Pernikahan Adat Batak Di Grand Sahid Jaya

By Rebebekka on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Holy Matrimony

Venue HKBP Menteng

Wedding Reception

Venue Grand Sahid Jaya

Event Styling & Decor DeFlo

Photography Mindfolks Wedding

Bride's Attire Merras

Make Up Artist Maharani Nilla

Groom's Attire Iwa S

Seperti yang kita ketahui, pesta adat Batak lazimnya menghabiskan waktu yang cukup lama dengan tamu undangan yang sangat banyak. Maka jika keluarga ingin menggelar resepsi nasional akan sulit untuk digelar di hari yang sama. Biasanya baru diadakan keesokan harinya atau seminggu setelahnya. Tidak dengan Felicia dan Yanka yang bisa membuat tiga acara dalam satu hari, yakni pemberkatan nikah, pesta adat dan resepsi. Simak ceritanya ya brides!

Felicia dan Yanka bertemu pertama kali di gereja sekitar 15 tahun yang lalu. 15 tahun tentu bukanlah waktu yang singkat untuk saling mengenal satu sama lain. Selama itu mereka mengenal namun mereka baru berkomitmen untuk pacaran di tahun 2014. “There was an instant chemistry between us and we kept going even though we had long distance relationship for almost two years. Since we first started talking, there was not a single day that we didn’t speak to each other,” kata Felicia tentang hubungan mereka. Mereka juga menyimpan cerita manis saat Yanka melamar Felicia yang saat itu sedang berlibur di Jakarta. “Yanka melamar saya di rooftop sebuah hotel di Jakarta. Dia mengajak saya untuk ngopi-ngopi sore di rooftop bar tersebut. Ketika kami sampai sana, tidak ada pengunjung sama sekali. Keluar lift, saya mendengarkan lagu ‘Better Together’ Jack Johnson yang merupakan salah satu lagu dalam playlist kami berdua. Setelah kami duduk, saya baru sadar bahwa lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang ada di playlist kita berdua. Kemudian waiter datang membawakan flower bouquet berisi Hydrangea, jenis bunga kesukaan saya. Yanka lalu mengeluarkan cincin dari kantongnya, and of course, he popped the question! And I said yes,” cerita Felicia bersemangat. Satu hal lagi, ternyata Yanka tidak sembarangan memilih tempat untuk melamar Felicia. Di atas rooftop tersebut dan pas dari arah tempat duduk mereka, terlihatlah gereja dimana mereka dipertemukan sejak kecil. Di gereja itu pula mereka akan diberkati dan mengucapkan janji nikah.

Setelah dilamar oleh Yanka, Felicia kembali ke Hongkong untuk bekerja sebagai product designer. Selama lima bulan lamanya, Felicia dan Yanka berkoordinasi jarak jauh untuk mengurus segala persiapan pernikahan. Bidang pekerjaan Felicia dan dibantu juga oleh kakaknya yang merupakan seorang graphic designer sangat membantu dalam proses persiapan pernikahan. “Proses design, pencetakan undangan dan souvenir dapat kami lakukan sendiri tanpa bantuan vendor khusus,” ucap Felicia. Senangnya lagi, walaupun Felicia berada jauh dari Jakarta namun Yanka sangat sigap dan giat terutama dalam memikirkan konsep acara.

Setelah pemberkatan di Gereja, acara dilanjutkan ke Puri Ratna untuk pesta adat Batak. Dari awal, ayah Felicia ingin sekali memperbaharui konsep pernikahan adat Batak dengan membuat prosesi menjadi lebih singkat dari pada umumnya namun tanpa menghilangkan makna dan menjaga kesakralannya. Lazimnyya, pesta adat Batak bisa berlangsung hingga 10 jam dengan undangan yang lebih dari 1000 undangan. Keluarga Yanka dan Felicia memilih untuk membuatnya menjadi simple dengan mengundang hanya 150 kepala keluarga dari kalangan saudara terdekat. Acara mereka pun bisa berlangsung kurang dari 5 jam saja. “Kami juga memilih venue yang kecil, yakni Puri Ratna yang hanya bisa menampung tidak lebih dari 400 orang untuk sebuah seating party. Selain itu, karena kami mengadakan acara tersebut di hotel, kami tidak bisa menggunakan jasa catering makanan khas Batak. Akan tetapi, hal-hal tersebut tidak mengurangi esensi dari pelaksanaan sebuah acara adat batak pada umumnya. Ritual-ritual seperti mangulosi dan mandok hata tetap dapat dijalankan oleh pihak-pihak terkait. Merealisasikan konsep tersebut bukanlah hal yang mudah. Untungnya dari segenap keluarga dapat memfasilitasi ide tersebut. Ayah dan Ibu serta keluarga Yanka juga menyambut baik konsep tersebut,” jelas Felicia.

Saat acara adat, Felicia tampil cantik sekali dengan hias kepala khas Batak Toba atau yang disebut Sortali. Sortali tersebut merupakan warisan dari kakek buyut Felicia yang sudah dipakai oleh beberapa generasi dalam keluarga kami. Pada awalnya, sortali merupakan mahkota yang digunakan sebagai tanda kehormatan di masyarakat batak. “Kakek buyut saya memperoleh sortali tersebut dari pemerintah kolonial Belanda yang menduduki daerah Tapanuli Utara di awal abad ke-20, sebagai bentuk penghormatan terhadap pemimpin-pemimpin masyarakat setempat. Jadi umurnya sudah sangat tua dan merupakan memorabilia turun temurun di keluarga kami. Bentuk sortali yang kami kenakan justru bentuk asli sortali yang merupakan mahkota raja-raja batak dahulu kala yang kemudian diadopsi menjadi perhiasan yang dikenakan dalam perayaan-perayaan oleh masyarakat Batak. Kemudian, ornamen berwarna emas pada sortali saya juga dilapisi oleh emas sepuhan. Sementara itu, sortali yang dikenakan oleh Yanka adalah duplikat dari sortali asli yang diberikan oleh pemerintah Belanda dan dibuat dengan emas murni sehingga cukup berat untuk dikenakan di kepala,” lanjut Felicia.

Setelah acara adat Batak berakhir, mereka lalu menggelar resepsi nasional di hari yang sama dengan tema travelling and adventure. Tema ini menggambarkan hubungan mereka yang selama ini dijalani secara jarak jauh dan juga simbol bahwa setelah pernikahan ini mereka akan merantau untuk menetap di Melbourne. Balon udara, peta – peta vintage dan pesawat kertas hadir sebagai elemen dekorasi dalam pernikahan mereka. Elemen design ini pun dapat terlihat di seluruh rangkaian acara mulai dari undangan, tata ibadah pemberkatan, hingga buku lagu untuk koor di gereja. Kumpulan peta vintage disulap menjadi backdrop pelaminan yang sangat cantik.

“Everything! The wedding in its entirety is a blessing for us! Mulai dari acara pemberkatan di gereja, adat dan resepsi masing-masing memiliki highlights masing – masing. Salah satunya adalah saat pemberkatan di gereja, kami mempersiapkan hal yang berbeda saat prosesi ungkapan kasih kepada orang tua. Pada prosesi tersebut, kami mempersiapkan surprise kepada kedua orang tua kami dengan membacakan a prayer for parents yang kami persiapkan secara diam-diam. Kami bahkan melakukan hal tersebut hanya dalam sepengetahuan beberapa orang saja,” jawab Felicia saat ditanya apa highlight dari pernikahan mereka.

Felicia memiliki tiga kunci penting dalam mewujudkan pernikahan impiannya, simak ya brides!

  1. Communicate! Jalinlah komunikasi yang baik dengan setiap yang terlibat dalam persiapan acara, terutama pasangan. Berikanlah pasangan peran dalam persiapan dan ruang untuk berkreasi serta menyalurkan ide-idenya.
  2. Accommodate! Akomodir juga ide-ide dari para orang tua, karena pada dasarnya pernikahan juga adalah pemersatu dua keluarga yang memiliki latar belakang dan gaya yang berbeda pula.
  3. Have fun! Jangan lupa untuk menikmati seluruh persiapan acara pernikahan dan menyalurkan semua kreatifitas kamu dan pasangan. Kami sangat bersyukur karena dengan latar belakang keluarga yang erat dengan tradisi, seluruh rangkaian acara tetap dapat menjadi representasi dari karakter dan kreatifitas kami berdua.

Top 3 vendor pilihan Felicia

1. David Christover

“David merupakan fotografer yang mengerjakan pre-wedding photos kami. Begitu pertama kali kami lihat portfolionya, kami langsung suka. Karena kami tidak terlalu suka konsep pre wedding yang memerlukan banyak properti. David mampu mengekspos koneksi diantara kami berdua dan menampilkan kami apa adanya dengan tone warna yang sangat khas. Disamping itu, David juga sangat komunikatif dan bisa berinteraksi dengan baik dengan kami dari sejak pre-wedding hingga hari H”

2. Nilla Maharani

“Saya sangat puas dengan hasil riasan Nilla. Dia betul-betul memperhatikan bentuk wajah saya dan hasilnya pun sangat cocok. Makeup saya sama sekali tidak luntur sampai selesai acara dan hanya perlu sekali touch-up untuk resepsi yang dibantu oleh Felita Thea. Mas Noe sebagai hairstylist juga amat sangat saya kagumi dengan merancang tiga hairstyle yang berbeda di hari itu, apalagi sebelum acara adat kami hanya punya waktu kurang dari 10 menit untuk touch-up rambut.”

3. Merras

“Tante Anita dari Merras yang membantu saya merealisasikan semua kebaya yang saya kenakan mulai dari acara lamaran dan pernikahan. Ibu saya yang hobi koleksi bahan dari Eropa juga sudah menyiapkan semua kain kebaya selama bertahun-tahun sehingga saya tinggal memilih yang paling sesuai dengan konsep saya. Bahan yang saya pilih menjadi sangat indah dengan detail payet yang memukau. Kebaya yang saya kenakan semuanya langsung pas hanya dengan 2-3 kali fitting.”