Pernikahan Tema Rustic dengan Konsep Mingle ala Gito dan Elia

By Leni Marlin on under The Wedding

Style Guide

Style

International

Venue

Restaurant

Colors

Vendor That Make This Happened

Pemberkatan Pernikahan

Resepsi

Venue 100 Bar & Eatery + Dapour Restaurant, Century Park Hotel

Event Styling & Decor Papertree Decor

Hand Bouquet D’Alexandra Flowers

Wedding Entertainment Dekat

Pernikahan dengan Tema Rustic Ala Elia dan Gito

Meskipun keduanya menyandang status sebagai teman sekantor, Elia dan Gito jarang berinteraksi soal pekerjaan. Pertemuan mereka justru lebih sering pada kegiatan-kegiatan community di kantor. Dari sana, mereka mulai dekat dan memutuskan untuk berpacaran pada 4 Mei 2014. Hari itu tepat momen May the 4th (Star Wars Day) yang mereka rayakan bersama.

“Sejak awal pacaran, kami sudah berencana serius untuk menikah. Jadi, semua plan dibuat menuju ke sana,” ujar Elia menceritakan hubungannya dengan Gito. Pada pertengahan 2015, persiapan pernikahan pun mulai dilakukan. Mereka mengambil paket yang ditawarkan salah satu operator dan direktori pernikahan di Indonesia. Namun, selang beberapa bulan, venue yang di-booked ternyata berhenti beroperasi.

“Tidak ada kejelasan selanjutnya dari operator dan direktori pernikahan tersebut hingga Gito mengirimkan somasi hukum. Kami pun memutuskan untuk membatalkan paket pernikahan dan mengurus semuanya sendiri. Akhir 2015, kami baru deal dengan venue baru. Setelah itu, persiapan berjalan dengan full speed,” kenang Elia.

Mingle dengan Para Tamu

Satu-satunya prosesi yang dilakukan dalam pernikahan kedua pengantin ini adalah Tea Pai. Menurut Elia, sebenarnya tidak ada keharusan dari keluarga untuk melakukan prosesi tersebut. Namun, mengingat bahwa Elia dan Gito sama-sama anak pertama, tradisi untuk menghormati orangtua dan keluarga tersebut pun dilakukan.

Prosesi berlangsung sederhana di hari-H dan dibantu oleh dua bridesmaids. Pada kesempatan itu, kedua keluarga bisa saling bertemu. Setelah prosesi selesai, ada sesi foto keluarga.

Konsep acara secara keseluruhan diserahkan sepenuhnya oleh pihak keluarga kepada Elia dan Gito. Hal itu memungkinkan mereka mewujudkan keinginan untuk tidak menggunakan pelaminan pada acara resepsi. “Kami ingin lebih dekat dengan tamu-tamu kami dan menjadi tuan rumah yang baik. Caranya dengan terus berkeliling dan menyapa tamu sambil berfoto bersama. Kebetulan, teman kami di Albens Cider menyumbangkan ratusan botol apple cider. Acara mingle pun menjadi sangat akrab tanpa batasan antara kami dan tamu. Kita bisa sharing drinks and laughter,” tutur Elia.

Meskipun Papertree Décor menyediakan bridal table untuk tempat duduk, makan malam, dan istirahat bagi kedua pengantin, pada akhirnya Elia dan Gito tidak sempat sedetik pun duduk di situ.

Supaya bisa lebih mudah bergerak dan beraktivitas tanpa bantuan para bridesmaids, Elia memilih wedding dress yang sederhana. Awalnya, ia sempat mengunjungi wedding festival untuk mencari vendor rental dress dan bridal. Namun, semuanya menawarkan attire berupa gown. Lalu, di Instagram, ia bertemu dengan @wearbi (Riana Budiono). Empat bulan sebelum acara, ia mencoba melihat langsung koleksi dress di sana dan berhasil menemukan wedding dress yang sesuai di hatinya. “Back detailsnya cantik sekali. Itu yang membuat saya memutuskan memilih dress ini.”

Rustic Decoration

Bersama Papertree, Elia dan Gito sepakat menggunakan konsep rustic yang dipenuhi daun, nuansa kayu, dan ambience lighting yang agak redup dengan banyak twinkle light. Hal ini sudah mereka pikirkan sejak awal mensurvei venue. Mereka juga memutuskan untuk tidak terlalu heavy dalam menata dekorasi. Hanya area-area tertentu saja yang tampaknya butuh sentuhan tambahan. Sebagai venue, 100 Eatery & Bar dianggap sudah cukup rustic.

“Kami membuat dekorasi sedemikian rupa sehingga para tamu lebih leluasa bergerak tanpa banyak gangguan,” ungkap Elia. Di area penerima tamu, Papertree membuat dua kanvas bergambar pohon yang digambar langsung di venue pada saat loading. Para tamu dapat membubuhkan sidik jari di kanvas tersebut sambil menuliskan pesan-pesan untuk Elia dan Gito.

Selain itu, salah satu ruangan di Dapour Restauran diubah menjadi foto corner lengkap dengan lighting supaya para tamu bisa berfoto. Namun, spot favorit Elia dan Gito adalah “pohon besar” di area bar.

“Saat Papertree membawa masuk pohon ini, kami sempat kaget. Ukurannya besar sekali. Tapi, setelah selesai ditata, hasilnya ternyata sangat cantik dan membuat suasana sangat berbeda. Di pohon itu juga digantung foto prewedding yang dibuat HKristian Photography. Ada pula spot khusus untuk para tamu menulis pesan bagi kami dan menggantungkannya,” kata Elia.

Kolaborasi Para Sahabat

Bagi Elia dan Gito, hal yang paling berkesan dalam momen spesial ini adalah bantuan dari para sahabat, mulai dari persiapan hingga acara selesai. “Kami mendapat banyak sekali bantuan dari teman-teman dekat dengan bakat dan keahlian masing-masing yang dikolaborasikan. Seperti mengurus foto prewedding, makeup, video prewedding, desain dan percetakan undangan, entertainment dan MC, floral arrangement, minuman untuk acara, dan masih banyak lagi,” ucap Elia.

Bahkan, pada hari-H, teman-teman merekalah yang menjalankan seluruh acara. Ada 10 bridesmaid dan groomsmen yang bersama-sama menjadi organizer dengan tugasnya masing-masing. “Seluruh proses, mulai dari mempersiapkan acara hingga hari-H, mengajarkan kami pentingnya nilai persahabatan dan kolaborasi yang baik.”

“Tidak ada yang ingin kami ubah seandainya memiliki kesempatan untuk mengulang kembali momen pernikahan kami. Semuanya sudah sesuai dengan keinginan dan bayangan kami. Mungkin satu yang kurang, kami tidak sempat mencicipi makanan yang dihidangkan. Banyak tamu yang menyampaikan bahwa mereka suka dengan rasa makanan yang disajikan. Pilihannya juga banyak, lebih dari 30 macam,” kata Elia. Hal itu dimungkinkan karena mereka mengambil paket buffet makan malam yang biasa disajikan untuk para tamu hotel dengan tambahan menu pilihan.

Untuk menentukan top vendor pilihannya, Elia mengaku agak kesulitan. “Hampir semua vendor yang terlibat adalah teman-teman kami. Namun, ada 3 tim terbaik menurut kami.”

1. The Photographers

“Littlehugs Photography (@littlehugsphotography) dan HKristian (@hanskristian) adalah photographer yang membuat foto prewedding kami sekaligus foto liputan di acara #EGmayday, mulai dari pemberkatan hingga resepsi. Littlehugs Photography mengambil foto prewedding kami bersama 4 anjing kami. Dibantu teman-teman dari @gardasatwaindonesia, kami berhasil memiliki Family Picture. Sedangkan HKristian Photography berhasil membuat nuansa yang berbeda dari foto-fotonya. Double exposure foto untuk foto prewedding dan banyak teknik slow shutter di foto liputan membuat nuansa party sangat terasa. Monora Image yang diwakili Briano Kawenang, salah satu groomsmen kami, membantu sebagai Social Media Manager yang terus-menerus melakukan live update rangkaian kegiatan #EGmayday.”

2. The Bands

“Chevrina Anayang dari Dekat diiringi oleh Alexander Rungkat dari Abdul and The Coffee Theory membuka acara dengan wedding song pilihan kami, yaitu Rise Up dari Andra Day. Lagu itu mengiringi kami, keluarga, bridesmaids, dan groomsmen saat proses masuk ke ruangan. Abdul dari Abdul and The Coffee Theory adalah juga salah satu groomsmen kami. Bersama Riza Ichsan, dia memberikan speech di wedding toast. Hal itu sangat berkesan dan mengharukan bagi kami.”

3. The Décor

“Kami tertarik saat melihat karya Papertree Décor di Instagram. Ternyata, mereka adalah salah satu rekanan vendor yang direkomendasikan oleh pihak venue. Konsep yang ditawarkan Ingrid dari Papertree Décor saat meeting pertama benar-benar sesuai dengan tema rustic yang kami inginkan. Pilihan kami ternyata tidak salah. Papertree Décor dapat mewujudkan nuansa tersebut dan membuat foto-foto yang diambil semakin indah.”

Nah, bagi para brides to be, tips dari Elia adalah: “Jaga komunikasi. Jangan sampai hal-hal kecil malah menjadi issue besar karena misscommunication. Bukan hanya komunikasi dengan pasangan, tetapi juga dengan keluarga dan semua vendor atau pihak yang terkait.”

×