Pernikahan Simple Perpaduan Adat Bali dan Minang dengan Sentuhan Modern ala Dinda dan Fauzi

By Renya Nuringtyas on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Dress Yossie Butik

Groom's Attire Red Berry Wedding

Jewellery & Accessories Red Berry Wedding

Event Styling & Decor Fiore & Co

Photography Mirza Photography

Videography Mirza Photography

Make Up Artist Effie Red Berry

Hair Do Woko

Wedding Shoes Vaia

Catering Puspa Catering

Wedding Entertainment Taman Music Entertainment

Cerita awal perkenalan Dinda dengan Fauzi bisa dibilang cukup unik. “Kami tidak punya mutual friends, kami kenal bukan karena kami adalah teman lama, teman main atau dikenalkan oleh teman. We’re a complete stranger!” ujar Dinda memulai ceritanya.

Perkenalan mereka berawal dari sebuah koperasi karyawan di salah satu gedung perkantoran di Jakarta Selatan. Semua bermula dari suatu siang, saat Dinda sedang makan siang bersama temannya sehabis melakukan interview kerja di salah satu kantor di salah satu kantor disana. Di waktu dan tempat yang sama, Fauzi juga sedang makan siang karena ia memang bekerja di salah satu kantor disana dan kerap makan siang di koperasi karyawan tersebut. Dinda mengaku saat itu ia melihat seseorang yang lumayan good looking di tengah kerumunan orang, dan orang itu adalah Fauzi.

Tidak lama, Dinda mendapat konfirmasi bahwa ia diterima bekerja di kantor tempat ia interview saat itu, dan setelah mulai bekerja, ia jadi sering bertemu dan berpapasan dengan Fauzi saat jam makan siang. Semakin sering berpapasan, mereka berdua menjadi semakin aware dengan keberadaan masing-masing. Kebetulan, ada salah satu rekan kerja Fauzi yang sudah lebih mengenal Dinda dan memberikan sedikit informasi mengenai Dinda kepada Fauzi. Setelah itu Fauzi akhirnya memberanikan diri untuk berkenalan langsung dengan Dinda, yang membuat mereka jadi sering janjian untuk makan siang bersama. Semenjak itu mereka jadi semakin dekat dan mulai rutin berkomunikasi. Kedekatan mereka pun berlanjut bahkan sampai mereka berdua sudah resign dari kantor mereka masing-masing, dan lanjut sering bertemu di luar untuk menghabiskan waktu bersama.

Hanya butuh waktu 1 bulan bagi Dinda dan Fauzi memutuskan untuk mulai berpacaran. “Kami mengenal satu sama lain melalui proses yang cukup sederhana. Ternyata kami berdua saling cocok dan sama-sama menikmati obrolan yang simple setiap kali kami bertemu,” ujar Dinda. Dua background yang berbeda, Fauzi memiliki latar belakang IT dan Dinda yang bekerja di bidang Advertising, justru menumbuhkan ketertarikan dan banyak kecocokan di antara mereka berdua.

Perbedaan karakter mereka berdua, Fauzi yang memiliki karakter simple dan sangat menikmati waktu yang intimate dengan teman-temannya, serta Dinda yang sangat outgoing dan bubbly justru menjadi satu hal yang saling mengisi satu sama lain. “Kami tidak pernah merasa bosan saat sedang meluangkan waktu berdua. Semua obrolan selalu seru. Yang membuat saya tertarik dengan Fauzi pertama kali adalah karena ia sangat responsive mendengarkan ocehan saya. He’s a very good listener and he’s very calming. Begitupun Fauzi, ia sangat menikmati waktu dengan saya karena saya memiliki kepribadian yang sangat bubbly dan passionate akan banyak hal,” tambah Dinda lagi

Menurut Dinda, Fauzi juga bukanlah tipe laki-laki yang romantis seperti sering memberikan bunga ataupun kejutan lainnya. Menurut Dinda, Fauzi adalah sosok yang sensitive dan bisa membuat Dinda selalu merasa special tanpa harus memperlakukan Dinda dengan hal-hal yang extra. “Fauzi adalah orang yang sangat mengerti saya, sangat lembut, sopan, ramah dan seru,” tambah Dinda.

Setelah satu tahun berpacaran, Fauzi pun memutuskan bahwa ini salah waktu yang tepat untuk mengajak Dinda melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Ia pun menyatakannya kepada Dinda pada suatu malam minggu. Saat itu Fauzi dan Dinda pergi nonton dan dinner seperti malam minggu biasanya. Saat makan malam, Fauzi mulai membicarakan banyak hal mengenai rencana dalam hidupnya dan ia pun bercerita bahwa ia ingin Dinda menjadi bagian dari rencana hidupnya. “Tanpa candle light, flower bouquet, cincin atau sejenisnya, dengan hanya semangkuk pasta dan pizza, ia mengajak saya untuk menikah dan langsung mengatakan kalau malam ini ia ingin datang kerumah untuk berbicara dengan orang tua saya dan melamar saya,” cerita Dinda.

Bersyukur, rencana Fauzi disambut baik oleh kedua pihak keluarga. Tanpa butuh waktu lama, kedua orang tua Dinda dan Fauzi pun langsung bertemu dan langsung merencanakan jadwal acara lamaran yang akhirnya diputuskan untuk diselenggarakan pada tanggal 22 Juli 2018, dan acara pernikahan digelar pada tanggal 22 Desember 2018.

Untuk acara Akad Nikah, Dinda mengenakan Suntiang khas Sumatera Barat, karena Ibunda Fauzi berasal dari Sumatera Barat. Untuk kebayanya, Dinda mengenakan kebaya simple berwarna putih yang ia percayakan kepada Yossie Butik. “Tante Yossie sudah dipercaya oleh keluarga saya lebih dari 10 tahun. Bahkan semua kebaya pernikahan kakak-kakak saya dibuat oleh Tante Yossie,” ujar Dinda. Ia mengaku memang sudah nyaman mengenakan kebaya yang dibuat oleh Yossie Butik, menurutnya faktor kenyamanan dan kepercayaan merupakan dua hal terpenting dalam memilih vendor pernikahan.

Untuk acara resepsi, Dinda dan Fauzi memutuskan untuk mengenakan busana Bali modifikasi karena Ibunda Dinda berasal dari Bali. Dinda sengaja tidak memilih busana full adat karena ia ingin membangun kesan yang simple namun tetap nyaman dipakai dan tetap mengangkat kesan adat Bali yang kental. Untuk dekorasi, ia juga mengangkat adat Bali dengan sentuhan modern yang tetap menggunakan dekorasi khas Bali seperti Umbul-umbul, Payung Bali, dan Kain Poleng khas Bali. Selain untuk menghemat biaya dekorasi, menurutnya dekorasi yang simple juga tetap berhasil memperlihatkan ciri khas budaya Bali dengan memadukan unsur modern yang cantik.

Bagi Dinda, momen yang paling berkesan dari rangkaian acara pernikahannya adalah momen dimana ia dan Fauzi merasa amat bersyukur karena mereka dapat dipertemukan di tempat yang random. “Memang jodoh tidak disangka-sangka. Bisa datang kapan saja dan dimana saja. Suatu hari di bulan Desember 2016 kami saling berpapasan dan bulan Januari 2017 kami saling berkenalan dan mulai berkomunikasi. Most of all, love at first sight really does exist!” kenang Dinda. Pertama kali Fauzi melihat Dinda adalah saat pertama kali Dinda juga melihatnya di koperasi karyawan. Fauzi mengaku ia masih ingat dengan pakaian dan dandanan Dinda di hari itu, “Fauzi memang tidak romantis, tapi ia memperhatikan saya, bahkan sejak awal ia melihat saya. Every bit that he does, he made me feel special,” kenang Dinda lagi.

Namun dalam mempersiapkan acara pernikahan, Dinda bercerita kalau semua tidak lepas dari tantangan. Menurutnya tantangan terbesar adalah menyatukan dua opini menjadi satu. Namun ia bersyukur karena baik Fauzi maupun kedua belah pihak keluarga tidak terlalu khawatir dengan opini masing-masing. Hampir 75% keputusan dalam memilih vendor, warna, sampai desain diserahkan sepenuhnya kepada Dinda. Bagi orang tua Dinda, yang terpenting adalah keinginan Dinda sendiri karena acara pernikahan merupakan momen sekali seumur hidup. Meskipun begitu, Dinda dan Fauzi tetap menjalankan semua proses persiapan sesuai dengan standard dan masukan dari kedua pihak keluarga.

Tantangan lainnya adalah proses pemilihan vendor. Menurutnya dalam memilih vendor ia banyak melakukan perbandingan baik dari segi harga, model maupun layanannya. Ia cenderung memilih vendor dengan pelayanan yang baik dan dapat dipercaya, agar ia merasa nyaman dan segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar.

Berikut top 3 vendor pilihan Dinda:

1. Red Berry Wedding

“Hasilnya memang tidak diragukan lagi. Selain itu, Red Berry memiliki reputasi yang baik, artinya vendor ini dapat dipercaya. Selain itu, hal pertama yang saya tanyakan kepada vendor rias busana adalah apakah mereka memiliki pilihan adat Bali modifikasi. Karena banyak sanggar yang tidak banyak memiliki pilihan hair piece dan accessories Bali karena mungkin masih jarang yang menggunakan adat Bali. Namun sejak awal Red Berry sudah menawarkan saya banyak pilihan yang tentunya justru membuat saya sangat tertarik dan semakin semangat dalam mempersiapkan pernikahan saya. Semua request saya disanggupi oleh Red Berry dan terbukti pada hari H, hasilnya memang sesuai dan memuaskan.”

2. Yossie Butik 

“Tante Yossie sudah dipercaya oleh keluarga saya lebih dari 10 tahun. Semua kakak-kakak saya membuat wedding kebaya disana. Tante Yossie sangat bisa dipercaya karena beliau sangat komunikatif dan sanggup mengikuti tantangan request dari client. Selain itu, saya merasa nyaman karena bisa bertukar pikiran dan ide dengan Tante Yossie dan harganya pun sesuai dengan budget kami.”

3. Puspa Catering 

Saya memiliki 3 kakak yang sudah menikah. Tentunya kami selalu ingin mencoba vendor yang berbeda agar tidak monoton dan agar kami dapat mencoba vendor catering yang berbeda-beda juga. Pada pernikahan saya, pilihan kami jatuh pada Puspa Catering. Kenapa? Karena kami sudah datang test food secara langsung dan ternyata harganyapun cukup terjangkau. Selain itu, Puspa Catering memiliki reputasi yang sangat baik. Artinya vendor ini dapat dipercaya.

Dinda juga memberikan tips buat kamu yang sedang mempersiapkan acara pernikahanmu, Yuk simak tips dari Dinda berikut!

“Tips untuk brides to be dari saya adalah sabar dalam memilih vendor. Karena sering kali kita tergoda dengan tawaran awal namun ternyata hasil akhir belum tentu sesuai. Lakukan banyak research dan perbanyaklah bertanya. Karena dengan begitu kita dapat memiliki perbandingan dan dapat menyesuaikannya dengan budget kamu. Mahal tidak selalu bagus dan murah tidak selalu jelek kok.”

“Kedua, serumit apapun persiapan pernikahan, selalu ingat bahwa pernikahan ini adalah momen paling indah dalam hidup, tetap saling menghargai pasangan dan selalu saling mendukung dan mencintai. Berantem itu pasti ada. Tapi sebesar apapun masalahnya, ingatlah alasan utama kamu memilihnya untuk menjadi pendamping hidup.”

 

×