Throwback: The Wedding of Andra Alodita & Abenk Alter

By arinda.p on under The Wedding

pernikahan wedding andra alodita abenk alter thebridedept

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hall

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Triss Living

Event Styling & Decor Mawar Prada

Photography Michael Cools

Videography Shadtoto Prasetio

Make Up Artist Puri Kamaratih

Bride's Attire Private Collection by Ibu Yati

Catering Al's Catering

Wedding Organizer Mawar Prada

Halo Andra Alodita! Apa kabar? Thank you ya sudah mau berbagi cerita dengan The Bride Dept. Kalau kita mulai dari awal, gimana kalau Andra menceritakan sedikit mengenai awal hubungan kamu dan suami?

Kami pertama kali bertemu di pemotretan cover album pertama band-nya Abenk (sebelum Abenk bersolo karier), tapi sebelumnya kami sering mendengar nama dan cerita satu sama lain lewat teman kami. Selang beberapa tahun kemudian, kami bertemu lagi secara tidak sengaja di sebuah mall. Dari situ kami mulai saling ngobrol setiap hari via Blackberry Messenger, pergi berdua dan bertukar pikiran soal seni. Karena kami punya ketertarikan yang sama di bidang seni, music dan holistic – kami merasa ‘klik’. Tapi sayangnya, hubungan kami selama pacaran juga on-off-on-off terus. Sampai akhirnya setelah 1,5 tahun berpacaran, Abenk meminta izin untuk menikahi saya.

Saya kira tadinya gak serius, gak taunya beneran serius sampai Abenk langsung minta izin ke orang tua saya. Kami juga memperbaiki hubungan kami setelah fase on-off-on-off yang tidak jelas, dari mulai cara berkomunikasi hingga cara mengerti dan menerima satu sama lain secara utuh. Saat resmi menikah, kira-kira kami berpacaran selama kurang dari 2 tahun. Kalau dibilang masa-masa pacaran lebih menyenangkan – ternyata tidak, justru kami merasa lebih saling jatuh cinta sejak menikah.

That’s so sweet to hear! Lalu dulu Abenk adakah proposal tersendiri dalam mengajak nikah Andra?

Dua hari sebelum lamaran resmi dengan keluarga besar, Abenk tiba-tiba mengajak saya membeli minyak kayu putih di daerah Mahakam. Saya sebel banget, kok beli minyak kayu putih saja harus di daerah Mahakam, kan apotik lain juga ada. Setelah kami beli minyak kayu putih tsb, Abenk mengajak saya ke Taman Ayodya Barito yang lokasinya hanya tinggal menyebrang dari apotik – padahal saat itu sedang gerimis. Di tengah-tengah taman, tiba-tiba ada segerombolan anak SMA 70 bernyanyi lagu “Telling The World” di sekeliling kami. Dengan polosnya, saya kira itu kegiatan mereka sehari-hari! Maklum, pada saat itu flash mob lagi hits-hitsnya. Saya sibuk ingin merekam kejadian tersebut dengan smartphone saya, tiba-tiba saya lihat teman-teman Abenk dari kejauhan membawa balon warna-warni. Saya nganga, tiba-tiba Abenk sudah berlutut dan menyodorkan cincin. Saya speechless, Abenk hanya tertawa sambil berlutut. Setelah saya bilang “Yes, I do!” baru deh semua balon yang dibawa teman-temannya Abenk dilepas ke udara dan kami buru-buru kabur ke mobil karena hujan. Sampai mobil, lutut saya lemas banget dan Abenk cengir-cengir seharian. Ternyata Abenk sudah menyiapkan proposal ini kira-kira 2 minggu sebelum ia melamar di Taman Ayodya. Sukses deh pokoknya!

Acara pernikahan kamu di-design dengan sangat intimate, adakah alasan di balik itu? Adakah challenge nya dalam membuat pernikahan yang intimate?

Alasan utamanya karena saya sebagai wedding photographer, sudah merasakan bermacam-macam wedding mulai dari yang intimate sampai yang heboh banget. Saat resepsi pernikahan itu ‘heboh’, pasangan yang menikah pun gak bisa enjoy pesta pernikahannya, yang ada malah capek karena harus menyalami tamu-tamu orang tua kedua belah pihak. Kami memilih intimate karena tidak ingin pesta pernikahan kami dihadiri orang-orang yang kami tidak kenal, tapi justru ingin dimeriahkan oleh keluarga dan sahabat-sahabat terdekat. Selain itu kami juga selalu punya konsep “yang sederhana-sederhana aja” karena kami ngga suka yang terlalu heboh-heboh. Kedua orang tua pun setuju, walau akhirnya pihak mertua harus ‘Ngunduh Mantu’ karena keluarga dari Abenk banyak sekali. Cukup kesulitan sih awalnya untuk menyeleksi tamu, tapi karena kami mengadakan dua acara – jadi orang-orang yang lebih diprioritaskan oleh keluarga saya diundang di pesta pernikahan kami. Sisanya pas acara Ngunduh Mantu, lebih ke teman-teman dan keluarga Abenk.

Kalau konsep pernikahan mu apa? Susahkah mewujudkannya?

Saya hanya minta dekornya yang ‘cantik’ dan menyerahkan semua ke vendor dekorasi. Sebelumnya, saya juga menyiapkan moodboard berisi referensi-referensi pernikahan kami mulai dari dekor, baju sampai warna lipstick dan jenis bulu mata yang saya ingin pakai aja tuh saya simpan di moodboard tersebut. Saya banyak dapat inspirasi dari intimate weddings di luar negeri – semuanya saya dapat di internet.

Kamu dan Abenk kan sama-sama orang dari dunia kreatif. Adakah DIY project yang kamu kerjakan?

DIY project yang kami buat adalah undangan kami, yang didesain khusus oleh Abenk. Selain itu Abenk juga menulis lagu untuk wedding song kami, yang akhirnya dinyanyikan saat wedding. Saat Abenk bernyanyi, saya juga memotret Abenk dengan kamera professional teman saya. Jadi sama-sama impas kan!

Ada nggak sih yang ingin Andra ubah dari pernikahannya kemarin?

Saya ingin menikah di Bali, supaya lebih ‘intimate’ lagi

Kalau bisa memilih 3 top vendor dari pernikahan kemarin, kira-kira siapakah yang akan Andra pilih?

  1. PPF Photography – karena servicenya yang professional dan hasil foto yang memuaskan.
  2. Mawar Prada – servicenya bagus, sesuai dengan keinginan aku. Harganya waktu itu bisa menyesuaikan dengan budget wedding aku, bisa dibilang budget friendly.
  3. Al’s Catering – selain servisnya yang tentunya udah pasti bagus, pilihan makanannya banyak dan semuanya enak-enak. Rasanya pas food testing dan pas hari H masih sama – artinya kualitasnya memang terjaga.

Menurut Andra, apa sih yang paling challenging dalam menyiapkan pernikahan?

Paling sulit itu saat menyatukan semua pikiran dan permintaan keluarga hehehe. Belum lagi pasti kadang kami atau pun pihak dari keluarga kami ada saja yang berubah-ubah pikiran. Untung ibu saya banyak membantu, jadi beliau yang ‘turun tangan’ kalau ada apa-apa.

Kira-kira adakah tips untuk para brides-to-be dalam mempersiapkan pernikahannya?

Penting sekali untuk menyiapkan moodboard saat mempersiapkan hari pernikahan kamu. Lalu, gak perlu menghambur-hamburkan budget di luar kemampuan hanya untuk pesta pernikahan atau gengsi-gengsian, bagaimanapun pesta pernikahan itu hanya habis dalam hitungan beberapa jam saja loh. Hal yang paling penting justru kehidupan setelah menikah.