Secret Garden Themed Wedding at The Glass House Bali

Style Guide

Venue Outdoor
Color Brown White

The Vendors Who Made This Happen

Vendor Details

Pulau Bali semakin menjadi pulau impian bagi banyak pasangan yang tengah memilih lokasi untuk menggelar acara pernikahan. Pemandangan alam yang luar biasa cantik menjadi daya tarik tersendiri yang tidak bisa dipungkiri, dan pasangan yang menggelar acara pernikahan di Pulau Bali pasti akan memiliki momen satu kali seumur hidup yang berkesan dan tidak terlupakan, yang akan dikenang seumur hidup mereka.

Yunita dan Mike adalah salah satu pasangan yang berhasil mewujudkan impian mereka dengan menggelar acara pernikahan di Pulau Dewata, tepatnya di Tirtha Uluwatu Chapel. Sebelum The Bride Dept share mengenai indahnya acara pernikahan mereka, yuk kita simak dulu cerita awal pertemuan Yunita dan Mike sampai akhirnya mereka berdua mengucap janji setia di depan Altar.

Yunita dan Mike berasal dari latar belakang yang berbeda. Yunita tumbuh dan tinggal di Surabaya sampai akhirnya pindah ke Seattle, Amerika Serikat dan sempat menetap disana selama beberapa tahun untuk melanjutkan pendidikannya, sementara Michael tumbuh dan menetap di Melbourne. Berkat adik Mike yang menikah dengan kakak dari teman Yunita, mereka akhirnya berkesempatan untuk berkenalan. Pada Bulan Maret 2015, setelah menyelesaikan pendidikannya di Seattle, Yunita kembali ke Indonesia dan bekerja di Jakarta. Tidak lama setelah itu, adik ipar Mike berniat untuk mengenalkan Yunita pada Mike. Yunita yang saat itu baru saja putus dari pacarnya langsung mengiyakan karena menurutnya tidak ada salahnya untuk hanya sekedar berkenalan dan ia juga sama sekali tidak berpikir bahwa perkenalan itu akan berkembang dan berlanjut menjadi hubungan yang serius. Selain itu, ia juga merasa jarak yang jauh antara Jakarta dan Melbourne juga akan menjadi kendala baginya untuk menjalani hubungan.

Setelah berkenalan, mereka berdua ternyata sama-sama merasa klop satu sama lain. “We have never met before so the relationship was built upon multiple LINE messages and also stickers, as well as telephone calls,” cerita Yunita. Hubungan LDR Jakarta – Melbourne ternyata dapat dijalani dengan baik oleh mereka berdua, dan hal-hal seperti karakter yang berbeda justru membuat hubungan mereka semakin dekat, bahkan mereka bisa mengobrol berjam-jam di telepon tanpa merasa bosan ataupun jenuh satu sama lain. Tiga bulan pun berlalu, dan suatu hari Mike berencana untuk terbang ke Hongkong dan transit di Jakarta, dan mereka pun membuat rencana untuk bertemu. Setelah bertemu untuk pertama kalinya, mereka merasa semakin cocok dan mereka pun semakin yakin untuk menjani hubungan dengan serius. “It turns out memang Mike sengaja mau datang ke Jakarta, hanya saja ia memakai alasan ingin mengunjungi temannya di Hong Kong, and the rest is history,” tambah Yunita.

Bagi Mike, proses melamar Yunita adalah proses yang panjang, tidak mudah, dan penuh perjuangan. Sejak awal berencana untuk menikah, Mike berjuang untuk mendapatkan restu dari Papa Yunita yang saat itu perlu diyakinkan bahwa Mike benar-benar serius ingin melamar Yunita, terlebih lagi karena masa pacaran mereka yang masih terbilang singkat yaitu 6 bulan. Papa Yunita meng-interview Mike mengenai banyak hal selama sekitar 2-3 hari, sampai-sampai meminta Mike untuk mengirimkan CV! Awalnya Yunita dan Mike sempat berpikir Papa Yunita hanya bercanda, tapi ternyata ia sangat serius karena ingin memastikan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja Mike. Setelah momen itu, penantian Mike pun berakhir dan Papa Yunita akhirnya memberikan restu baginya untuk melamar Yunita, yaitu anak perempuan tertuanya, tepat satu hari sebelum Mike terbang kembali ke Melbourne. Walaupun awalnya Mike berencana untuk melamar Yunita saat mereka berlibur bersama di Bali, rencana itu terpaksa harus gagal karena saat itu Mike belum mendapat restu dari Papa Yunita. Namun setelah mendapat restu yang ia nantikan, Mike memutuskan untuk melamar Yunita sambil memberikan cincin pertunangan saat momen makan malam bersama keluarga Yunita dan Mike di Hotel Mulia, Jakarta. Momen lamaran itu menjadi momen yang sangat berkesan bagi Yunita karena Mike melamarnya di hadapan keluarga mereka berdua, dan tanpa ragu Yunita pun mengiyakan lamaran Mike tersebut. “I was happy enough to say yes and thankful that I got to share my engagement moment surrounded by our families,” kenang Yunita.

Setelah proses lamaran di Hotel Mulia, Yunita dan Mike pun mulai merencanakan acara pernikahan. Saat The Bride Dept bertanya mengenai konsep apa yang akan mereka angkat, Yunita bercerita bahwa konsep acara pernikahan mereka diperoleh dari pepatah yang disampaikan oleh Papa Mike, yang menggambarkan bahwa pernikahan harus seperti pohon yang rindang, yang memiliki akar yang kuat dalam Tuhan, dan berbuah sehingga menjadi berkat bagi seluruh makhluk yang ada di bawah naungan pohon tersebut. Kata-kata dari Papa Mike inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari tema acara pernikahan Yunita dan Mike, yaitu ‘tree-themed wedding’. Kebetulan Yunita dan Mike juga sama-sama menyukai unsur classic, timeless, dan rustic, dan menyimpulkan bahwa tema acara pernikahan mereka adalah “a whimsical romantic secret garden themed wedding.”

Untuk wedding dress, desain gaun yang dikenakan Yunita terinspirasi dari kekagumannya pada keanggunan dan kecantikan Grace Kelly. Gaun yang dikenakan Yunita merupakan gaun A-line dengan lace, yang akan menambahkan kesan classic dengan sempurna. Yunita memesan gaun tersebut dari salah satu bridal terkenal di Jakarta yang memang sudah berpengalaman bekerja sama dengan merek-merek gaun terkenal luar negeri. Selain terkenal karena model gaunnya yang simple, gaun yang dirancang oleh bridal ini juga dikenal ringan, sehingga mudah untuk dibawa ke Bali. Sedangkan untuk dekorasi, Yunita dan Mike menginginakn dekorasi yang menggambarkan hal-hal yang mereka sukai dengan harapan foto-foto acara pernikahan mereka dapat terus dikenang sampai nanti. Kecintaan mereka berdua pada Grace Kelly dan Audrey Hepburn serta British Heritage menjadi dekorasi pelengkap ‘tree-theme’ yang juga mengangkat tema classic dan rustic, tidak lupa juga hiasan berupa copper gold birdcage, big gold hard cover book dan gold classic mirror yang semakin menambah kesan classic. Mereka juga meminta bantuan dari salah satu teman mereka yang merupakan seorang Calligrapher untuk membuat hiasan tulisan nama seluruh tamu pada undangan dengan hiasan wax stamp yang semakin mempercantik undangan pernikahan mereka. Untuk dekorasi bunga, mereka mengangkat warna-warna pastel yang menambah kesan romantis sehingga para tamu akan merasa seperti memasuki secret garden saat tiba di acara pernikahan mereka.

Momen yang paling berkesan bagi Yunita dan Mike adalah saat mereka memasuki ruangan resepsi dan disambut dengan sparkles oleh teman-teman mereka, saat dance dihiasi oleh jet sparkles dari lantai, dan juga momen saat resepsi selesai yang diakhiri dengan fireworks! Salah satu film favorit Yunita, My Best Friend’s Wedding, yang juga memiliki scene dimana ada jet sparkles menghiasi acara pernikahan, sehingga memiliki hiasan jet sparkles di acara pernikahannya terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Yunita.

Top 3 Vendor pilihan Yunita dan Mike:

  1. Bloomz Decor
    “Janice is an American yang tinggal di Bali dan memiliki bisnis dekorasi. Kami puas banget dengan seluruh hasil karya Janice yang mampu menyulap The Glass House menjadi sebuah secret garden. All things that I want including Gold Bird Cage, Gold Book, Gold Mirror, Bronze Lantern, festival light, chandelier, semuanya bisa dibuat menjadi nyata. So happy with the result dan semua teman-teman dan keluarga memuji dekorasi yang cantik.”
  2. Leura Film
    “Benar-benar yang terbaik! Kami sempat bingung dalam memilih games, jadi kami membuat impromptu “Mannequein Challenge” dan mereka mengedit video tersebut dengan bagus sekali! Wedding video pun juga menjadi sangat artistic, tidak cheesy, just the way we like it.”
  3. Lona Make-up
    Ce Lona dan Ko Hanny adalah tim yang terbaik! Ce Lona telaten banget dalam merias wajah saya. Memang saya menginginkan makeup yang ringan, yang tidak terlalu berat di bagian mata, dan Ce Lona really make my skin looks glowing. So happy with the whole result.”

Yunita juga tidak lupa memberikan tips untuk brides-to-be yang sedang mempersiapkan acara pernikahan:

“Pertama dan paling penting, seluruh proses harus dibawa dalam doa dan iman. Wedding preparation itu sangat melelahkan apalagi pernikahan yang melibatkan keluarga dari kedua belah pihak. There are lots of misunderstanding dan miscommunication dalam proses persiapan. Iman dan rasa percaya yang kuat dengan pasangan sangatlah penting! Kedua, kamu harus mengenal vendor yang kamu pilih dan luangkan waktu untuk mengenal mereka lebih jauh. Bagi aku, proses pemilihan vendor dekorasi memakan waktu paling lama. Hasil akhir itu ditentukan oleh bagaimana cara kita menyampaikan keinginan dengan vendor-vendor yang sudah dipilih. Apabila tidak cocok sedari awal, maka akan banyak terjadi kesalahpahaman.  Ketiga, take a deep breath and remember, it’s not about the wedding, but it’s about the marriage. Anything can go wrong in destination wedding seperti masalah cuaca. Seperti pada pernikahanku, hujan turun tanpa henti sehari sebelumnya. Karena kepercayaan kami berdua, kami tidak ingin memanggil pawang hujan tetapi kami hanya berpasrah. Thank God! Hujan tidak turun sama sekali di hari pernikahan kami. Tetapi karena masih musim hujan, banyak sekali laron di venue pernikahan! Di tengah-tengah acara, semua laronnya pergi dan semuanya berjalan lancar kembali. Intinya adalah banyak hal yang bisa terjadi di luar ekspektasi dan itu bukan salah siapapun, it’s just nature! Kamu harus kembali mengingat bahwa yang terpenting bukanlah pestanya, tetapi pernikahanmu! Wedding is just a day, but marriage is a lifetime. So no matter what, just enjoy the day 🙂

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *