Pernikahan Rani dan Anggasta dengan Perpaduan Adat Palembang-Padang

Style Guide

Venue Hall
Color Gold Pink Red

The Vendors Who Made This Happen

Meskipun Anggasta telah menyampaikan keseriusannya kepada orangtua Rani sejak April 2016 lalu, persiapan acara pernikahan baru bisa dimulai pada awal 2017. “Harusnya sudah bisa dimulai jauh-jauh hari, tetapi saya dan keluarga saat itu sedang ribet-ribetnya mempersiapkan pernikahan kakak yang menikah pada Oktober 2016,” ujar Rani mengawali ceritanya.

Hingga 2 minggu sebelum acara, semua persiapan masih berjalan lancar. Setelah itu, problem datang tanpa henti, mulai dari miskomunikasi charge gedung hingga penambahan biaya tak terduga.

Menggunakan Adat Padang-Palembang

Lahir dari keluarga yang kental dengan kebudayaan Palembang membuat Rani memilih adat Palembang sebagai konsep pernikahannya. Untuk itu, tema warna yang digunakan adalah maroon dan gold. Untuk mengimbangi keluarga Anggasta yang memiliki background Jawa-Padang, akad dilangsungkan dalam adat Padang dan Palembang dan dilanjutkan dengan prosesi adat Palembang.

Overall, kami lebih condong ke tema Garden of Palembang’s House, mulai dari akad hingga resepsi. Walaupun terkesan tradisional banget dengan penggunaan rumah limas dan pelaminan Palembang yang didominasi warna maroon dan gold, tetap ada unsur dedaunan hijau supaya lebih modern dan asri. Jadi, kesannya tidak terlalu berat. Ini juga kami terapkan di semua printing material, undangan, suvenir, dan buku pengajian.”

Salah satu prosesi adat yang dilakukan adalah Kandang Adat. Pada acara ini, selembar songket dibentangkan di depan kediaman calon pengantin wanita sebagai pembatas. Lalu, calon pengantin pria datang dan menyampaikan maksudnya. Apabila diterima, songket diturunkan dan ayah ibu calon pengantin wanita memegang kedua ujung songket dan memandu calon mempelai pria ke meja akad.

Setelah selesai akad nikah, ada prosesi berupa cacap-cacapan dan suap-suapan. Pada prosesi ini, Suntiang Padang yang dikenakan Rani diganti Gandik dan Cempaka Suntiang Palembang. Lalu, kedua mempelai duduk di atas kasur Palembang yang melambangkan perahu yang berlayar menuju kehidupan rumah tangga.

Pada prosesi suap-suapan, perempuan yang dituakan, seperti ibu, tante, dan nenek, akan menyuapi kedua pengantin. Tandanya, keduanya harus mulai mandiri. Sementara itu, pada cacap-cacapan, ayah dan lelaki yang dituakan di keluarga akan memberikan doa kepada anaknya dengan mambasuhkan air doa ke ubun-ubun kepala anak. Tujuannya agar anak selalu adem, berkepala dingin, ingat Tuhan dan doa dalam menghadapi ombak sekencang apa pun atau cobaan dalam rumah tangga.

“Tapi, prosesi yang paling heboh menurut saya adalah Tari Pagar Pengantin pada saat resepsi. Tari ini adalah lambang perpisahan pengantin perempuan dari masa remajanya, melepas masa lajang, berpisah dengan teman sepermainan, serta tarian terakhir bagi wanita karena setelah itu tidak diperkenankan lagi menari di depan umum, kecuali atas izin suami. Karena jadwal yang penuh, saya cuma berhasil latihan sekali. Alhamdulillah lancar, walaupun saat menari kuku saya berhasil nempel di suntiang dan baju berkali-kali. But, it was a very fun experience.

Wedding Attire

Untuk wedding attire, Rani bercerita, kebanyakan orang yang tahu ia akan mengenakan kebaya pink pada saat akad terkesan kontra. Pada umumnya, warna kebaya yang biasa digunakan pada saat akad adalah putih.

“Aku sendiri juga nggak menyangka akan mengenakan kebaya pink. Tapi, bener kata orang, rasanya beda banget kalau udah ketemu The One. Begitu melihat bahannya, aku langsung jatuh cinta. Dengan bantuan Tante Oga, kebaya pink itu disulap menjadi super cantik lengkap dengan trail, payet, dan bebatuan swarovsky. Lucunya, semua yang tadinya kontra dengan keputusanku, malah terharu banget melihat aku berjalan ke meja akad. It was perfect.”

Nah, untuk resepsi, ia memilih traditional attire bernama Aesan Gede. Baju ini dibuat dengan songket langsung di badan pengantin. Konon, Aesan Gede adalah pakaian kebesaran Raja dan Ratu Sriwijaya. “Tante Linda yang memimpin Citra Decoration & Salon, sudah seperti tante sendiri karena aku yang turun tangan langsung untuk mengurus pernikahan kakakku. Jadi, pas tahu aku married, Tante Linda nggak setengah-setengah. Semua yang mau dipakaikan ke aku dibawa ke Palembang untuk disepuh emas.”

Top 3 vendors menurut Rani adalah:

  • Petty Kaligis

“Mbak Petty is definitely my hero! She’s very calm. Di-makeup sama Mbak Petty itu damai, tapi seru! Soalnya, celetuk-celetukannya berdua sama Mbak Fifah, asistennya itu, bikin gemes. Yang tadinya agak nervous karena mau nikah, langsung lupa. Mbak Petty juga nggak pelit berbagi tips dalam makeup. Terharu deh jadinya. Udah kondang aja masih mau berbagi. But the most important thing is she made me the best version of myself and on top of that was so fun/easy to work with. Everything was effortless about the entire processfrom Akad to Wedding Reception, I can’t thank you enough.”

  • Citra Decoration

“Ini adalah vendor kesayangan yang udah bener-bener mau ngurusin segalanya dari awal, memandu acara dengan baik, dan menyediakan segalanya all in. Sanggar Citra udah kayak keluarga sendiri karena udah beberapa kali dipakai keluarga besarku. Ada 3 orang yang berhubungan langsung dengan kami, yaitu Tante Linda, Om Achmad, dan Mbak Sari. Service-nya tiada tara, walaupun harus bolak-balik jawab pertanyaanku, even aku nanya jam 12 malam. Request mama untuk membentuk pelaminan seperti rumah limas Palembang dan request-ku yang pengen banyak dedaunan disanggupin Om Achmad dan menjadi perpaduan ciamik. Service Citra mencakup dekorasi resepsi, seragam penerima tamu dan among tamu, songket untuk  keluarga, makeup penerima tamu, among tamu, dan keluarga, hingga memandu prosesi adat. Jadi, as bride, aku bener-bener nggak mikir banyak lagi.”

  • Candid Photographer: Dua Ritme dan David Christover

“Ini perpaduan serasi dari Kangtoprak dan Kangkoran. Bener-bener bikin hati adem. All i know was, we’re in then hand of a professional. Alhamdulillah kesampaian juga difoto sama fotografer kondangnya kondangan. Mas David dan Mas Fendy sangat sabar banget membimbing kami. Mereka mau menuruti permintaan kami yang banyak maunya, walaupun keringat bercucuran dan baju udah basah karena memotret di tengah cuaca superpanasnya Bekasi.

Momen yang paling berkesan bagi Rani adalah saat teman-teman kuliah Anggasta menyanyikan yel-yel jurusan. Tradisinya, pengantin pria turun dari pelaminan untuk memimpin yel-yel, seperti bentuk penghormatan kepada pengantin. “Selama ini aku sering lihat, tapi ternyata rasanya beda kalau mengalami sendiri,” ungkap Rani.

Nah, bagi para brides to be yang sedang mempersiapkan pernikahan, Rani memberikan saran:

  • Yang paling penting menurutku adalah semua harus didiskusikan dengan keluarga, apalagi dengan orangtua. Kalau orangtua belum berpengalaman, kamu bisa minta bantuan Tante dan Om yang sudah pernah menikahkan anak.
  • Jika sudah tahu tanggal untuk pernikahan untuk tahun depan, mulailah tanya-tanya vendor dari sekarang. Ada kemungkinan besar, kamu akan dapat harga tahun ini instead harga tahun depan dengan kemungkinan kenaikan yang agak lumayan.
  • Sebelum deal dengan vendor, tanyakan sekali lagi, “Apakah biaya yang saya keluarkan sudah all in?” Kadang ada vendor yang bandel dan mencari-cari cara supaya kita mengeluarkan biaya tambahan.
  • Carilah teman atau saudara yang bisa kita diajak berbagi. Saya pernah dikasih tahu, pada H-seminggu, otak bride udah mulai error dan nggak bisa diganggu-gugat dengan urusan ini itu.
  • Last but not least, saat mencari vendor photography, yang harus kamu telaah adalah fotografernya. Teman saya pernah pakai vendor A karena dia suka banget hasilnya. Setelah selesai acara, hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Ternyata setelah dicari tahu, vendor A menurunkan fotografer B bukan C yang hasilnya disukai teman saya. Oleh karena itu, selalu tanyakan hasil foto siapa yang kamu lihat sehingga tidak terjadi miskomunikasi. Karena acara pernikahan Insya Allah terjadi sekali seumur hidup, kita harus super hati-hati dalam mengambil keputusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *