Sentuhan adat Minang yang Modern di Pernikahan Luthya dan Kiki

By Pravita Hapsari on under The Wedding

Sentuhan adat Minang yang Modern di Pernikahan Luthya dan Kiki

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Photography Mindfolks Wedding

Wedding Organizer IKK Wedding

Venue Menara Mandiri (Plaza Bapindo)

Catering Alfabet Catering

Pemandu Adat Sanggar Minang Djusmasri

Make Up Artist Hepi David

Bride's Attire Flamuyen

Event Styling & Decor Image Decoration

Wedding Shoes Langkah by Lina Lee

Wedding Entertainment Venus Entertainment

Lighting Daria Production

Invitation Kudalaut Wedding Invitation

“Awalnya sih kita kayak “dijodohin” gitu sama temen aku dan Kiki yang lagi PDKT, biar bisa sering double date katanya, eh sekarang kita masih lanjut sampai nikah tapi mereka nikahnya sama orang lain”, cerita Luthya.

Luthya dan Kiki bertemu di tahun 2015 karena temen mereka masing-masing sedang dekat satu sama lain. Mereka pun punya ide itu mengenalkan Luthya dan Kiki dan mengajaknya bertemu supaya mereka bisa double date. Dari situ hubungan mereka pun berlanjut dan selama 4 tahun masih putus-nyambung, bahkan masih galau dan gak yakin akan berjodoh. Ternyata Kiki pun berhasil meyakinkan kedua orang tua Luthya dan membuat Luthya mau menikah dengannya. Luhtya juga bercerita kalau temannya yang dulu mengenalkan mereka itu malah nggak lanjut dan nikah sama orang lain.

Saat melamar Luthya, Kiki sama sekali nggak romantis dan dia memang apa adanya. Kiki tiba-tiba mengajak Luthya dan Mamanya untuk makan bersama, lalu dengan spontannya Kiki bilang ke Mama Luthya.

“Ma, aku mau nikah sama anak mama. Luthya aku lamar ya. Acara lamarannya enaknya kapan? Januari boleh? Tapi nikahnya sebelum puasa dong ma, April ya ma,” kata Kiki.

Luthya dan Mamanya pun kaget dan nggak bisa menolak permintaan Kiki itu.

Luthya dan Kiki ingin acara pernikahan yang modern dengan sentuhan Minang sesuai asal Luthya. Muncullah dekorasi, gaun, pemilihan warna yang modern dan tidak sesuai adat tetapi Luthya tetap mengenakan Suntiang. Agar adat Minang lebih terasa dalam pernikahan ini, mereka pun menghadirkan gendang tabuih, tari piring, dan lain-lain dari sanggar Minang untuk melengkapi resepsi saat kirab pengantin. Tapi saat Akad Nikah, mereka sepakat untuk menggunakan busana adat Koto Gadang walaupun mereka bukan orang Koto Gadang. Alasan mereka mengenakan busana adat tersebut karena mereka suka dengan busana dan seluruh aksesorisnya, seluruh pihak keluarga pun bilang kalau mereka suka.

Momen yang paling berkesan menurut Luthya adalah saat minta izin ke orang tua lalu dengerin proses ijab kabul dari luar ruangan jadi deg-degannya luar biasa. Tapi seluruh rangkaian acara pernikahan mereka menurut sangat berkesan mulai dari Akad Nikah sampai Resepsinya rasanya tidak bisa terlupakan.

Dia juga cerita kalau tidak ada tantangan yang berarti saat mempersiapkan pernikahannya. Ia hanya merasa tegang dan panik yang bikin galau dan stres menjelang hari pernikahan.

 

Ada tips untuk para brides-to-be dari Luthya untuk mempersiapkan pernikahan kalian, “Kalau kalian sudah punya konsep atau ingin seperti apa pernikahan impian kalian, sampaikan ke Wedding Planner segala sesuatunya. Dan saat persiapan, percayakan aja ke mereka yang memang sudah berpengalaman. Yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar. Kalian relax ajaa supaya ngga stress. Terus jangan membandingkan rencana pernikahan kalian dengan pernikahan orang lain yang sudah terjadi karena itu hanya akan membuat kalian kepikiran & muncul kegalauan-kegalauan dalam menentukan konsep yang akhirnya hanya membuang waktu dan membuat persiapan kalian jadi kurang maksimal. Jangan lupa banyak berdoa juga supaya semuanya diberi kelancaran. Good luck!”