Perpaduan Adat Minang & Mandailing dalam Pernikahan Indira & Coki

By NSCHY on under The Wedding

Perpaduan Adat Minang & Mandailing dalam Pernikahan Indira & Coki di Balai Sudirman Jakarta

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Balai Sudirman, Jakarta

Event Styling & Decor Watie Iskandar Wedding

Photography Why Moments

Make Up Artist Irwan Riady

Hair Do Mas Katno

Bride's Attire Akad Nikah by Rumah Jahit

Bride's Attire Resepsi by Asky Febrianti

Groom's Attire Mangulosi

Catering Dapur Pangan Sejahtera

Wedding Entertainment Jova Musique

Seserahan Rose Arbor

Others Sunting & Adat by Kynara Roemah Penganten

Pernah membayangkan akan mengalami CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali? Bukan hanya sekedar bersemi kembali, namun juga menjadi lebih serius, bahkan ke jenjang pernikahan.

Indira dan Coki merupakan satu dari sekian banyak pasangan yang kembali bersama setelah putus dalam waktu yang cukup panjang dan kedua hatinya saling berlabuh kembali sebagai pemberhentian terakhir.

Meski tahun 2013 silam keduanya sempat memutuskan untuk berpisah, namun takdir mempertemukan keduanya kembali pada tahun 2015 di salah satu pernikahan kerabat mereka. Alhasil, pertemuan tersebut saling membekas dan membuat keduanya kembali bersama pada tahun 2016.

“Kita mulai berpacaran lagi dengan komitmen yang baru, yang sudah sama-sama berubah menjadi lebih baik,” cerita Indira.

Meski tidak ada proposal manis, namun semenjak keduanya sudah saling berkomitmen untuk serius, diskusi masa depan sudah menjadi makanan sehari-hari, “di situ, aku tau, di masa depan kita masing-masing, ada kita berdua,”.

Sampai akhirnya tiba kelulusan sarjana Indira, pertemuan keluargalah dilaksanakan untuk menyegerakan niat baik keduanya.

Mempersiapkan pernikahan ini tentunya tidak mudah bagi Indira dan Coki, mengingat Coki yang berprofesi sebagai pilot dengan jam terbang yang terkadang mendadak.

Sebagai selebrasi persatuan kedua keluarga yang berbeda ini, Indira dan Coki menggabungkan suku Padang dan Tapanuli Selatan. Padang merupakan daerah asal Indira, sedangkan Coki berasal dari Tapanuli Selatan.

“Ini adalah ide Ayah Coki yang ingin membuat resepsi yang menggambarkan kedua suku yang berbeda, akhirnya kita memadukan keduanya.”

Perpaduan kedua adat tersebut terlihat dari berbagai aspek, mulai dari pakaian pengantin. Indira mengenakan Sunting Minang, sedangkan Coki mengenakan Ampu Mandailing. Selain itu, prosesi kirab pun juga memadukan kedua adat tersebut, diawali dengan Gendang Tabuik dan Tariang Gelombang khas Sumatera Barat, dilanjutkan oleh Tarian Onang-Onang dari Sumatera Utara.

“Dari awal aku memang ingin kebaya dengan warna lembut untuk resepsi, meskipun orang Sumatera identik dengan warna-warna cerah seperti emas dan merah. Jadi, aku memilih warna lavender muda.”

Dekorasi pun juga tidak terlewatkan, terlihat ukiran songket Minang dan ulos Batak pada dinding-dingin pelaminan. Area buku tamu, panggung musik, dan bahkan berbagai dekorasi kecil-kecil yang lainnya pun tidak lepas dari perpaduan kedua budaya tersebut.

“Jujur, dalam menggabungkan dua budaya ini memang sempat dilema awalnya, terlebih lagi saat cerita ke kerabat, pasti ada yang meragukannya. Jadi, di sinilah tantangan kita untuk memadukan kedua budaya tersebut agar terlihat menarik di mata para tamu undangan.”

Namun, setelah berbagai tantangan berhasil dilewati, Indira dan Coki berhasil membuat sebuah pesta pernikahan yang memuaskan para tamu dan mengharukan untuk keduanya.

“Setelah akad nikah, aku dan Coki punya obrolan singkat, intinya kita menyampaikan betapa leganya setelah akad nikah.”

Meski persiapannya cukup rumit, namun perjalanan ijab-qabul, bahkan seluruh elemen dalam pernikahan tersebut berjalan lancar.

TOP 3 VENDOR:

1. Asky Febrianty:

“Aku tergolong orang yang plin plan, termasuk dalam menentukan model kebaya pernikahan. Untungnya, Kak Asky ramah dan sabar membantu aku memilih model sampai aku benar-benar yakin dan memilih warna lavender, warna favorit aku.”

2. Watie Iskandar:

“Dari awal aku menceritakan konsep pernikahan ini, Tante Watie sudah langsung menggambarkan sketsa pelaminan. Untuk dekorasi, aku langsung berhubungan dengan Tante Watie. Selain baik, Tante Watie membuat aku nyaman untuk request ini dan itu. Penting lho untuk merasa nyaman dengan vendor, jadi kita merasa enak menyampaikan keinginan kita.”

3. Irwan Riady:

“Mas Irwan sangat ramah, humble dan santai, jadi pas hari-H sebelum akad, tegangku hilang karena obrolan kita. Menurut aku ini sebuah hal yang penting, selain make up yang pas, make up artist yang humble bisa membuat pengantin menjadi lebih nyaman pada hari-H.”

Tips untuk para brides-to-be:

“Yang terpenting adalah menjalin komunikasi. Seberapa kecil masalah yang dihadapi dalam mempersiapkan pernikahan, kita harus terbuka dengan pasangan. Cari solusinya bersama, dan jangan lepas berdoa agar dilancarkan segalanya.”