Perpaduan Pernikahan Adat Jawa dan Palembang di Balai Kartini

Style Guide

Venue Hall
Color Red White

The Vendors Who Made This Happen

Akad Nikah
Resepsi

Putri dan Dimas adalah teman satu angkatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Awalnya, mereka hanya berteman biasa. Beberapa kali, mereka bergabung dalam satu kelompok diskusi atau menjadi panitia bersama di suatu acara.

“Aku nggak inget gimana awalnya. Dulu, setiap aku berpapasan dengan Dimas di kampus, dia suka bercanda, ‘Nanti kalo udah lulus sumpah dokter, besoknya gue lamar, ya.’ Setelah itu, kira-kira 4 tahun kita udah jarang ketemu dan nggak pernah bareng lagi,” kisah Putri.

Pada saat stase terakhir mereka sebelum lulus, mereka kembali berada di kelompok yang sama. Entah kebetulan atau bukan, mereka jaga malam bareng di RS Persahabatan. Sejak itu, mereka menjadi sering ngobrol dan mulai dekat.

Setelah 2,5 tahun berpacaran, Dimas pun mengajak Putri untuk menikah. “Lucu kalau diinget. Ternyata, bercandaan itu benar-benar menjadi kenyataan.”

Sebenarnya, Dimas bukan pria romantis. Jadi, waktu ia mengajak Putri dinner di Namaaz Dining, Putri tidak memiliki ekspektasi apa-apa. “Kami memang udah berencana lama mau makan berdua di situ.”

Tiba-tiba, setelah menu terakhir, chef datang membawakan menu spesial, yaitu chocolate ball. Lalu, dimulailah proposal dari Dimas. “Di piring kue tiba-tiba muncul video kayak sketch doodle yang berhubungan dengan kehidupan dan kegiatan kita sehari-hari. Lalu, diakhiri dengan tulisan, ‘Will you marry me?’. Setelah chocolate ball-nya dihancurkan, di dalamnya ada cincin dari Dimas. Waktu itu, aku happy banget dan nggak nyangka sama sekali. Semua orang yang ada di situ juga ikut bertepuk tangan dan memberi selamat padaku dan Dimas. It was very sweet and one of the happiest times in my life,” aku Putri. Lamaran resmi dengan keluarga pun dilaksanakan pada Maret 2016.

Menggunakan Adat Jawa dan Palembang

Dari awal, keduanya memang ingin melaksanakan acara adat lengkap supaya momen spesial itu terasa lebih sakral dan memorable. Karena Dimas keturunan Jawa dan Putri memiliki darah Palembang, acara dilangsungkan dalam dua adat tersebut. Adat Jawa pada saat akad dan adat Palembang pada saat resepsi.

Supaya lebih mengena, iringan musik selama prosesi akad nikah dan acara panggih dimainkan oleh live gamelan lengkap dengan sindennya. Namun, berhubung acara akad diadakan di rumah Putri dan keluarga besar tidak ada yang mengerti bahasa Jawa, kalimat prosesi panggih pun menggunakan bahasa Jawa yang di-translate juga ke bahasa Indonesia.

“Acara adat Jawa itu memang banyak banget. Namun, pas hari-H nggak akan kerasa karena seru dan mencairkan suasana yang tadinya kaku,” ujar Putri.

Sementara itu, untuk resepsi mereka menggunakan konsep adat Palembang Komering lengkap, mulai dari baju, perhiasan, dan mahkotanya. Acara resepsi dibuka dengan acara terbangan yang pengiringnya mencapai 20 orang. Mereka terdiri dari pembaca tombak, pembawa lilin, pemain rebana, dan Putri sendiri yang menari pagar pengantin.

“Lumayan deg-degan pas mau nari karena latihannya baru pas H-1. Mahkota Komering juga tinggi dan ternyata lumayan berat. Alhamdulillah, semua prosesi itu berlangsung lancar.”

Dekorasi dan Attire

Untuk dekorasi, Putri memilih tema rustic white garden agar lebih soft dan cocok untuk suasana di rumah. Ini ditambah dengan aksen hijau dan biru yang merupakan warna favoritnya.

Karena baju resepsi sudah cukup tradisional, untuk dekorasi, ia memilih konsep garden modern yang lebih didominasi warna hijau dengan aksen warna merah yang khas untuk Palembang. Semua urusan dekorasi ini diserahkan dalam tanggung jawab Suryo Décor.

Lalu, bagaimana dengan kebaya cantik yang dikenakan Putri? “Menurutku, akad nikah itu momen yang paling sakral. Aku memang berniat menjahit kebaya akad sesuai dengan yang aku impikan untuk disimpan sebagai kenang-kenangan.”

Putri memilih warna broken white. Pilihan warna ini cocok dengan tema dekorasi di rumah. Untuk kebaya akad, ia menjahitkannya di Studio BOH. Sementara itu, untuk resepsi, ia mengenakan baju adat Palembang Komering yang berupa baju kurung dari bahan songket Palembang.

“Aku suka sekali dengan bahan songket. Awalnya warna merah bukan warna pilihanku. Namun, karena menurut orang tua kita warna merah akan terlihat lebih bagus di malam hari dan lebih dapet nuansa Palembangnya, akhirnya aku setuju untuk menggunakan warna merah maroon. Untuk pembuatan songket butuh waktu 4-6 bulan sebelum dijahit menjadi baju. Setelah jadi, ternyata kombinasi merah dan gold jadi mewah dan bagus sekali.”

Top 3 vendor rekomendasi Putri adalah:

1. Artea Organizer

They are very helpful. Mbak Ria, Mbak Renate, dan timnya oke banget dan sangat membantu aku dan Dimas yang nggak bisa cuti kerja menjelang pernikahan. Mereka sangat informatif. Apalagi di keluarga, aku anak pertama yang menikah. Jadi, mereka sering memberikan masukan dan pengalaman. Semua checklist persiapan dan rundown acara yang mereka buat detail dan jelas banget. Aku dan keluarga sangat puas. Pelaksanaan acara pun on time dan cepat tanggap sehingga semua berjalan lancar.”

2. Suryo Décor

“Dari awal proses lamaran sampai acara pernikahan, aku percayakan dekorasi sama Mas Sulis dan Mas Husni. Mereka sabar banget mendengarkan dan menampung semua request-ku. Hasilnya pun sangat memuaskan dan recommended. Semua di luar ekspektasiku.”

3. Studio Boh

“Aku benar-benar puas dan suka banget dengan kebayanya karena benar-benar sesuai dengan keinginanku. Ini unfogettable banget buatku. Dimulai dari proses pemilihan bahan, mereka cuma tanya aku mau warna dan model apa. Setelah itu, mereka memberikan masukan beberapa bahan yang cocok dengan kepribadianku. Setelahnya nggak perlu direvisi karena hasilnya cantik dan unik banget. Pada saat acara, banyak sekali yang menanyakan dan memuji kebayaku.”

“Yang paling berkesan dari rangkaian acara ini adalah saat ada kejadian lucu pada prosesi akad nikah. Setelah kami dinyatakan sah oleh penghulu dan tanda tangan di buku nikah, penghulu menyuruh Dimas mencium keningku. Aku udah bisikin Dimas pelan jangan sampai nempel di paesku. Tapi, dia nggak dengar. Alhasil, pas dia selesai cium kening, ujung hidungnya dan bibir jadi hitam kena tinta paes. Semua orang yang sedang melihat kita dengan serius serentak tertawa. Kita berdua pun jadi ikut tertawa dan suasana tegang hilang,” kenang Putri.

Nah, untuk melancarkan prosesi dalam acara pernikahan, berikut tips dari Putri:

  • Tetapkan dahulu konsep pernikahan kalian. Apakah ingin pernikahan dengan nuansa adat atau tidak. Tentu keputusan ini setelah dikomunikasikan dengan kedua orang tua. Pernikahan adat memang terkesan lebih ribet karena banyak aturan dan lebih banyak pula yang harus dipersiapkan. Namun, sebenarnya acara adat itu juga lebih berkesan dan seru.
  • Jangan lupa memperhitungkan budget kalian berdua dari awal agar mudah dalam memilih vendor.
  • Komunikasi dan kebersamaan itu penting, apalagi dalam pernikahan ada dua keluarga yang terlibat. Jadi, sebisa mungkin coba libatkan kedua pihak untuk memberikan saran dan masukan sebelum kalian memutuskan sesuatu. Sampaikan juga hasil keputusan akhir kalian agar tidak terjadi miskomunikasi.
  • Untuk mengurangi ketegangan antara kamu dan pasangan menjelang pernikahan, cobalah untuk bersantai sejenak, misalnya ke luar kota. Ini bisa sekalian ide untuk prewedding.
  • Pada hari-H, kuncinya cuma pasrah. Banyak berdoa supaya diberikan kemudahan dan kelancaran, nggak perlu terlalu memusingkan hal-hal kecil. Pernikahan ini hanya terjadi seumur hidup, jadi nikmati saja semua prosesnya. It will be your magical day.

2 thoughts on “Perpaduan Pernikahan Adat Jawa dan Palembang di Balai Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *