Tata Cara Pernikahan Adat Palembang

By Friska R. on under How To, Pernikahan Adat

Prosesi pernikahan adat Palembang bisa dikatakan masih kental akan nuansa kesultanannya. Selain itu, setiap tahapannya pun mengandung makna religi yang sangat kental. Dipenuhi dengan doa dan harapan bagi sang pengantin dalam menjalani kehidupan rumah tangganya nanti.

Berikut ini tahapan prosesi pernikahan adat Palembang yang penting untuk dilestarikan dan diketahui:

Madik

Utusan keluarga calon pengantin pria berkunjung ke rumah calon pengantin wanita dengan tujuan untuk berkenalan. Tidak hanya itu, mereka juga membawa misi penting yaitu mengobservasi kondisi calon pengantin wanita dan keluarganya. Mereka juga akan melihat apakah calon pengantin wanita itu cocok untuk calon pengantin prianya dan mencari tau asal usul serta silsilah keluarga masing-masing. Termasuk mencari tau apakah calon pengantin wanita ini sudah ada yang meminangnya di masa lalu atau belum.

Utusan keluarga ini tidak datang dengan tangan kosong, mereka membawa tenong atau songket yang berbentuk bulat terbuat dari anyaman bambu. Ada juga beberapa tenong berbentuk songket segi empat dibungkus kain batik bersulam benang emas berisikan bahan makanan seperti; mentega, telur, gula yang diserahkan kepada keluarga calon pengantin wanita.

Menyenggung

Acara ini menjadi bentuk tanda keseriusan calon pengantin pria. Di sini keluarga calon pengantin pria akan mengutus kerabat dekat dan orang kepercayaannya untuk membahas serta mengatur tanggal kedatangan berikutnya untuk melamar. Mereka juga akan membawa buah tangan serupa seperti acara Madik.

Meminang/Melamar

Keluarga calon pengantin pria dan beberapa kerabat serta orang kepercayaan akan datang ke rumah keluarga calon pengantin wanita dengan tujuan meminang. Rombongan ini juga akan membawa buah tangan, dan jika lamaran diterima maka barang-barang hantaran akan diserahkan kemudian dilanjutkan dengan memutus “kato” atau menentukan tanggal pernikahan.

Adapun hantaran yang dibawa adalah : kain terbungkus dengan sapu tangan ditaruh di atas nampan. Ada juga 5 tenong berisi gula, gandum, juadah, buah-buahan dan lainnya. Jumlah songket atau tenong harus selalu ganjil. Tidak lupa mereka juga akan membawa pisang setandan sebagai lambang kemakmuran.

Berasan dan Mutus

Acara ini merupakan musyawarah dari kedua belah keluarga calon pengantin untuk menentukan tanggal pernikahan. Pihak yang datang biasanya keluarga dekat calon pengantin serta 9 orang wanita dengan membawa tenong.

Keluarga yang hadir diwakili juru biacara yang akan menyampaikan kata-kata indah kadang berupa pantun. Selanjutnya para utusan akan melakukan ipacara pengikatan tali keluarga, yaitu dengan mengambil setumpuk sasak gelungan (konde) dan dibagikan ke para utusan serta keluarga. Kedua belah pihak pun mengunyah sirih dengan tembakau dan memiliki arti kedua keluarga telah saling mengikat diri untuk jadi satu keluarga.

Untuk buah tangan biasanya berupa tenong, nampan, songket segi empat, satu baju, satu selendang sutera, senting, selop, sandal, sepatu, alat rias, kosmetik, buah-buahan, serta setandan pisang.

Akad Nikah

Akad nikah ini sama seperti akad nikah pada umumnya. Mas kawin yang diserahkan biasanya berupa perhiasan atau barang lain sesuai apa yang diminta keluarga calon pengantin wanita dan telah disetujui pihak pria.

Mengarak Pacar

Acara ini menjadi simbol pengantin wanita menerima pribadi sang suami. Saat arak-arakan rombongan keluarga pengantin pria tiba di rumah pengantin wanita maka akan disambut ibu sang pengantin wanita. Hadir juga para sesepuh perempuan yang sudah siap membawa semangkok kecil beras tabur dicampur receh. Nantinya beras ini akan ditaburkan kepada pengantin pria serta rombongannya.

Pada acara ini pun akan terdapat hiasan perahu dengan ornamen indah, lampu warna-warni, alat musik tabuh-tabuhan, keris pusaka, nampan serta kain sutera emas.

Munggah

Prosesi ini menjadi puncak acara pernikahan adat Palembang. Dimeriahkan dengan tabuhan rebana yang mengiringi pengantin pria, silat, adu pantun, dan sejumlah prosesi lainnya yang tentunya penuh dengan makna. Misalnya buka tirai (tanda pertemuan pertama lelaki dengan wanitanya), dan diakhiri dengan persembahan tari dari sang pengantin wanita.

Prosesi pernikahan adat Palembang bisa dikatakan mirip dengan keraton Jawa. Tidak heran karena pada jaman dahulu Kerajaan Sriwijaya menjadi target sasaran Majapahit sehingga budaya Jawa yang dibawa Majapahit mempengaruhi Sriwijaya. Tidak hanya itu, pernikahan adat Palembang pun ditambah pengaruh Cina, Arab, serta Hindu.

Sungguh kaya bukan prosesi pernikahan adat Palembang ini dan sayang sekali jika tidak dilestarikan. Bagi kamu yang berdarah Palembang, apakah tertarik untuk melangsungkan hari pernikahan menggunakan adat Palembang ini?