Pernikahan Simple dan Elegan di Ayana Resort & Spa Bali a la Michelle dan Sean

By renya_nuringtyas on under The Wedding

Pernikahan Simple dan Elegan di Ayana Resort & Spa Bali a la Michelle dan Sean

Style Guide

Style

International

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Holy Matrimony

Venue Astina Chapel, Ayana Resort & Spa Bali

Event Styling & Decor Sweet Bella Project

Photography Axioo Bali

Make Up Artist Ruth

Hair Do Mimin

Bride's Attire Cynthia Tan

Catering Ayana Resort & Spa Bali

Wedding Organizer Vara Wedding

Videography Bali Metro

Wedding Entertainment Singer: Sara Excellent

Wedding Reception

Venue Ayana Resort & Spa Bali

Event Styling & Decor Sweet Bella Project

Photography Axioo Bali

Make Up Artist Ruth

Hair Do Mimin

Bride's Attire GV by Gabriella & Vania

Catering Ayana Resort & Spa Bali

Wedding Cake Le Novelle

Wedding Entertainment Globand Bali

Invitation Hello Gode

Souvenir Kaminari ID

Master of Ceremony Arnold

Others Custom Angpao

Kegemaran Michelle dan Sean bermusik menjadi cerita awal perkenalan keduanya saat sama-sama kuliah di Ohio State University. Saat itu Michelle dan Sean sering bertemu karena rutin bermain musik bersama dan seringkali mengambil kelas bersamaan. Selain itu mereka juga punya banyak teman yang sama yang membuat mereka menjadi teman baik, sampai akhirnya memutuskan untuk pacaran. “Sean punya selera humor yang luar biasa jayus dan anehnya itu justru membuat kita jadi semakin dekat!,” cerita Michelle.

Setelah beberapa lama pacaran, Michelle dan Sean akhirnya tiba di momen pernikahan yang dilangsungkan di Ayana Resort & Spa, Bali. Saat ditanya mengenai sweet proposal, Michelle bercerita bahwa Sean melamarnya di Ohio yang merupakan tempat dimana mereka pertama kali bertemu dan kenalan. Saat itu Sean mengajak Michelle untuk pergi ke salah satu Brewery terkenal di Ohio dengan alasan ada temannya yang menawarkan mereka untuk photoshoot gratis. Saat sedang foto-foto, Sean memberi kejutan dengan tiba-tiba datang dari belakang sambil membawa cincin dan langsung melamar Michelle. Tidak cukup disitu, ternyata Sean juga menyiapkan kejutan lainnya yaitu engagement party yang sudah disiapkan dengan mengundang sekitar 30 orang teman untuk turut hadir. Engagement party direncanakan dengan sangat matang oleh Sean dan diselenggarakan di sebuah taman yang disulap menjadi cantik dengan hiasan Edison bulbs.

Sean juga ternyata sudah mempersiapkan acara lamarannya dari jauh hari, karena saat Engagement party tersebut Michelle seharusnya menghadiri acara makan malam untuk acara volunteer yang dipimpinnya, tapi ternyata Sean sudah lebih dulu menghubungi Profesor Michelle dan meminta izin kepadanya agar Michelle diperbolehkan tidak datang ke acara makan malam itu untuk acara engagement mereka. Tidak disangka juga, saat Michelle mulai masuk kelas lagi sehari setelah acara mereka, Michelle baru tahu kalau ternyata semua mahasiswa di program Master yang diambilnya sudah tahu tentang berita lamaran Sean sejak awal, dan mereka kompak merahasiakan itu dari Michelle dari beberapa hari sebelumnya.

Merencanakan acara pernikahan yang jauh dari tempat tinggal menjadi tantangan tersediri untuk Michelle dan Sean. Perbedaan waktu 12 jam antara Bali dan Chicago membuat mereka harus lebih kreatif dalam mempersiapkan semuanya, terlebih lagi sebagian besar vendor yang mereka pilih berlokasi di Bali dan Jakarta, jadi mereka baru bisa diskusi dengan para vendor setelah mereka pulang kerja di malam hari dan terkadang komunikasi pun berlanjut sampai subuh. Michelle sangat bersyukur karena vendor mengerti keadaan mereka dan sangat membantu dalam mengakomodir keinginan Michelle dan Sean untuk acara pernikahan mereka. “So thankful to have technology like Facetime and Whatsapp!” cerita Michelle semangat. Bagi Michelle, intinya adalah selalu mengkomunikasikan jadwal dan kondisi masing-masing, jadi di antara client maupun vendor tidak terjadi kesalahpahaman.

Awalnya Michelle ingin menyelenggarakan acara pernikahannya di USA karena faktor lokasi, tapi setelah melihat beberapa venue di Bali, Michelle langsung jatuh hati dan memutuskan untuk memindahkan venue ke Ayana Resort & Spa, padahal undangan waktu itu sudah dicetak oleh Hello Gode team, tapi untungnya belum sempat disebarkan. Ayana Resort & Spa sangat terawat dan sangat cantik dengan banyak bunga menghiasi venue. Selain itu, Michelle juga memilih Resort dibandingkan Villa, jadi ia dan keluarga tidak perlu khawatir ada tamu yang tidak kebagian kamar, karena Ayana memiliki kamar yang banyak dan lokasi yang luas sehingga seluruh tamu pasti mendapatkan kamar masing-masing. Selain itu lokasi Ayana Resort & Spa juga sangat mudah dijangkau dan dapat diakses oleh kendaraan besar seperti bus dan van.

Untuk dekorasi, Michelle memilih dekorasi bertema Rustic yang membuat suasana semakin intimate dan nyaman untuk tamu yang hadir. Unsur dekorasi hanya menggunakan hiasan yang simple dengan lampu-lampu Edison bulbs dan lilin dengan dominan warna wood, champagne, soft pink dan putih. Untuk dekorasi, Michelle dan Sean memilih vendor Sweet Bella Project. Meskipun hanya berkomunikasi melalui WhatsApp, Nicky yang merupakan PIC dari Sweet Bella Project berhasil membuat dekorasi yang sesuai dengan keinginan Michelle, yang diakui sangat detail dengan request warna bunga yang soft, lighting yang warm dengan meja dan kursi kayu yang akan menambah kesan Rustic. Untuk sweet heart table di acara resepsi, Michelle khusus minta dibuatkan background bunga berbentuk bulat. Ia juga menggunakan wreath bulat untuk dekorasi topping kue dan mahkota dari Rinaldy karena menurut Michelle, bentuk bulat melambangkan kesempurnaan, kelengkapan dan an infinity kind of love yang tidak pernah berakhir. Untuk acara pemberkatan, Michelle khusus meminta dekorasi berwarna putih dengan hiasan baby wreath flower yang melambangkan everlasting love, pureness dan innocence.

Dress yang dikenakan Michelle untuk Ceremony dibuat oleh Cynthia Tan yang pertama kali dihubungi oleh Michelle melalui Instagram. Sedangkan dress malam hari dibuat oleh GV atau Gabriella Vania yang memiliki selera yang sangat elegan. Michelle memang sengaja minta dibuatkan dress yang berbahan adem agar tidak panas dengan model yang tidak terlalu heboh. Selain itu, Michelle juga suka sekali dengan 3D flower, jadi ia juga minta dress-nya dihiasi dengan 3D flower yang dibuat dengan warna dasar bernada champagne, sesuai dengan tema acara pernikahannya. Untuk dress, Michelle mengakui bahwa waktu fitting-nya sangat mepet dan fitting pertama baru dilakukan beberapa hari sebelum acara, dan itu pun hanya dilakukan satu kali karena memang sudah tidak ada waktu lagi dan hampir bertepatan dengan libur Lebaran, tapi ia sangat bersyukur karena meskipun begitu, dress yang dikenakannya sangat cantik sesuai dengan keinginan.

Saat ditanya mengenai top vendor untuk acara pernikahannya, Michelle bercerita kalau vendor yang terbaik adalah vendor yang bisa berkomunikasi dan mengerti maksud client dengan baik. Tapi dari beberapa vendor yang mendukung acaranya, menurut Michelle yang menjadi favoritnya adalah Axioo (vendor photo), Bali Metro (vendor video), Vara Wedding (Wedding Organizer) dan tim GV. “Tapi tentunya vendor-vendor lain juga tidak kalah luar biasa dalam kinerja dan kreativitas!”. Tutup Michelle.

Dari seluruh susunan acara pernikahannya, momen yang paling berkesan untuk Michelle adalah saat acara pemberkatan yang dilangsungkan dengan tata cara kepercayaan Kristen, “pada saat Papa menyerahkan tangan saya ke Sean, itu adalah momen yang paling mengharukan karena itu merupakan symbol bahwa orang tua saya melepaskan saya untuk menjadi milik orang lain.” Ujarnya. Di momen itu, seluruh tamu yang hadir sepertinya tidak bisa menahan air mata karena terharu. Selain itu, momen tukar cincin juga sangat mengharukan, karena itu menandakan bahwa mereka Michelle dan Sean telah resmi menikah dan telah resmi menjadi suami istri.

Tidak ketinggalan, Michelle juga memberikan tips untuk para brides-to-be yang sedang merencanakan acara pernikahan:

“Tips yang paling penting adalah untuk membuat budget sebelum membuat rencana-rencana lain seperti venue dan vendor apa yang mau dipakai. Budget wedding bisa disusun sebanyak dan se-sedikit yang kalian mau. Tidak perlu mengikuti wedding orang lain dan merasa harus berkompetisi dengan foto-foto di sosial media. Kalau budget tidak dibatasi di awal, kita akan punya banyak keinginan dan semua akan menjadi overbudget dan bisa menimbulkan diantara pasangan atau diantara keluarga.”

“Jangan lupa juga kalau pernikahan kalian adalah yang paling penting. Yang paling penting adalah pada akhirnya kalian bergandengan tangan bersama sebagai suami istri dan memulai hidup baru. Dekorasi dan dress akan terlupakan, tapi pernikahan kalian akan berlangsung seumur hidup, jadi selalu ingat untuk fokus kepada makna pernikahan itu sendiri.”

“Yang terakhir adalah untuk memilih vendor tidak hanya berdasarkan popularitas tapi juga berdasarkan kinerja dan passion mereka. Vendor yang benar-benar passionate kepada pekerjaan mereka akan memberikan hasil yang terbaik. Kami bertemu banyak sekali vendor yang membuat hari kami lancar dan kami sangat bersyukur untuk mereka. Salah satunya adalah asisten Groom dari team WO (Vara wedding), Angga, yang sepanjang hari selalu menenangkan kami di saat-saat kami mulai panik. Berikutnya adalah penyanyi di acara kami, Sara Excellent, yang suaranya luar biasa bagus sampai orang-orang mengira kita memasang lagu dari CD! Yang penting pilih vendor yang cocok. Sampai sekarang sekarang masi suka berkomunikasi dengan vendor-vendor tersebut dan banyak juga yang bahkan menjadi teman pribadi!“