Pernikahan Perpaduan Adat Gorontalo dan Sunda ala Carra dan Aria

By Ikke Dwi A on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Dharmawangsa Hotel

Event Styling & Decor Airy Designs

Photography Sweet Day Studio

Bride's Attire Anne Avantie

Make Up Artist Petty Kaligis

Wedding Organizer Amaya Wedding

Resepsi Pernikahan

Bride's Attire Dieva Ipeh

Pernikahan adat Jawa dan Sunda dalam satu hari pernikahan mungkin sudah biasa. Lalu bagaimana jika adat Jawa, Sunda ditambah Gorontalo dipadukan dalam satu hari pernikahan? Penuh dengan warna pastinya dan semakin menandakan betapa kayanya ragam budaya Indonesia itu.

Bagi Carra dan Aria menyelenggarakan hari pernikahan dengan budaya tradisional merupakan suatu kebanggan tersendiri. Selain mereka menyukai adat budaya tradisional dan tanpa disadari mereka juga turut melestarikan serta memperkenalkan budaya leluhurnya pada orang lain.

Masa Perkenalan

Carra dan Aria merupakan teman satu sekolah di SMA Labschool Kebayoran. Saat itu Aria sebagai kakak kelas dan berbeda satu angkatan di atas Carra. Pertama kali saling kenal setelah keduanya menjalani acara sekolah bernama Trip Observasi.

Sampai akhirnya mereka mengobrol melalui instant messaging (MSN), surat-suratan, dan akhirnya jalan bareng. Terhitung sejak Mei 2006 keduanya berpacaran dan jika dihitung maka sudah bersama selama sembilan taun.

The Proposal

Walaupun acara lamaran tidak romantis namun tetap saja akan berkesan dan terkenang sepanjang usia. Begitu pun dengan Carra yang mengaku tidak ada acara lamaran yang manis.

Kejadiannya suatu hari tiba-tiba saja Aria meminta bertemu di salah satu mall Central Jakarta. Dan saat bertemu, Aria langsung bertanya mau memilih cincin yang mana. Tidak disangka cincin tersebut untuk melamar Carra.

“Aria itu orangnya well prepared banget, jadi dia pengen diwaktu meminta ijin ke orangtua aku, dia sudah memegang cincin untuk nikahin aku,” kenang Carra. Beberapa minggu setelah kejadian memilih cincin dadakan tersebut, atau tepatnya bulan puasa tahun 2015, Aria baru berbicara ke orangtua Carra untuk serius dan menyampaikan niatnya untuk menikahi Carra.

Masa Persiapan dan Konsep Pernikahan Carra- Aria

Masa persiapan pernikahan dimulai pada pertengahan Juni 2015, tepat setelah pertemuan informal keluarga Carra dan Aria. Sama halnya seperti calon pengantin lainnya, keduanya pun dihadapkan dengan berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya ada dalam komunikasi. Mengingat Carra dan Aria harus menjalani hubungan LDR antara Bandung dan Jakarta. Sisa tantangan di masa persiapan pernikahan ini menurut Carra dan Aria sih cukup nikmati saja masa-masa ini.

Carra dan Aria mengusung tema traditional wedding. Carra sendiri memang menyukai ragam budaya Indonesia. Kebetulan juga keluarga Carra dan Aria dating dari latar belakang penuh budaya. Aria berdarah Sunda-Jawa, sedangkan Carra Gorontalo dan Sunda.

Keduanya pun memutuskan untuk menggunakan semua adat latar belakang keluarga masing-masing. Carra dan Aria membaginya menjadi, untuk pengajian dan siraman menggunakan adat Jawa, sedangkan akad nikah menggunakan adat Sunda. Sedangkan adat Gorontalo digunakan untuk resepsi.

Uniknya saat resepsi, Carra dan Aria tidak hanya menggunakan adat Gorontalo. Tetapi keduanya memberikan sentuhan Morocco agar masih terasa nuansa modern-nya.

Hmmm bisa dibayangkan bagaimana penuh warnanya hari pernikahan Carra dan Aria bukan?

Prosesi Adat yang Dijalani Di Hari Pernikahan

Mengingat ada tiga adat budaya yang akan digunakan di hari pernikahan, maka cukup banyak prosesi adat yang dijalani. Mulai dari tiga mingguan sebelum acara pernikahan, keduanya menjalni adat Gorontalo bernama “Bontho”. Acara ini berisikan sesi di mana sang calon pengantin didoakan oleh sesepuh menjelang hari H. Tujuannya agar semua persiapan berjalan lancer serta dilancarkan juga latihan menari Tidi Lo Polopalo nya atau tarian tradisional Gorontalo untuk mempelai wanita.

Berlanjut H-1, Carra dan Aria menjalani rangkaian acara adat Jawa, mulai dari siraman, sungkeman, dan midodareni. Kemudian keesokan harinya menjalani prosesi akad nikah menggunakan adat Sunda lengkap dengan rangkaian adat Sunda lainnya seperti sungkem, saweran, melepas burung merpati, memecahkan kendi, membakar sumbu, mencuci kaki suami dengan air kendi, dan lainnya.

Prosesi adat berakhir pada acara resepsi pernikahan, di mana keduanya menggunakan adat Gorontalo. Mulai dari penampilan tari Tidi Lo Polopalo, dan adat lainnya. Mengenai tari Tidi Lo Polopalo yang ditarikan sang pengantin wanita lengkap dengan menggunakan baju adat Gorontalo bernama Biliu. Carra sendiri saat menarikan tarian ini ditemani sang kakak perempuannya yang sudah menikah.

Tidi sendiri memiliki arti tari. Tarian ini diiringi alat tari khas Gorontalo bernama Polopalo yang dipegang oleh sang pengantin wanita saat menari dan terbuat dari pelepah rumbia berbentuk seperti pedang. Tarian ini memiliki makna yang dalam untuk wanita agar selalu bisa membela hak dan kewajibab dalam rumah tangga maupun masyarakat sekitar. Isi dari nyanyian dalam tarian ini pun berisi wejangan untuk pengantin wanita dalam menjalani serta menjaga keutuhan rumah tangganya.

Highlight of the Wedding

Carra dan Aria mengungkapkan rangkaian adat yang dijalani selama hari pernikahan menjadi highlightnya. Khususnya saat harus menggunakan pakaian adat Gorontalo yang khas dan masih kental dengan nuansa klasiknya.

“Satu hal yang berasa berat saat menggunakan pakaian adat Gorontalo adalah peding-peding kuningan yang ditempelkan pada baju maupun yang dijadikan aksesoris,” kisah Carra. Selain itu setiap baju maupun aksesoris yang dipakai oleh sang pengantin juga memiliki arti dan sempat membuat Carra juga Aria merinding.

Carra dan Aria pun menggunakan mahkota Gorontalo serta topi Gorontalo yang super berat. “Tapi benar kata orang-orang jika diiringi dengan doa dan zikir ternyata plong rasanya sampai akhir acara,” kenang Carra.

Untuk momen yang paling berkesan bagi Carra dan Aria semuanya sangat berkesan. Dan semuanya pun memiliki kesan yang berbeda serta mengena di hati keduanya.

With the ups and downs, semuanya memberikan kesan tersendiri untuk kami sekeluarga. Kalau disuruh memilih hanya satu moment, yang paling berkesan pada akad nikah. Karena disitu sakralnya pernikahan benar-benar kerasa banget. Perpindahan tanggung jawab dari papaku ke suami benar-benar bikin perasaan campur aduk.. Mulai dari deg-degan, terharu, sedih, sampai bahagia. Terlebih lagi bisa memakai siger sunda yang cantik impian perempuan-perempuan Sunda hihi,” ungkap Carra.

Siapa Top 3 Vendor Carra dan Aria Beserta Alasannya?

  1. Amaya Wedding: Team yang super helpful dan cekatan. Membantu membuat jalannya semua prosesi lancar dan tepat waktu.

 

  1. Peony Design: Dengan kesabarannya dapat mewujudkan undangan dengan nuansa tranditional yang super fancy sesuai dengan yang kami inginkan. Bahan-bahan yang dipakai walaupun campuran dengan bahan lokal sangat sangat memuaskan.

 

  1. Sweet day studio: The best photographer team! Mereka jauh-jauh datang dari Amerika untuk meliput Indonesian wedding untuk pertama kalinya. Dan surprisingly, beyond expectation.

 

 

Ingin Melangsungkan Hari Pernikahan Tradisional plus Dengan Sentuhan Modern Unik Ala Carra dan Aria? Ini Loh Tipsnya Langsung dari Carra Bagi Pembaca The Bride Dept:

Mungkin tips untuk bride to be dari aku yg pertama adalah komunikasi. Pokoknya komunikasiin semua hal terkait wedding prep nya either dengan pasangan kita atau ibu dari pasangan kita. Kedua, well prepared dalam budgeting. Kalau bisa buat plan a dan plan b agar bisa mempertimbangkan satu dengan yang lainnya. Dan yang terakhir dan aku rasa ini adalah top important thing, zikir dan berdoa. Karena at the end kita juga harus bisa pasrahkan semua sama yang diatas. Pokoknya selalu think positive dan enjoy the journey! Karena InshaAllah hanya dirasakan sekali seumur hidup.

×