Pernikahan Adat Sunda ala Tasya dan Andy di Menara 165

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue Menara I65

Event Styling & Decor Gaia Nata Slaras

Photography Fotologue

Make Up Artist Nita Kabul

Hair Do Nita Kabul

Bride's Attire Evy Haura

Catering Akasya Catering

Lighting Pijar

Pemandu Adat Sanggar Ekayana

Wedding Organizer Amaya Wedding

Wedding Reception

Venue Menara 165

Event Styling & Decor Gaia Nata Slaras

Photography Fotologue

Make Up Artist Nita Kabul

Hair Do Nita Kabul

Bride's Attire Merras

Catering Akasya Catering

Lighting Pijar

Pemandu Adat Sanggar Ekayana

Master of Ceremony David Chalik

Wedding Entertainment Laid this Nite

Wedding Organizer Amaya Wedding

“Kalau sudah merasa sama-sama cocok dan yakin, tidak perlu berlama-lama pacaran,” begitu pesan dari ayah Andy kepada Andy dan Tasya yang baru saja resmi berpacaran. Sebenarnya mereka merencanakan pernikahan di tahun 2017, tetapi karena menuruti nasihat dari sang ayah, maka mereka pun serius untuk memasuki ke jenjang yang lebih serius lagi. Tasya dan Andy sebenarnya sudah mengenal sejak SMP. Namun mereka baru dekat ketika Andy pulang kembali ke Jakarta setelah meyelesaikan study di UK. “Uniknya Andy baru melamar aku secara personal setelah acara lamaran dan pertemuan keluarga sudah terlaksana. Proses perbincangan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan awalnya hanya lewat obrolan saja. Kemudian saat lamaran dan pertemuan kedua keluarga, barulah Andy melamar saya di depan keluarga. Tetapi bukan hanya sampai situ saja. Pada saat malam tahun baru, yaitu H-9 hari pernikahan kami, Andy memberikan saya 5 lembar foto dirinya sambil memegang tulisan, Tasya, Will you marry me? hehehe, sebuah cara yang tidak terduga sama sekali. It’s so touching,” kenang Tasya bahagia. Setelah bersama beberapa tahun Tasya dan Andy mempersiapkan pernikahan adat Sunda yang indah. Yuk, kita simak kisahnya!

Tasya dan Andy dalam mempersiapkan pernikahan ada Sunda ini bisa dibilang sangat singkat, yaitu hanya 5  bulan saja. Tasya juga merasakan banyak tantangan dalam menyatukan keinginan dari kedua belah pihak keluarga. Serangkaian prosesi pernikahan adat Sunda pun dijalani oleh Tasya dan Andy, mulai dari sebelum hari H seperti pengajian, siraman, dan upacara Ngaras. Upacara Ngaras merupakan prosesi di mana Tasya meminta izin kepada orangtuanya untuk menikah dengan mencuci kaki kedua orangtuanya.

Pada saat akad nikah, Tasya dan Andy juga masih menjalani serangkaian prosesi pernikahan adat Sunda. Dimulai dari Incak Endog, di mana Andy menginjak telur dan kakinya dibersihkan oleh Tasya. Prosesi ini menjadi simbol bahwa istri harus taat dan menghormati suami. Selanjutnya prosesi Meuleum Harupat yang berisi nasihat kepada kedua mempelai untuk senantiasa bersama dalam memecahkan persoalan rumah tangga. Pada prosesi tersebut Tasya memegang kendi yang berisi air sebagai simbol bahwa Tasya akan selalu mendinginkan suasana apabila terjadi persoalan rumah tangga. Lalu Tasya dan Andy saling menyuapi makanan yang melambangkan kehidupan suami istri yang harmonis dan saling cinta, atau disebut Huap Lingkung.

Prosesi ditutup dengan Sawer,  di mana mereka menabur benda-benda kecil seperti beras, kunyit, permen, dan uang. Penaburan tersebut menjadi petunjuk kepada Tasya dan Andy bahwa dikemudian hari mereka harus berbagi dengan sesama. Wah, semua prosesi adat Sunda yang mereka jalani sarat dengan makna yang dalam ya, brides!

“Kami memilih konsep pernikahan adat Sunda dengan sentuhan modern. Terlihat pada dekorasi pelaminan yang terdapat nuansa bambu yang dipadu dengan lampu chandelier. Kemudian konsep round table yang muncul dari orang tua Andy. Keduanya menyarankan agar menyediakan banyak tempat duduk supaya tamu bisa menikmati acara lebih lama. Awalnya sempat khawatir terkait kapasitas ruangan, tetapi kami menyiasatinya dengan membatasi jumlah undangan,” jelas Tasya.

Tasya dan Andy memilih model kebaya dan beskap yang klasik seperti model saat orang tua Tasya menikah dulu. “Aku dan Andy memilih warna biru karena itu adalah warna favorit Andy. Aku setuju dengan warna itu karena biru merupakan warna netral,” kata Tasya. “Pemilihan model kebaya yang klasik memang tepat karena menonjolkan sisi elegan dan timeless, brides!  “Pada saat resepsi ternyata MC secara mendadak meminta kami melakukan slow dance, hehehe. Awalnya kaku, tetapi hal itu malah menjadi momen romantis buat kami berdua,” jawab Tasya saat ditanya tentang highlight dari pernikahannya.

Tasya membagikan 3 tips agar pernikahan kalian bisa berjalan dengan lancar.

Pertama adalah komunikasi. Komunikasi antara kedua calon mempelai maupun antar keluarga. Tips kedua adalah ikhlas. Tasya merasakan tantangan yang sangat besar ketika harus mengesampingkan ego dan keinginannya. Namun Tasya merasa ketika ia mengikhlasklan justru dia diberikan jalan terbaik. Kunci terakhir adalah Tasya sangat menghindari overthink yang dapat membuang energi. “Karena pada akhirnya, apapun yang terjadi hari itu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, hari pernikahan adalah hari yang paling membahagiakan untuk kita. Always be grateful. Terpenting adalah kehidupan setelahnya,” pesan Tasya menutup pembicaraan.

Top 3 vendor pilihan Tasya dan Andy :

1. Akasya Catering

Rasa makanan sudah tidak diragukan lagi. Selain itu tim dari Akasya sangat memperhatikan food presentation dengan baik. Plus table decoration yang sangat maksimal dan menunjang cantiknya dekorasi.

2. Gaia Nata

Saya hanya menjelaskan konsep apa yang saya inginkan dengan 3 keywords, romantic, traditional, modern. Hasilnya beyond my expectation.

3. Amaya Wedding

Selain membantu mengakomodir acara dengan baik, Amaya Wedding sangat cekatan ketika ada kejadian diluar rencana atau ada request last minute.

×