Royal Wedding Putri Solo Tunku Atiah, dalam Balutan Busana Karya Didiet Maulana

By Pravita Hapsari on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Bride's Attire Didiet Maulana

Photography Owlsome Photography

Sabtu lalu tepatnya tanggal 9 Maret 2019, Tunku Atiah, salah satu trah Raja Mangkunegaran Solo ini menikah dengan Zizi di Pendopo Ageng Puro Mangkunegaran, Solo. Tunku Atiah adalah anak Sulung dari GRAy Retno Astrini, yang tak lain adalah putri bungsu KGPAA Mangkunegara VIII. Walaupun menjadi salah satu bangsawan Jawa, tetapi Atiah sendiri memiliki nama yang khas dengan negara Malaysia karena memang ia berkewarganegaraan Malaysia dan ayahnya atau suami GRAy Retno Astrini adalah Y.M Tunku Abu Bakar Ibni Tunku Abdul Rahman, bangsawan asal Johor Bahru, Malaysia.

Memiliki Kewarganegaraan Malaysia, serta sudah tinggal di Johor Bahru sejak kecil bukan berarti membuat ia meninggalkan adat Jawa. Ibunya sendiri memang sudah mengajarkan anak-anaknya tentang kebudayaan Jawa sejak kecil karena bagaimana pun juga dalam diri mereka masih mengalir darah Mangkunegaran.

Dalam acara pernikahan yang diselenggarakan di Puro Mangkunegaran ini, mereka menggunakan adat Jawa lengkap. Kedua mempelai menaiki kereta kuda yang membawa mereka dari Pendopo Prawedanan menuju Pendopo Ageng Puro Mangkunegaran. Acara diisi dengan berbagai tarian khas Mangkunegaran, dan panganan khas Solo serta gending yang memberikan background musik nan syahdu.

Didiet Maulana dari Svarna by IKAT Indonesia dipilih sebagai desainer yang secara khusus untuk membuat busana pernikahan putri Solo ini. Konsep busana yang dipakai oleh kedua mempelai ini mengacu pada busana adat trah Mangkunegaran melalui berbagai riset yang telah dilakukan Didiet.

“Saya terinspirasi busana kebaya panjang yang biasa dilakukan oleh para Puteri keraton. Model kerah (neck line) saya buat model kebaya kutubaru dengan panel di tengah menghubungkan sisi potongan badan kanan dan kiri. Panjang kebaya dibuat panjang di bawah lutut dengan bahan brokat Perancis,” cerita Didiet.

Uniknya, manik kristal yang dipakai mencerminkan warna dari elemen elemen yang ada di Pendopo Ageng, tempat dimana acara ini berlangsung. Manik terdiri dari 5 warna di antaranya emas, tembaga, dan olive green. Kain yang dipakai adalah kain cinde sutera seperti yang digunakan oleh ibundanya, GRAy Retno Astrini, ketika menikah dulu dengan teknik pemakaian disampir di bawah.

Untuk Zizi mengadaptasi model beskap bernama langenarjan seperti ketika ayah Atiah menikah. Dengan kain batik tulis sogan motif Candi Luhur latar cemeng (latar belakang hitam).

Jika dilihat secara keseluruhan, Ayah Atiah dan Orang tua Zizi memang tetap menggunakan busana Melayu khas Malaysia dengan tujuan untuk tetap menunjukkan identitas diri mereka. Senang sekali rasanya melihat kedua kebudayaan yang cukup berbeda ini menyatu dengan baik dan masih dipertahankan dalam keluarga mereka. Selamat berbahagia untuk Atiah dan Zizi!

Shop