekspresif,” puji Nadia. Menurutnya, hasil foto Ruang sangat mencerminkan kepribadian pasangan ini yang tampak sangat ceria di foto.

Apa tips dari Nadia untuk brides-to-be yang sedang mempersiapkan pernikahannya?

“Kemantapan dan ketenangan batin,” Nadia mendeskripsikan sebuah pernikahan sebagai momen sakral sehingga pasangan harus yakin satu sama lain dan terbuka satu sama lain. “Menjelang hari H, aka nada banyak tantangan yang tidak mudah.” Menurut Nadia, para calon bride jangan mudah terbuai oleh nama-nama vendor yang besar karena mereka bisa saja menambahkan banyak detail yang tidak kamu perlukan. “Tambahan ini-itu terkadang tidak perlu dan hanya keinginan sesaat saja,” tegasnya.

Bagi Nadia, mood pasangan, perencanaan finansial, kesiapan keluarga dan komitmen pasca pernikahan merupakan hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan.