Sejarah Cincin sebagai Simbol Pernikahan

By Ikke Dwi A on under How To

Tidak banyak yang tahu mengenai sejarah cincin pernikahan. Coba deh kamu ingat-ingat, pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa cincin dijadikan simbol pernikahan dan kenapa dipasangkan di jari manis? Nah, kali ini The Bride Dept akan sedikit mengulas sejarah cincin pernikahan yang menarik untuk kamu simak.

Pada zaman dulu, para firaun yang berkuasa di Mesir menjadikan lingkaran sebagai simbol pernikahan. Bentuk lingkaran yang tidak memiliki ujung dianggap cocok untuk melambangkan pernikahan agar tetap abadi. Apakah itu berarti cincin telah menjadi simbol pernikahan sejak era Mesir Kuno? Tidak, karena cincin baru dijadikan sebagai simbol pernikahan secara resmi saat era kekaisaran Romawi.

Cincin pernikahan pertama yang pernah dibuat memiliki kandungan besi yang tinggi. Emas mulai digunakan sebagai bahan baku cincin saat disadari bahwa emas lebih indah dipadukan dengan batu permata. Adalah batu ruby yang menjadi simbol penghias cincin pernikahan pertama. Warnanya yang merah dianggap mewakili warna hati. Selain batu ruby, batu safir juga menjadi simbol penghias cincin pernikahan yang populer karena dianggap mewakili surga, namun penghias cincin pernikahan yang paling populer adalah berlian. Berlian yang hampir tidak dapat dihancurkan dianggap menambah makna cincin pernikahan yang memiliki bentuk lingkaran dan bermakna keabadian.

Sifat berlian yang hampir tidak dapat dihancurkan juga menimbulkan banyak mitos di berbagai daerah. Peradaban India Kuno memercayai bahwa berlian memiliki kekuatan yang dapat mengalahkan setan atau makhluk jahat lainnya, sedangkan peradaban Yunani Kuno memercayai bahwa berlian berasal dari bintang jatuh dan berguna untuk melindungi orang yang mengenakannya.

Kapankah orang-orang mulai melakukan pertukaran cincin? Nah, tradisi pertukaran cincin pernikahan yang selalu kita lihat pada setiap pernikahan ini pertama kali diperkenalkan oleh gereja Yunani Orthodox pada tahun 1300-an. Ya, ternyata tradisi pertukaran cincin pernikahan sudah berusia ratusan tahun!

Kenapa cincin pernikahan dikenakan di jari manis dan bukan di jari lainnya?

Dalam beraktivitas sehari-hari, seberapa sering kamu menggunakan jari manismu? Sangat jarang kan pastinya? Hal inilah yang menjadi alasan dikenakannya cincin pernikahan di jari manis. Di satu sisi, ukuran jari manis dinilai pas untuk cincin pernikahan yang cantik.

Orang-orang Tiongkok memiliki kepercayaan mereka sendiri mengenai dikenakannya cincin pernikahan di jari manis. Mereka percaya bahwa setiap jari di tangan memiliki makna tertentu, mulai dari jempol yang dipercaya melambangkan orang tua hingga kelingking yang dipercaya melambangkan anak-anak. Nah, jari manis dipercaya melambangkan pasangan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga di jari manislah cincin pernikahan dikenakan.

Kenapa dikenakan di tangan kanan dan bukan tangan kiri?

Kebiasaan untuk mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kanan berasal dari kepercayaan bangsa Yunani Kuno dan Romawi Kuno yang memercayai bahwa pembuluh darah jari manis tangan kanan mengarah langsung ke bagian jantung. Pembuluh darah ini juga biasa disebut vena amoris (pembuluh darah cinta). Meskipun demikian, banyak juga orang yang mengenakan cincin pernikahan di jari manis tangan kiri. Alasannya simpel, karena tangan kiri mereka bukan tangan yang dominan digunakan dalam beraktivitas sehari-hari. Kalau misalnya cincin pernikahan dikenakan di tangan kanan yang merupakan tangan dominan, kemungkinan cincin tersebut akan mudah rusak.

Sebetulnya di jari manapun dan tangan manapun kamu dan pasangan mengenakan cincin pernikahan, hal itu sama sekali tidak masalah, karena cincin kalian sudah menjadi lambang cinta itu sendiri. Jadi, jangan bingung hanya karena masalah jari atau tangan untuk pemasangan cincin ya, brides 🙂

Featured image – courtesy of Reza Aditya Photography

×