Lamaran Adat Jawa dan Lampung Ala Sandy dan Dhira

By NSCHY on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

The Engagement

Venue Private Residence

Photography Fotologue Photo

Make Up Artist Stephani

Bride's Attire Resna

Catering Al’s Catering

Others Merras (Sister Kebaya)

Sandy dan Dhira merupakan teman satu fakultas di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dhira adalah junior Sandy yang hanya dikenal sebatas teman di lingkup organisasi. Bertahun-tahun bersama, tidak sedikitpun terpikir oleh keduanya untuk saling menyapa ataupun berkenalan, sehingga akhirnya mereka lulus dan mendapatkan pekerjaan masing-masing. Namun jodoh tidak akan ke mana. Berhubung keduanya sama-sama lulusan Ekonomi dan bekerja di Bank, mereka dipertemukan kembali untuk sebuah project dan di situlah awal mereka berkenalan. Hingga saatnya Sandy memutuskan untuk keluar dari Bank tersebut dan mendaftar di sekolah pilot di Bali, sedangkan Dhira menjalani sekolah S2-nya di London. Kedua pasangan memiliki latar belakang adat yang berbeda juga. Waktu pun mempersatukan mereka hingga ketahap yang lebih serius dan mengadakan pesta lamaran adat Jawa dan Lampung. Yuk, kita baca selengkapnya!

Selama hubungan jarak jauh Bali – London, Skype lah teman terbaik mereka. Tidak perlu berlama-lama bagi Sandy dan Dhira untuk mengenal lebih dekat. 6 bulan menjalani hubungan membuat Sandy sudah mantap dan memutuskan untuk mengikat Dhira menjadi calon istrinya. Tepat bulan Oktober saat Dhira pulang ke Indonesia, Sandy yang sudah mendapatkan dukungan dan juga bantuan dari para keluarga besar sukses menyiapkan proposal yang luar biasa romantis. “Waktu itu aku pulang ke rumah yang sudah gelap dan dia berdiri di samping 300 lilin dengan membentuk tulisan “MARRY ME?” curhat Dhira. Spontan, Dhira pun langsung menitikkan air mata bahagia dan terharu. Ditambah lagi dia mengetahui bahwa rumahnya sudah lengkap dengan keluarga besarnya yang berbaur dengan keluarga besar Sandy.

Tentu saja setelah berhasil mendapatkan persetujuan dari Dhira dan keluarga, keduanya mengadakan acara lamaran dengan adat yang lebih sakral, yaitu perpaduan adat Jawa dan Lampung. Namun sayangnya, karena terbatas oleh waktu, mereka hanya mempunyai waktu sebulan untuk menyiapkan segalanya. “Sandy mengenakan pakaian tradisional asalnya, yaitu Lampung. Kalau aku mengenakan songket karena papaku dari Mandailing. Kemudian, karena mamaku dan Sandy adalah orang Jawa yang sangat kental adat istiadatnya, jadi kami menggunakan prosesi adat Jawa,” paparnya.

Sandy dan Dhira menjalankan prosesi lamaran adat Jawa seperti pada umumnya, di mana keluarga Sandy sempat menunggu di luar sampai surat lamaran dibacakan oleh Ayah Dhira dan diterima oleh Dhira. Setelah itu, baru acara dilanjutkan dengan doa dan juga pemberian peningset atau tanda kasih sebagai pengikat. “Setelah peningset itu diberikan kepada pihak wanita, artinya bahwa calon memepelai wanita sudah tidak boleh dilamar laki-laki lain dan pihak laki-laki sudah tidak boleh melamar wanita lain,” jelasnya.

Acara yang dihadiri oleh sekitar 180 orang ini didomonasi oleh warna soft dengan perpaduan champagne. Acara lamaran Sandy dan Dhira menggundang banyak haru. Ayah Dhira tidak bisa menyembunyikan perasaannya dan beliau pun menangis ketika membacakan surat lamaran tersebut. Serentak semuanya pun turut larut dalam suasana tersebut. “Waktu papa nangis membacakan surat lamaran, aku mendengar di kamar banyak suara orang terisak dan tutup hidung, ternyata teman-temanku yang menunggu di kamar juga ikut nangis,” tutur Dhira.

Namun tidak hanya berhati lembut, sang Ayah juga mempunyai sisi humoris yang tinggi. Terbukti dengan kejailannya yang menyuruh Sandy melamar Dhira lagi dengan dua Bahasa. “Sandy disuruh ngelamar lagi di depan semua orang dalam Bahasa Indonesia dan Prancis, sempat nervous sampai semua orang ketawa lagi!” curhatnya.

3 vendor Favorit Sandy dan Dhira sebagai berikut ini.

1. Resna Atelier

“Mas Resna mengerti sekali kalau aku suka yang simple. Tapi dia juga mengingatkanku untuk tidak terlalu simple karena aku calon mempelai wanita. Tanpa arahanku, Mas Resna berkreasi sendiri dengan kombinasi sulam warna hijau salem dan laser-cut flowers yang membuat kebaya nude­-ku jadi sangat hidup.”

2. Fotologue

“Mas Lukas pintar mencari spot di dalam rumah yang bagus untuk foto dan juga pintar mengarahkan kita untuk berpose.”

3. Al’s Catering

“Makanan pada hari tersebut enak-enak sekali dan membuat banyak tamu senang bahkan sampai ingin coba semua makanan.”

Sebagai penutup, Dhira memberikan saran, yaitu untuk perbanyaklah riset dan konsultasi. “komunikasikan kepada kedua pihak agar acara berjalan lancar terutama prosesi adatnya.”

×