Prewedding Fun dan Seru ala Dea dan Stu di Singapura

Bagi Dea dan Stu, prewedding menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu dalam mempersiapkan hari bahagia mereka. Tidak seperti kebanyakan pasangan lain yang seringkali mengangkat tema glamorous atau ethnic, Dea dan Stu lebih memilih tema yang bermakna mendalam bagi mereka berdua yaitu hal-hal simple yang menggambarkan kehidupan dan kegiatan mereka sehari-hari.

“We really love how easy things can be just simply being together. We laugh a lot, never get bored to keep talking to each other, and adore one another a lot, yang merupakan beberapa hal yang selalu kami jaga dari hubungan kami,” cerita Dea.

Hubungan Dea dan Stu berawal dari perkenalan dua tahun lalu di Jakarta melalui pertemuan singkat saat Dea sedang berkunjung ke Jakarta. Kebetulan saat itu Dea masih bekerja di Singapura dan teman-teman Dea memperkenalkan Stu kepadanya untuk membantu Stu membangun hubungan dengan beberapa komunitas warga Indonesia. Pertemuan itu berlangsung singkat bahkan mereka juga tidak sempat bertukar nomor telepon masing-masing. Tiga bulan kemudian, mereka bertemu kembali di Singapura saat Stu juga sudah bekerja dan menetap di sana. Setelah pertemuan itu mereka semakin dekat dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Hubungan yang berjalan sekitar dua tahun memberikan mereka kesempatan untuk saling mengenal. Dengan perbedaan sifat dan pola pikir, Dea dan Stu sepakat untuk terus saling mendukung dan berusaha untuk menjadi lebih dari untuk satu sama lain. “It has been around 2 years of joyful journey with him,” tambah Dea, yang akhirnya Dea dan Stu sampai di tahap yang lebih serius dan mulai merencanakan pernikahan yang dimulai dengan mempersiapkan foto prewedding.

Saat mendiskusikan konsep prewedding mereka, Dea dan Stu menginginkan foto prewedding yang memiliki makna bagi mereka berdua, dan mencerminkan chemistry dari interaksi mereka berdua selama berpacaran. Untuk inspirasi, Dea mencari inspirasi dari Junebugs Wedding karena foto-foto yang ditampilkan selalu terfokus pada ekspresi, sesuai dengan tema yang ingin mereka angkat.

Untuk tim photographer prewedding ini, Dea mempercayakan tim Owlsome yang dikepalai oleh Mas Vega dan Catherin, yang sangat membantu membuat impian Dea dan Stu menjadi nyata melalui moodboard yang menjadi acuan mereka selama proses photoshoot berlangsung.

Untuk lokasi, Dea dan Stu memilih Singapura tanpa perlu berpikir panjang, karena Singapura merupakan tempat dimana mereka memulai hubungan mereka sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Menurut Dea, Singapura sudah menjadi rumah kedua bagi mereka. Bahkan, Dea juga memilih lokasi photoshoot yang merupakan lokasi keseharian kegiatan mereka berdua, dan salah satunya adalah train station.

“Dulu kami sering jalan bersama ke salah satu station sebelum akhirnya berpisah untuk menuju ke kantor masing-masing. Ini menjadi salah satu rutinitas sehari-hari kami yang paling memorable dan ingin terus kami ingat puluhan tahun lagi,” cerita Dea.

Selama proses photoshoot, tantangan yang paling dirasakan oleh Dea dan Stu adalah masalah perizinan, karena ada beberapa lokasi yang merupakan milik pemerintah sehingga tidak diperkenankan untuk mengambil foto. Ada ada juga cafe yang memberlakukan biaya mulai dari Rp 500.000 – Rp 1.000.000 per 30 menit untuk mengambil foto, karena mereka berpikir proses pembuatan foto prewedding melibatkan crew, perlengkapan dan pakaian yang mencolok. Merkipun Dea sudah berusaha menjelaskan, namun masih banyak pihak yang belum familiar dengan hal tersebut.

Sebenarnya ada juga lokasi yang lumayan kooperatif seperti Gardens by the Bay dan Marina Bay Sands, namun karena lokasi tersebut merupakan tujuan wisata turis, jadi agak kurang sesuai dengan tema prewedding yang ingin diangkat oleh Dea dan Stu. Namun berkat bantuan tim Owlsome sangat kooperatif, walaupun dengan banyak keterbatasan, mereka tetap memberikan hasil foto yang luar biasa.

Momen lain yang juga sangat berkesan bagi Dea adalah momen dimana ia berfoto di rooftop, yang awalnya mereka booking satu unit apartemen untuk menjadi lokasi foto dengan tema kegiatan keseharian mereka seperti menonton TV, memasak, dan sebagainya. Tapi ternyata unit apartemen tersebut ada di lantai teratas dengan halaman yang sangat luas, sehingga Dea dan Stu bisa berfoto dengan setting rooftop yang menawan. “Kadang-kadang, memang sesuatu yang unexpected turns out to be a really good one,” kenang Dea.

Dea merasa sangat puas dengan hasil kerja tim Owlsome. Selain professional, menurutnya tim Owlsome juga sangat membuat ia dan Stu merasa nyaman selama proses photoshoot berlangsung, sampai banyak pengalaman lucu yang mereka alami. Misalnya saja saat Arya, salah satu photographer, tiba-tiba muncul di tempat-tempat yang tidak terduga untuk mengambil foto. Kemudian Isdam, sang videographer yang pendiam tiba-tiba mengeluarkan suara-suara yang langsung mengundang tawa seluruh tim yang terlibat. Selain itu, Mba Henny, yang membantu merias Dea menjadi cantik, juga sering mengundang tawa dengan celetukan-celetukan lucunya, dan juga Mas Vega, sang lead photographer yang jago banget menggali cerita mengenai hubungan Dea dan Stu untuk mendapatkan mood demi mendapatkan hasil foto yang terbaik, “and he’s really good at it!,” ujar Dea.

Satu hal yang sangat mengejutkan, Stu yang awalnya sedikit ‘anti’ dengan yang namanya prewedding jadi ikutan semangat mengikuti seluruh sesi photo dengan tim Owlsome. Sampai Stu akhirnya bisa cair dan mengeluarkan celotehan lucu yang biasanya hanya dilakukan saat sedang berdua dengan Dea. “Hari itu, tim Owlsome benar-benar bisa membuat kami merasa nyaman, yang menurut aku benar-benar penting selama proses pengambilan foto,” tutup Dea. Bagi mereka berdua, proses pengambilan foto benar-benar berkesan dan menurutnya itu merupakan 10 jam yang penuh dengan keseruan dan kelucuan.

Bagi Dead dan Stu, memilih tim Owlsome untuk membantu prewedding mereka merupakan keputusan terbaik yang mereka ambil, karena tim Owlsome berhasil menerjemahkan konsep mereka dengan sempurna. Mereka berhasil menggali ide dan konsep yang diinginkan Dea dan Stu menjadi kenyataan. Mereka juga sangat profesional, responsif dan sangat terbuka untuk ide-ide baru. Satu hal yang juga berkesan dan menjadi plus point, tim Owlsome tidak memberikan file mentah ke customer apabila file tersebut belum final, yang akhirnya menjadi ‘surprise story’ untuk para bride-to-be.

Tim Owlsome juga membantu Dea dan Stu untuk acara akad nikah dan dua acara resepsi pernikahan yang dibagi untuk teman dan tamu lainnya. Walaupun untuk acara pernikahan tim Owlsome menugaskan crew yang berbeda dengan prewedding, mereka tetap memiliki standar dan style yang sama. “We just had our wedding last week and can’t wait to see the final results too!,” tambah Dea. Dea dan Stu juga tidak akan berpikir panjang untuk kembali memilih tim Owlsome utnuk mengabadikan momen-momen penting dalam kehidupan mereka lainnya.

Dea juga berbagi tips untuk para brides-to-be yang sedang merencakan prewedding. Yuk simak tips dari Dea berikut:

  • Buat konsep prewedding sesuai keinginan dan nyaman untuk kamu dan pasangan. Apabila ada salah satu yang kurang nyaman, akan berpengaruh kepada mood selama sesi foto berlangsung. Jangan lupa juga untuk melakukan riset di Instagram atau Pinterest yang pas banget untuk menjadi sumber ide. “Personally, I suggest to choose the concept that will bring happiness whenever you see the photo again sometime in the future.”
  • Pilih tim photographer yang sesuai untuk mendukung konsep yang sudah dipilih. Setiap tim photographer memiliki gaya masing-masing, jadi akan lebih baik apabila mereka memiliki konsep yang sejalan dengan konsep kamu.
  • Jangan lupa untuk mengecek budget yang tersedia dan juga waktu dan tempat yang sesuai untuk mendukung konsep prewedding kamu.
  • Yang terakhir dan terpenting, enjoy the session! Nikmati setiap momen karena itu yang terpenting untuk kamu dan pasangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *