Sweet, Simple and Intimate Wedding ala Irine dan Joe

By Renya Nuringtyas on under The Wedding

Sweet, Simple and Intimate Wedding ala Irine & Joe at Taman Kajoe, Jakarta

Style Guide

Style

International

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Taman Kajoe

Bride's Attire Norma Butik

Groom's Attire Marks & Spencer

Event Styling & Decor Paperinrose Wedding

Photography Aspherica

Videography Aspherica

Make Up Artist Tiarahanurina

Hair Do Tiarahanurina

Jewellery & Accessories Ring by From Story

Master of Ceremony Kang Hari

Seserahan Livina Aku

Wedding Cake Gordon Blue

Jewellery & Accessories FROM by From Tiny Islands

Jewellery & Accessories JJ Twin Shop

Souvenir Tomo Works

“LDR can be REALLY tough sometimes (most of the times), but it can work out pretty well if you put your faith in it. Communication and tolerance are the keys.”  – Irine

Untuk Irine dan Joe, menjalani hubungan LDR (Long Distance Relationship) antara Jakarta – Belanda selama 9 tahun tentunya tidak gampang. Irine mengaku rasanya luar biasa sekali, bahkan ada masa dimana mereka hanya bisa bertemu kurang dari 10 hari dalam satu tahun. Tapi semua itu bisa mereka jalani dengan bekal komunikasi dan toleransi yang selalu mereka jaga dengan baik, sampai akhirnya Irine dan Joe membuktikan bahwa hubungan LDR yang mereka jalani berakhir indah di pelaminan.

Irine dan Joe pertama kali bertemu saat sama-sama bersekolah di Turkish International School di daerah Depok, Jawa Barat. Saat itu Joe sudah kelas 3 SMA dan Irine masih duduk di kelas 3 SMP, dan hubungan mereka hanya sebatas saling tahu saja karena memang Joe saat itu sudah punya pacar dan Irine masih belum terpikir soal pacaran karena memang masih duduk di bangku SMP. Mereka baru mulai berteman setelah Irine lulus SMP dan Joe lulus SMA, tepatnya saat Irine sibuk memilih SMA dan Joe sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Belanda untuk kuliah dan tinggal seterusnya disana. Kebetulan Joe memang warga negara Belanda, Ayahnya orang Belanda dan Ibunya asli orang Indonesia.

Setelah itu mereka justru baru mulai intens berkomunikasi sampai detik terakhir Joe di Indonesia, dan mereka baru bertemu lagi saat Joe kembali ke Jakarta setelah beberapa bulan di Belanda. “Saat itu tidak tahu bagaimana tapi at some point kita tahu kalau kita berdua sudah bukan sebatas teman lagi. Jadi saat dia kembali ke Belanda kita sudah resmi pacaran,” ujar Irine. Hubungan itu pun terus berlanjut sampai akhirnya di tahun 2017 silam Joe resmi melamar Irine. Obrolan mengenai rencana menikah sebenarnya sudah dilontarkan Joe sejak lama, tapi irine mengaku saat itu ia kerap kali menghindar karena masih takut dan belum siap untuk menikah. Tapi akhirnya Joe merasa kalau ini adalah saat yang tepat dan Irine pun sudah siap, jadi pada tanggal 7 Juli 2017, satu hari sebelum Joe kembali ke Belanda, Joe melamar Irine untuk menjadi istrinya.

Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk pergi makan malam sehari sebelum Joe kembali ke Belanda, dan malam itu mereka berdua memutuskan untuk pergi makan malam di The Edge Bistro Kemang. Saat mereka berada di lift untuk menuju ke mobil usai makan malam, Joe mengatakan kalau kunci mobilnya tertinggal dan harus kembali ke atas untuk mengambilnya. Sedikit kesal, Irine akhirnya ikut naik ke atas untuk mengambil kuncinya dan langsung mengajak Joe untuk segera pulang setelah itu. Tapi Joe malah mengajak Irine untuk melihat-lihat swimming pool yang ternyata sudah dihiasi dengan lilin cantik, dan sudah ada kakak sepupu dan adik Irine disana yang ternyata membantu Joe menyiapkan semuanya. Joe pun langsung down on his knee di depan Irine sambil mengeluarkan cincin yang memang sudah menjadi salah satu wish list Irine. Tanpa berpikir panjang, Irine pun meng-iya-kan lamaran Joe malam itu.

Acara pernikahan Irine dan Joe diadakan dengan sangat cantik dan intimate, karena hanya mengundang 150 orang tamu saja. Awalnya Irine sempat berencana untuk mengundang 50-75 orang saja, tapi langsung di tolak mentah-mentah oleh sang Mama. Menurut Irine, dalam merencanakan acara pernikahan kita memang sebaiknya mendengarkan masukan dari orang tua. Setelah sepakat untuk mengundang 150 orang saja, Irine mulai mengatur seating arrangement untuk intimate wedding seperti ini. Karena 150 orang terlalu banyak untuk dibuat seating arrangement dimana semua tamu mendapatkan tempat duduk selama acara, akhirnya Irine memutuskan untuk menggabungkan konsep pelaminan dengan menyebar kursi dan meja sebanyak mungkin sesuai kapasitas ruangan. “It turns out very nice. Ternyata intimate wedding tidak harus semua tamu mendapat tempat duduk. Dan kalau di acara pernikahan banyak tamu yang antri untuk salaman, di acara ini antrian salaman mungkin hanya sekitar 30 menit. Sisanya para tamu bisa duduk santai di meja dan kursi yang disediakan dan aku dan Joe pun bisa turun dari pelaminan untuk mingle dengan para tamu,” tambah irine.

Irine mengaku Taman Kajoe sudah membuatnya jatuh cinta karena sukses membuat acara pernikahannya terkesan seperti menyelenggarakan pesta kebun di rumah sendiri. Tamannya sangat terawat dan suasanya nyaman, jadi tanpa ragu Irine langsung memilih Taman Kajoe sebagai venue pernikahannya. Irine juga sengaja tidak menggunakan jasa WO untuk acara pernikahannya. Ia pun mendapat banyak sekali bantuan dari teman-temannya. Untuk dekorasi, Irine dibantu oleh vendor Paperinrose yang pemiliknya, Faldy, adalah teman kuliahnya. Irine juga meminta bantuan Faldy untuk mengatur vendor catering dan foto. Untuk MC, Irine secara khusus meminta bantuan dari salah satu teman kuliahnya juga yang memang saat ini sudah menjadi MC acara Wedding.

Untuk meng-handle acara di hari H, irine meminta bantuan dari kakak sepupunya yang berkecimpung di dunia Event Organizer, yang langsung bersedia membantu dengan senang hati. Irine bahkan hanya perlu mengeluarkan budget untuk membayar 4 orang crew freelance dan sewa HT 5 buah, jadi benar-benar tidak perlu mengeluarkan biaya besar. “Ketika waktunya technical meeting dan hari H semua terasa enak dan santai banget karena aku dibantu oleh orang-orang yang aku kenal dan sangat excited untuk membantu acaraku ini. So it was nice bisa kerja bareng dengan orang-orang yang mengenal kita dan kita juga kenal mereka,” ujar Irine.

Momen yang paling berkesan dari acara pernikahannya adalah momen akad nikah. Saat Irine keluar dari kamar dan berjalan menuju meja akad nikah, Joe langsung berdiri dan meneteskan air mata. “Aku tahu yang Joe rasakan, setelah sekian tahun ini LDR dengan segala rintangannya, akhirnya semua terbayar dengan pernikahan kita yang kita siapkan sama-sama meskipun dari jarak jauh,” ujar Irine haru.

Momen lain yang juga berkesan adalah momen disaat Irine masuk ke area resepsi yang terang dengan para sepupunya berbaris rapi memegang kembang api. Ia mengaku bahagia karena seluruh acara berjalan dengan lancar meskipun tanpa bantuan WO professional dan hanya dibantu oleh orang-orang terdekat.

Tantangan yang dirasakan saat mempersiapkan acara pernikahannya adalah saat ia sempat bingung menentukan siapa orang yang bisa ditunjuk untuk mengatur rundown, kordinasi dengan vendor, dan lain-lain di hari H, karena memang tidak ada bantuan WO. Tapi diluar itu Irine mengaku semua masih bisa di-handle sendiri.

Top 3 vendor pilihan Irine:

  1. Paperinrose_wedding

“Aku appreciate kerja Faldy yang meskipun waktunya mepet banget (kurang dari 4 bulan) dan tidak terlalu sering ngobrol, hanya di awal saja, Faldy tetap bisa menghasilkan dekorasi yang sesuai. Request aku dari awal hanya tidak mau banyak bunga, benar-benar seminim mungkin karena aku tidak suka bunga. Dan itu dilakukan dengan sangat maksimal oleh Faldy.”

  1. Aspherica

“Wah ini juara sih! Aku orangnya tidak bisa senyum di foto, hahaha.. Jadi kalau foto pasti muka aku tidak senyum dan kalau diminta senyum pasti jadinya canggung banget. Tapi tim Aspherica luar biasa sabar dan tahu celah untuk bisa mengambil momen senyum aku yang pas dan tidak canggung. Hasil foto dan video cinematic nya juara banget.”

  1. Normabutik

“Sejujurnya yang ketiga ini adalah vendor cincin (from.story) dan baju (normabutik), jadi susah menentukan satu. Tapi sepertinya aku harus memilih baju, karena tidak hanya hasilnya bagus banget, tapi juga sesuai dengan yang aku mau harganya sangat sangat terjangkau. Not to mention kalau bajunya juga jadi milik aku dan bukan sewa. Jadi kalau ada istilah don’t judge a book by its cover, sebaiknya juga jangan judge penjahit dari lokasinya dan rumahnya aja, karena memang saat pertama kali datang kita akan dibuat ragu dengan tempatnya yang kecil. Saking kecilnya, saat tamu sedang ramai, banyak tamu yang sampai harus menunggu di depan rumah karena tidak mencukupi untuk menunggu di dalam. Setelah baca-baca review dari female daily banyak juga yang bilang jahit di norma rapi banget dan di-handle langsung oleh pemiliknya. Dan memang benar, hasilnya benar-benar rapi dan simple sesuai keinginan aku.”

Irine juga tidak lupa memberikan tips untuk brides-to-be yang sedang mempersiapkan acara pernikahan: 

  • “Hal paling penting yang harus kita punya dalam diri ketika sudah memutuskan untuk menuju pernikahan adalah TAHU KAPASITAS DIRI. Itu penting banget. Tahu kapasitas diri dalam hal biaya dan pengeluaran, tahu kapasitas diri sampai dimana bisa melakukan sendiri dan sampai dimana perlu minta bantuan orang lain (which is totally fine).“
  • “Setelah itu, akan lebih mudah untuk kita menentukan prioritas. Apa itu prioritas? Itu adalah apa hal yang menurut kita penting. Untuk aku, prioritas aku adalah dokumentasi, cincin dan kalau bisa, venue. Aku mau cincin dengan desain yang aku buat sendiri, keluar budget agak banyak karena desain yang tidak biasa tidak apa-apa, karena aku bisa press budget untuk hal yang tidak terlalu penting seperti baju dan sepatu (untuk aku). Begitu juga untuk dokumentasi. Sejak awal aku dan Joe tahu bahwa milih dokumentasi harus yang paling bagus dan tentunya tidak harus memaksakan diri juga, hanya memilih yang paling baik sesuai kemampuan kita. Sedangkan Venue, karena tamu tidak banyak, kita mau tempat yang nyaman dan indah dipandang meskipun tidak menggunakan dekorasi yang terlalu banyak.”
  • “Jangan ragu untuk meminta bantuan. Keluarga, terutama sepupu, pasti mau banget membantu asal kita komunikasi dengan jelas. Hal-hal seperti memberikan seragam untuk keluarga dan lain-lain tidak perlu dibawa stress dan menjadi keharusan. karena the truth is itu tidak harus. Komunikasi adalah kuncinya. Sejak awal aku sudah mengatakan kalau sepertinya aku tidak menyiapkan seragam dan keluarga kalau mau bisa memakai warna sama. Tapi tidak tahunya keluargaku dengan senang hati membeli seragam bareng-bareng dengan warna yang sama dengan budget masing-masing. So jangan ragu sama keluarga. Kasih tahu bagian mana yang masih bisa kita handle sendiri dan bagian mana yang memerlukan bantuan mereka. Mereka akan sangat happy bisa membantu dan meringankan beban kita dalam mempersiapkan pernikahan.”
  • “Anggaplah persiapan pernikahan sebagai project kerjasama pertama bareng sama pasangan, latihan sebelum melakukan project-project lain yang akan lebih menantang kita dan pasangan kedepan. Bagaimana kerjasama yang baik berdua adalah pondasi yang paling penting yang akan menentukan apakah project ini akan sukses atau malah membuat stress satu sama lain. Have faith in each other.”
×