Pakar Pernikahan Adat Jawa ala Ibu Mamie Hardo

By Friska R. on under Makeup Artist, Meet The Expert

Hari ini The Bride Dept akan menghadirkan sosok yang sudah tidak asing lagi bagi pasangan yang ingin mengadakan pernikahan adat Jawa. Sosok tersebut adalah Ibu Mamie Hardo. Ditemani oleh putri bungsunya, Mbak Mita Hardo, Ibu Mamie menjawab beberapa pertanyaan dari The Bride Dept.

Ibu Mamie Hardo adalah salah satu perias pengantin paling senior di Indonesia. Calon pengantin yang ingin menikah dengan adat Jawa berebutan untuk dirias oleh Ibu Mamie ini. Walaupun Ibu Mamie sudah sangat ahli di bidang ini, ternyata beliau memulai karirnya sebagai pemilik salon pada tahun 1972. Setelah 10 tahun bergelut di bidang ini, beliau pun mengubah arah karirnya menjadi perias pengantin. “Saya belum merasakan kepuasan batin dengan memiliki salon, selain itu saya memang sangat suka merias orang-orang sejak dahulu,” jawab beliau ketika kami bertanya alasan mengganti profesi.

Ibu Mamie pun memfokuskan karier-nya sebagai perias pengantin Jawa. Keahlian Ibu Mamie waktu itu sudah sangat terkenal sehingga pada tahun 1988, beliau diminta oleh keluarga Alm. Ali Alatas, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, untuk ke New York selama 1 bulan untuk merias anaknya yang ingin menikah di sana.

“Dengan merias calon pengantin, saya memperoleh konsumsi batin. Tugas saya bukan hanya saja merias tetapi juga memberikan wejangan kepada mereka sebelum melangkahkan kaki ke kehidupan pernikahan.”

Dalam menjalankan bisnisnya, Ibu Mamie sangat menjaga kualitas riasannya, sehingga beliau membatasi hanya ada 5 pengantin dalam 1 bulan. Hal itu dilakukan karena beliau ingin agar pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan tersebut dapat mengerti makna dan arti dari tiap upacara yang dijalani.

Dengan memilih untuk fokus kepada pernikahan adat, banyak yang sering menjulukinya sebagai dukun manten. Ketika ditanya tanggapannya mengenai hal tersebut, Ibu Mamie menjawabnya dengan santai.

“Sejujurnya saya tidak terlalu ambil pusing mengenai istilah tersebut, memang kesannya sedikit negatif karena ada kata dukunnya. Tetapi saya menjalani semuanya karena saya sangat suka merias orang dan pada waktu itu istilah makeup artist masih belum dikenal luas. Oleh karena itu, istilah dukun manten lah yang digunakan. Nah, tetapi saya melihat perbedaan mendasar antara dukun manten dan makeup artist adalah koneksi dengan calon pengantinnya. Dukun manten memiliki tugas untuk memberikan guidance dan juga menjaga calon pengantin dari pengaruh yang tidak baik menjelang hari pernikahan.”

Untuk calon pengantin yang ingin dirias oleh Ibu Mamie hanya perlu untuk menghubungi nomor kontak yang sudah disediakan. Telepoon tersebut lalu akan direspon oleh Mba Mita yang nantinya akan mencocokkan dengan schedule ibu Mamie. Oleh karena itu sebaiknya sudah memiliki tanggal yang pasti terlebih dahulu. Beliau memang mengakui bahwa ada beberapa calon pengantin sering tidak kebagian jadwal karena Ibu Mamie dan Mba Mita menggunakan sistem first come first serve.

Dalam proses merias Ibu Mamie tidak melakukan yang dinamakan test makeup. Beliau yakin bahwa calon pengantin yang datang kepadanya sudah 100% percaya akan keahliannya sehingga calon pengantin harus yakin terhadap beliau. Alasan lainnya adalah Ibu Mamie percaya bahwa hasil makeup yang pertama kali akan terlihat lebih bagus, apalagi beliau biasanya melakukan tirakat sebelum hari H.

Price range dari Ibu Mamie ini dimulai dari harga 40 juta Rupiah. Paket ini sudah termasuk makeup pada acara siraman, midodareni, akad nikah, resepsi. Paket tersebut termasuk dengan penyewaan kebaya dan peralatan yang digunakan pada acara adat.

Sebagai seseorang yang sudah sangat lama berkecimpung di bidang ini, Ibu Mamie tetap merasakan semangat yang sama ketika beliau memperoleh tugas untuk merias wajah calon pengantin. Hal ini didasari oleh rasa cinta beliau terhadap profesinya. Just like what Confucius said “Choose a job you love, and you’ll never have to work a day in your life.”

Pada saat ini, Ibu Mamie Hardo sudah melakukan regenerasi kepada Mba Mita, putri bungsunya. Hal ini dilakukan karena beliau melihat bahwa Mba Mita memiliki kecintaan yang tinggi terhadap kebudayaan Indonesia. Mba Mita pun sudah mulai terjun ke dalam event-event dengan adat Jawa dan menjadi person in charge di acara-acara tersebut.

×