Acara Lamaran Simpel ala Mutia and Audi

By Valeska on under The Engagement

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Residential

Colors

Vendor That Make This Happened

Engagement Reception

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Red Velvet Wedding Decor

Photography Bios Photography

Videography Bios Photography

Kebaya Aadvinaa

Make Up Artist Ellen Oei

Pacaran dengan atasan mungkin biasa kita lihat hanya dalam drama Korea, tetapi cerita lamaran dari Mutia dan Audi yang akan The Bride Dept bahas pada hari ini benar-benar terjadi, lho. Ya, Mutia dan Audi bekerja di perusahaan yang sama sebagai bawahan dan atasan. Uniknya lagi, ternyata papa dari Mutia telah mengenal Audi lebih dulu sebelum Mutia mengenal Audi. Kata Mutia, papanya bahkan sempat mencoba menjodohkannya dengan Audi. “Aku tinggal di komplek apartemen yang sama dengan Mas Audi dan aku tau Mas Audi suka main basket di lapangan basket yang ada di komplek apartemen terus Papa nyeletuk, ‘Muti sama Pak Audi aja, kan sama-sama single’. Waktu itu, aku menolak usulan Papa, karena aku ngerasa Mas Audi bukan tipeku dan beda umur lima tahun itu kejauhan.” cerita Mutia yang mengaku belum pernah berpacaran dengan orang yang lebih tua. 

Pada kenyataannya, Mutia dan Audi menjadi dekat karena tinggal di komplek apartemen yang sama. “Kami mulai sering pulang bareng sampai akhirnya dia bilang dia suka sama aku dan ngga lama setelah itu dia langsung ngajak nikah. Itu juga ngga dengan proposal romantis. Dia cuma ngomong ‘Nikah yuk’ pas kami lagi di mobil,” jelas Mutia. Mengingat keduanya baru saling mengenal selama kurang lebih dua bulan, tentu saja Mutia kaget dengan ajakan Audi untuk menikah. Mutia mengakui bahwa awalnya ia merasa terlalu cepat, tetapi ia mendapatkan pencerahan setelah banyak berdoa. “I think when you know, you just know,” tambahnya.

Kedekatan Mutia dengan Audi rupanya ia simpan dari papanya. “Malu aja gitu awalnya bilang ngga mau terus malah jadi deket hahaha,” aku Mutia. Saat papanya berkunjung dari Surabaya ke Jakarta, Mutia memanfaatkan momen tersebut untuk memperkenalkan Audi dan Audi memanfaatkan momen tersebut untuk menyampaikan niatnya melamar Mutia. “Papa kaget banget sih awalnya, tetapi karena ngeliat keseriusan aku dan Mas Audi, Papa akhirnya ngasih izin dan yakin sama aku dan Mas Audi.”

Mutia dan Audi sebetulnya tidak merencanakan acara lamaran yang formal, karena mereka hanya menginginkan pertemuan keluarga yang santai sembari menikmati santap siang di restoran. Rencana tersebut berubah setelah Audi mempertimbangkan bahwa ia dan keluarganya sepatutnya bersilaturahmi dengan keluarga Mutia di Surabaya. Dalam kurun waktu tiga minggu, mereka berdua harus mengurus akomodasi dan transportasi bagi keluarga Audi. “Mengurus akomodasi dan transportasi bagi keluarga jadi kendala paling berarti buatku dan Mas Audi. Bayangin ya, aku dan Mas Audi tinggal di Jakarta. Keluarga Mas Audi tinggal di Bogor. Keluargaku tinggal di Surabaya. Berarti ada banyak hal yang harus kami urus, kan? Aku bahkan ngga bisa meeting langsung sama vendor, jadi cuma berbekal lurking di Instagram terus kasih referensi-referensi yang aku cari sendiri dari Pinterest dan The Bride Dept hahaha,” kenang Mutia.

Untungnya, Mutia juga mendapatkan bantuan dari teman dan keluarganya. “Kebaya lamaranku dibuatkan oleh sahabatku sendiri. Aku ngga pake EO, karena keluarga dari Semarang mau bantuin mengorganisir acara lamaranku. Untuk makanan pada saat lamaran juga ngga pake katering dari luar, karena Mama yang masak. Mama selalu masak buat aku setiap aku pulang ke Surabaya dan masakan Mama enak banget, lho!” ujar Mutia bersemangat. Dengan menghidangkan masakan rumah dalam acara lamarannya, Mutia berharap suasana kekeluargaan akan lebih terasa.

Mutia menjelaskan bahwa ia dan Audi tidak menggunakan adat tertentu dalam acara lamaran mereka, jadi prosesi yang dilakukan pun sama seperti pakem lamaran biasa, yaitu perkenalan antara kedua keluarga, pemberian hantaran dari keluarga laki-laki kepada pihak keluarga perempuan, serta penyampaian lamaran. Mengingat Mutia adalah anak perempuan satu-satunya, suasana lamaran pun diisi keharuan. “Keluargaku mungkin sedikit merasa anaknya diambil hehehe jadi keluarganya Mas Audi benar-benar diberi wejangan untuk bisa menjaga dan menyayangi aku selayaknya aku juga bagian dari keluarga Mas Audi.”

Sebelum menutup wawancaranya dengan The Bride Dept, Mutia berpesan bagi brides-to-be yang akan mempersiapkan lamaran untuk selalu sabar dan mengurus semua detail persiapan dengan kepala dingin. “Kalau tetap tenang, Insya Allah semuanya lancar,” tambah Mutia. Mutia juga berpesan untuk selalu meminta persetujuan orang tua dan keluarga, karena mereka tahu yang terbaik dan tanpa mereka, acara lamaran tidak mungkin berjalan lancar.

Top 3 vendors pilihan Mutia:

  1. Mama dan keluarga, karena masakan Mama enak semua dan keluargaku rela dateng dari Semarang ke Surabaya untuk bantu ngurus lamaran.
  2. Red Velvet Wedding Decor, karena mereka berhasil mendekor rumahku seperti yang aku mau padahal aku cuma kirim referensi dekor lewat WhatsApp.
  3. Bios Photography, karena hasilnya bagus!
×