Serunya Perpaduan Adat Makasar dan Palembang Di Pernikahan Alda dan Fari

By Ikke Dwi A on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Akad Nikah

Venue JW Marriott Hotel, Jakarta

Event Styling & Decor Sanggar Tamalate by Daeng Ngaseng

Photography The Portrait Photography

Make Up Artist Anpa Suha

Seserahan Rose Arbor

Resepsi Pernikahan

Indonesia itu kaya akan adat dan budayanya. Hal ini bisa tercermin di hari pernikahan, salah satunya pernikahan Alda dan Fari. Keduanya memadukan kedua adat budaya yang berbeda satu sama lain, yaitu Makassar dan Palembang.

Sentuhan tradisional sangat terasa sekali di hari pernikahan keduanya. Tidak heran karena sang pengantin memang menginginkan hari pernikahan yang tradisional tanpa sentuhan modern.

Masa Perkenalan

Alda dan Fari dikenalkan oleh sahabat Fari yang juga teman adik Fari di bulan November 2013. Saat itu Alda masih bekerja di sebuah perusahaan di Kuala Lumpur, sedangkan Fari bekerja di Jakarta.

“Fari pertama kali menyapa aku lewat Line, dan setelah itu kami sering berkomunikasi, seperti sharing tentang kerjaan kami di kantor satu sama lain, padahal field pekerjaan kita sangat berbeda dan gak nyambung sama sekali hehe,” kenang Alda.

Dua bulan kemudian setelan intens berkomunikasi via Line dan merasa nyambung, keduanya pun bertemu di Jakarta. Saat pertama kali bertemu itu keduanya tidak merasa awkward, bahkan merasa seperti bertemu teman lama.

Setelah pertemuan itu, komunikasi pun semakin intens di antara keduanya. Sampai akhirnya, saat Alda sedang pulang ke Jakarta di April 2014, Fari menyatakan cintanya. Keduanya pun memutuskan untuk resmi berpacaran pada 19 April 2014. Namun saat umur pacaran baru menginjak lima bulan, keduanya harus menjalani LDR selama setahun. Alda harus menjalankan studi S2 di Malaysia, sedangkan Fari diterima S2 di Inggris.

The Sweet Proposal

Siapa yang tidak ingin mendapatkan kejutan manis dan romantis dari sang pacar? Apalagi kejutan itu berupa lamaran.

Fari merupakan tipe orang yang sangat terorganisir dan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik, apalagi mengenai hal yang berhubungan dengan masa depan. Di bulan September 2014, sebelum keduanya berangkat melanjutkan studi S2 nya, Fari mengajak Alda untuk serius dalam hubungan cintanya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya keduanya sepakat untuk menikah di Agustus 2016.

Fari pun kembali menanyakan kesediaan Alda untuk menikah dengannya saat Alda berlibur ke Jakarta di Juni 2015.

“Aku mengiyakan. There was no such thing as a romantic proposal in candle-light dinner along with a bunch of flowers, or he bended on his knee asking, “Will you marry me?”, but I think what he did is just sweet,” kenang Alda.

Setelah mendapatkan jawaban pasti, Fari pun memberanikan diri meminta restu pada orangtua Alda seorang diri. Mengingat Alda harus kembali ke Kuala Lumpur. Apa yang dilakukan Fari ini tentunya semakin membuat Alda terharu karena menunjukkan Fari benar-benar seorang gentleman.

“Bahkan saat Fari menghadap kedua orang tuaku, dia sudah mempersiapkan tanggal pernikahan kami, yaitu 7 Agustus 2016,” kisah Alda. Selanjutnya, kedua keluarga pun bertemu untuk membicarakan persiapan pernikahan.Masa Persiapan Pernikahan

Pernikahan ini disiapkan hampir selama satu tahun. Pertama kali yang Alda lakukan adalah membooking venue agar persiapan lainnya seperti vendor pelaminan dan dekorasi bisa mudah mengikuti.

Tantangan terbesar dalam masa persiapan pernikahan ini adalah fakta bahwa Alda dan Fari menjalani LDR. Apalagi keduanya tidak berada di Jakarta, maka tidak bisa terjun langsung dalam hal persiapan pernikahan.

Untungnya masalah ini bisa diatasi dengan kehadiran WO yang dipilih Alda. Ditambah bantuan dan dukungan kedua keluarga.

“Tantangan terbesar itu justru bisa kami ubah menjadi pengalaman yang amat sangat menyenangkan dalam setahun mempersiapkan pernikahan ini. Karena aku dan Fari tidak di Jakarta, maka anggota keluarga pun benar-benar turun tangan, seperti contohnya kakak dan kakak iparku sangat membantu aku dalam hal brainstorming untuk pemilihan vendor, bahkan mereka berdua yang dealing dengan beberapa vendor kami,” ungkap Alda.

Saat Alda berkesempatan pulang ke Indonesia, momen ini pun tidak disia-siakannya. Alda, sang ibunda, dan ibunda Fari pergi ke Palembang serta Makassar untuk mencari pakaian plus aksesoris untuk keluarga.

“Aku dan Fari baru benar-benar bisa hands on saat kami kembali ke Jakarta for good 6 bulan menjelang pernikahan,” kisah Alda.

Alda sangat menikmati setiap proses yang terjadi dalam masa persiapan pernikahan ini. Apalagi Alda termasuk orang yang sangat into the details sehingga memastikan semuanya berjalan seperti apa yang ia inginkan. Hal ini terlihat walaupun Alda tidak berada di Jakarta tetapi tetap ingin terjun langsung dalam pemilihan warna dominan di acara akad dan resepsi, termasuk cue card untuk MC hingga tanda panitia yang berupa pin insial nama kedua pengantin.

“Aku ingin semua aspek di dalam acaraku betul-betul jadi satu kesatuan,” ungkap Alda mengenai hari pernikahannya.

About The Wedding Day

Alda memang menginginkan tema pernikahan yang kental dengan unsur tradisional dan tidak menghilangkan nilai-nilai adat. Keduanya pun memilih konsep pernikahan klasik, autentik, dan tradisional.

Keluarga Fari berdarah Makassar sehingga adat Makassar dipilih untuk digunakan saat akad nikah. Sedangkan orangtua Alda berasal dari Palembang, sehingga memilih adat ini untuk resepsi.

Alda memang tidak mengenal adat Makassar seperti apa. Namun ia ingin sekali akad pernikahannya mendapatkan sentuhan adat Makasar yang sangat kental. Alda pun mulai mencari informasi mengenai adat dari sisi calon suaminya ini.

“Untuk akad nikah, aku memakai baju Bodo, atau biasa disebut dengan Waju Tokko di Makassar. Aku memilih warna hijau tua, yang merupakan warna kebesaran bangsawan Bugis, untuk pakaian kedua mempelai. Sedangkan untuk pakaian keluarga inti, aku memilih warna orange, yang merupakan complementary color dari hijau,” ungkap Alda.

Dekorasi pelaminan adat diserahkan pada Sanggar Tamalate dan harus se-tradisional mungkin. Bahkan Alda sengaja membuat bride robe berwarna hijau dengan tulisan “Bunting Baine” yang artinya Pengantin Perempuan dalam bahasa Bugis.

Sedangkan untuk resepsi pernikahan, Alda dibantu sang ibunda yang mengerti betul tentang adat Palembang. “Di saat banyak pengantin perempuan memilih kebaya modern untuk dikenakan saat resepsi, aku lebih memilih untuk menggunakan busana khas Palembang, yaitu Aesan Gede, karena aku berpikir, “Insya Allah ini akan menjadi momen sekali dalam seumur hidup, jadi kapan lagi aku akan mengenakan busana adat Palembang lengkap kalau bukan saat pernikahanku?” hehe,” ungkap Alda.

Aesan Gede merupakan baju pengantin yang berupa songket Palembang dan dijadikan dodot serta dilengkapi mahkota, teratai, bungo cempako, kembang goyang, dan kelapo standan. Lalu ada satu lagi busana pengantin adat Palembang lainnya yaitu Aesan Pak Sangko. Busana ini berupa baju kurung atau baju angkinan.

Alda memilih Aesan Gede, sedangkan Aesan Pak Sangko dikenakan Ibunda Alda dan Fari. Untuk songket kedua mempelai, Alda memilih songket lepus dengan motif Nago Besaung atau Naga Bertarung melambangkan simbol kekuasaan, kejayaan, dan kemakmuran.

Nago Besaung juga diartikan sebagai naga yang dikurung dan dipakai oleh pengantin atau orang yang sudah berumahtanga. Mengandung makna jika orang yang bersangkutan sudah terikat tali perkawinan.

Sama halnya di adat Makassar, di mana robe yang dibuat oleh Alda juga memiliki makna dalam. Tulisan “Kabayan Baai” dan “Kabayan Bakas” dalam bahasa Ogan Komering Ulu artinya “Pengantin perempuan” dan “Pengantin lelaki.”

Untuk dekorasi resepsi pernikahan, Alda menyerahkan sepenuhnya pada Tante Ida Hardono dari Sanggar Putri Ayu. Di venue resepsi pernikahan diletakkan pergola-pergola yang terbuat dari ukiran kayu Tembesu di jalur masuk tamu. Lalu meja-meja ukiran kayu Palembang untuk tempat meletakkan foto.

Ditambah kursi dengan ukiran khas Palembang yang banyak digunakan tamu untuk mengabadikan momen. Tidak lupa dilengkapi juga dengan dekoarasi telok abang, lemari songket dan backdrop songket Palembang untuk ruang makan VIP.

Tamu juga bisa mendengarkan alunan musik khas Palembang yang disebut musik Kenong. Bukan hanya itu, lagu-lagu daerah Palembang pun dilantunkan di resepsi pernikahan indah ini. Mulai dari lagu Ombai Akas yang merupakan lagu dari daerah sang ayah, dan Kebile Bile, lagu asal daerah sang ibunda.

Prosesi Adat yang Dijalani

Untuk adat Makassar, Alda menjalankan upacara adat Mappacci atau mappepaccing yang artinya bersih. Tujuannya adalah untuk membershkan jiwa dan raga calon pengantin sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.

Biasanya upacara Mappacci ini dilakukan malam sebelum pernikahan. Namun Alda memilih untuk melakukannya tepat sebelum akad nikah. Saat memasuki area Mappacci, Alda dipayungi empat perempuan pembawa leluh untuk diantarkan ke pelaminan tempat upcara dilakukan. Acara ini diiringi alat musik Makassar yaitu Pagandrang. Dalam upacara ini menggunakan alat-alat berupa bantal, sarung empat lembar, daun pisang, daun nangka, daun pacci, dan suluh atau lilin.

“Di upacara Mappacci ini, keluarga terdekatku seperti, kakek, nenek, kakak, om, dan tante meletakkan daun Pacci atau daun pacar yang telah dihaluskan di ata telapak tanganku. Setelah itu, mereka melemparkan beras ke arahku sebagai simbol kemakmuran,” kisah Alda.

Setelah menjalani upacara Mappacci, Alda dikembalikan ke ruang transit sesaat sebelum akad dimulai. Saat rombongan calon pengantin pria tiba dan dipayungi empat pembawa leluh dan alat musik Pagandrang. Lalu Fari pun disambut oleh keluarga calon pengantin perempuan dan dipakaikan sejenis gelang diberi nama Lolla. Dan Fari pun dibawa ke meja akad oleh kakak ipar Alda.

Di acara akad ini, keluarga mempelai lelaki membawa Sompa, yang berarti ‘persembahan’. Sompa biasanya diberikan dalam bentuk hasil bumi seperti beras, kelapa, dan buah lainnya.

Untuk acara resepsi, adat Palembang sangat kental terasa. Mulai dari upacara kirab pengantin yang didahului dengan arakkan rebana dan kuntau atau silat tradisional, yang menyimbolkan memerangi hal-hal kurang baik sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Kirab pengantin juga didahului oleh empat penari yang membawa lilin dan melambangkan dewa Siwa yang menyimbolkan lentera saat mengarungi kehidupan berumah tangga.

Pada saat upacara kirab ini, lampu ballroom sedikit diredupkan sehingga suasana menjadi lebih syahdu. Ditambah dengan iringan music Kenong, musik tradisional Palembang. Momen ini menjadi bagian paling favorit Alda selama resepsi pernikahan.

Top 3 Vendor Favorit

Semua vendor yang mengambil bagian dalam persiapan dan hari pernikahan diakui Alda bekerja dengan sangat baik. Namun jika harus memilih, berikut ini tiga vendor favorit Alda.

1.Mawar Prada Wedding Organizer (@mawarprada_decor)

Alda mengenal vendor ini ketika mereka mengurus pernikahan sang kakak Alda. Kinerja Mawar Prada yang tidak perlu diragukan lagi ini membuat Alda dan Fari serta orangtua langsung memutuskan mempercayakan acara lamaran dan pernikahan pada mereka. Bahkan tanpa melihat-lihat pilihan WO lainnya.

“Aku melihat Mbak Ambar dan tim sebagai orang-orang yang sangat profesional, tapi di lain sisi aku ngerasa banget kalau Mbak Ambar membantu acara pernikahanku sudah seperti keluarga sendiri! Menurut aku, salah satu competitive advantage MawarPrada WO adalah Mbak Ambar berusaha membangun ikatan emosional dengan klientnya, sehingga kita sebagai klient bisa terbuka untuk mengungkapkan ekspektasi kita terhadap acara,” ungkap Alda.

Alda mengaku kehadiran Mbak Amar sangat membantu karena mengurusi persiapan dari A-Z. Membantu mulai dari mencari vendor, merencanakan rapat keluarga, follow up vendor, sampai mengingatkan Alda untuk melakukan perawatan pranikah.

2. The Portrait Photography (@theportraitphotography)

ThePortrait Photography dipilih Alda karena hasil kerjanya yang terbukti bagus saat menjadi vendor di acara pernikahan kakak Alda. Kehadiran Mas Dito, sebagai perwakilan ThePortrait Photography dinilai sangat akomodatif bagi Alda karena bisa menampung ide-ide yang calon pengantin tuangkan. Mulai dari foto untuk prewedding, lamaran, akad hingga resepsi.

“ThePortrait berhasil mewujudkan hasil-hasil foto sesuai apa yang aku mau. Mas Ditto dan tim juga suka explore dengan berbagai angle yang out of the box dan hasilnya tidak perlu diragukan lagi! They really did an awesome job!” ungkap Alda.

3. Anpa Suha (@anpasuha)

Alda berniat untuk go bold dalam make up pernikahannya yang bertemakan adat Palembang dan Makassar. Make up pada mata yang menonjol ditambah lipstik berwarna merah. Mengingat pakaian dari kedua daerah sangat mewah dan penuh dengan warna yang mencolok.

“Agar riasan wajah tidak ‘kalah’ dengan aksesoris yang dikenakan, aku memang memilih riasan wajah yang bold, tapi tidak mau terkesan menor yang “salon banget”. Menurutku, riasan Anpa berhasil mewujudkan apa yang aku mau. Selain itu, make up-nya Anpa juara banget kalau untuk urusan ketahanan. Walaupun udah dipake nangis, di lap pakai tissue, the make-up still stays in place!” kenang Alda.

Highlight from The Wedding

Momen saat mempersembahkan tarian Pagar Pengantin di depan semua undangan yang hadir menjadi paling berkesan bagi Alda.

I think performing Pagar Pengantin dance on our own wedding is every Palembangnese bride’s dream. Tarian Pagar Pengantin merupakan simbol perpisahan pengantin perempuan dari masa remajanya, melepas masa lajang, berpisah dengan teman-teman sepermainan serta tarian terakhir bagi mempelai wanita karena setelah itu tidak diperkenankan lagi menari di depan umum kecuali atas izin suami,” ungkap Alda.

Tarian Pagar Pengantin ini, sang pengantin wanita diharuskan menari di atas dulang atau nampan berlapis emas yang diisi bunga warna warni. Nampan tersebut mempunyai makna sebagai bunga teratai yang tidak tenggelam akan pasang surut gelombang. Alda juga dipakaikan kuku-kuku Tanggai oleh penari yang lain.

Tarian ini Alda lakukan didepan Fari dan menggambarkan bahwa pengantin wanita hanya akan bertindak didalam nampan, karena wanita yang sudah menikah memiliki ruang gerak yang terbatas. Sedangkan Fari berdiri di belakang Alda selama menari untuk menggambarkan bahwa dia siap untuk menjaga Alda.

Di kala banyak pengantin yang gugup saat akan menari tarian tersebut, uniknya Alda justru semangat banget untuk menari. Bahkan Alda sudah browsing tentang gerakkan tarian tersebut saat awal-awal mempersiapkan pernikahan.

Pada saat tiga kali latihan menari sebelum pernikahan pun Alda tetap semangat untuk mengulang gerakan tarian. Alda merasa ini menjadi suatu kebanggaan sebagai perempuan Palembang untuk bisa mempersembahkan tarian anggun ini di depan semua tamu.

Aku merasa tarian ini agung sekali. Saat intro lagu pengiring tarian ini dimulai, aku udah merasa mewah dan syahdu sekali. Percaya atau nggak, sampai sekarang, kalau aku mendengarkan lagu Pagar Pengantin, aku bisa merasa haru sendiri hihi,” kenang Alda yang juga mengajak kakak dan adik iparnya untuk ikut menari dengannya.

Tips Mempersiapkan Hari Pernikahan Ala Alda dan Fari

  • Kalau budget memungkinkan, do hire a professional wedding organizer! Alda merasakan sekali bagaimana terbantunya dengan kehadiran WO. WO yang professional bagi Alda tidak akan membiarkan calon pengantin dan keluarganya untuk pusing memikirkan hal-hal yang mungkin terjadi saat mempersiapkan dan pada saat acara berlangsung. Mereka yang akan handle semuanya and they really make sure that everything is running smoothly!
  • Pada saat awal mempersiapkan pernikahan, membuat mind map atau at least color scheme untuk tema acara kamu. Dimulai dari warna pakaian pengantin, orang tua, saudara kandung, sampai warna dominan dekorasi. Kombinasi warna pakaian pengantin dan keluarga yang dipikirkan matang-matang sangat penting untuk menghasilkan foto-foto yang bagus.
  • Minta pendapat orang-orang terdekat atau sekedar sharing perasaan kamu menjelang pernikahan! Menjelang pernikahan, pasti perasaan sebagai calon mempelai campur aduk. Dan sangat membutuhkan nasihat dan pendapat orang terdekat untuk membuat perasaan lebih tenang. Untuk hal ini, Alda sangat terbantu dengan adanya sang ibunda dan kakak iparnya yang selalu membantu mengingatkan hal-hal yang belum dipersiapkan untuk pernikahan.
  • Berserah diri kepada Tuhan. Sebagai calon pengantin, kita pasti berusaha untuk mempersiapkan yang terbaik untuk hari special kita, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa aspek yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan saat acara berlangsung. Untuk hal ini, tidak boleh panik, harus tetap tenang dan enjoy the night, karena ini akan menjadi moment sekali dalam seumur hidup!
  • Listen to your parents’ advice! Always! Mereka adalah orang-orang yang paling sayang sama kita dan menginginkan yang terbaik untuk kita.
×