Pernikahan Adat Minang dan Bugis

By Gerha Jayamala on under The Wedding

Style Guide

Style

Traditional

Venue

Hotel

Colors

Vendor That Make This Happened

Siraman

Malam Bainai

Venue Private Residence

Event Styling & Decor Elly Kasim

Bride's Attire Elly Kasim

Akad Nikah

Venue Dharmawangsa Hotel Jakarta

Catering Al's Catering

Event Styling & Decor Elly Kasim

Photography The Leonardi

Bride's Attire Edward Hutabarat

Make Up Artist Adi Adrian

Wedding Reception

Venue Ritz Carlton Hotel Pacific Place

Event Styling & Decor Stupa Caspea

Catering Akasya Catering

Photography The Leonardi

Bride's Attire Edward Hutabarat

Make Up Artist Irwan Riady

Invitation Siam Offset

Wedding Organizer ND & Team

Siapa sangka perkenalan 10 tahun yang lalu menjadi awal lembaran baru bagi Chairani Kalla dan Marah Laut. Mengenal satu sama lain di masa kuliah, Chairani dan Marah bertemu kembali di penghujung tahun 2012. Setelah pertemuan itu, hubungan mereka semakin dekat karena merasa cocok. Waktu pacaran pun mereka lewati dalam kurun waktu yang sangat singkat hingga akhirnya Marah menunjukkan keseriusannya dengan melamar Chairani pada tanggal 24 Februari 2013. Enam bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Agustus 2013, Chairani dan Marah melangsungkan pernikahan mereka. Mereka memadukan semangat dua adat pada hari pernikahan mereka. Pernikahan Adat Minang dan Bugis yang sangat mewah dan meriah. Yuk, baca selengkapnya!

Berasal dari 2 suku yang berbeda, Chairani menggunakan 2 adat yang berbeda dalam pernikahannya. Ibu dan Ibu mertua Chairani berasal dari Minangkabau, sedangkan sang Ayah berasal dari Bugis-Makassar. Maka dari itu kedua adat ini digunakan dalam prosesi dan rangkaian acara pernikahan Chairani dan Marah.

Sebagai warga Negara Indonesia, kita telah dianugerahi keindahan dan warna dari berbagai suku dan adat. Tetapi memang, menggunakan 2 adat berbeda saat menikah memang menjadi tantangan tersendiri bagi calon pengantin. Namun hal ini disiasati Chairani dengan membagi acara sebaik mungkin. Untuk pengajian, Chairani memilih untuk tidak menggunakan adat dan dilangsungkan secara sederhana. Pada acara ini, konsep sederhana tak hanya terlihat dari kebersamaan yang terjadi antara keluarga dan tamu undangan, tetapi juga dari attire yang dipakai Chairani dengan nuansa hijau muda dan warna makeup yang light tetapi terlihat bersinar dan cantik.

Keesokan harinya, acara siraman dilakukan dengan adat Bugis. Siraman adat Bugis ini memiliki artian yang sama dengan siraman adat Jawa yaitu membersihkan dan juga melindungi sang calon mempelai dari marabahaya. Pada acara ini, Chairani mengenakan kebaya karya Eddy Betty bernuansa biru dan baju adat Bugis bernuansa ungu tua dan hijau karya pengrajin lokal di Makassar. Pada hari yang sama, acara dilanjutkan dengan rangkaian acara dari adat Minang, yaitu Malam Bainai di malam harinya. Pada Malam Bainai ini Chairani diberikan inai atau daun pacar merah pada jari kukunya yang mempunyai arti untuk melindungi sang calon pengantin dari bahaya atau kemalangan. Pada malam itu, dekorasi dan pakaian yang dikenakan Chairani bernuansa merah dan emas karya Elly Kasim yang merupakan salah satu maestro pemandu adat Minang.

Berlangsung di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, akad nikah Chairani dan Marah berlangsung dengan sakral dan hikmat. Prosesi secara adat Minang di-package dengan nuansa modern. Hal ini terlihat dari dekorasi dan pemilihan warna pada rangkaian bunga, yaitu ungu, biru muda, dan kuning. Sedangkan kursi pada meja tamu dan keluarga dipilih gaya tiffany berwarna emas, lengkap dengan crystal chandelier pada ceiling. These two different styles are perfectly blended dan terlihat sangat cantik!

 

“Untuk akad nikah konsep yang kami inginkan adalah suci, sederhana dan sangat hikmat, karena akad nikah adalah upacara perjanjian kami dengan Allah SWT untuk menikah sehidup semati dengan jodoh pilihan kami yang disaksikan oleh malaikat. Di acara akad nikah, saya memakai kebaya berwarna putih dan suntiang di kepala. Suami saya memakai teluk belanga yang juga berwarna putih, karena putih menandakan kesucian.”

Berbeda dengan akad nikah, acara resepsi mengusung konsep Pesta Bugis-Makassar. Adat Bugis memang terkenal akan warna-warna yang cerah dan meriah, juga kain-kain sutranya yang cantik. Pakaian yang dikenakan Chairani dan Marah adalah baju bodo yang dimodifikasi modern karya Edward Hutabarat, tetapi tetap menggunakan bahan dan aksesoris klasik dan tradisional. Dekorasi pun terlihat sangat elegan, tetapi tetap meriah. We love everything about the décor! Dari warna yang dipilih, centerpiece di depan pelaminan pun sangat indah dengan hiasan crystal drops dan hanging flowers bernuansa magenta. Selain itu rangkaian bunga pada pelaminan sangat cantik dan serasi dengan pakaian yang dikenakan pengantin dan seragam tamu. Untuk pernikahan adat Bugis, dekorasi memang memiliki pengaruh yang besar dalam membangun ambience, karena baju dan kain yang dikenakan biasanya memiliki warna yang berani.

Chairani mengaku sangat menyukai setiap detail dari rangkaian acara adat pada pernikahannya. Tetapi jika harus memilih, Chairani sangat menyukai acara siraman dan Malam Bainai. Untuk Malam Bainai, Chairani mengaku merasa cantik saat menggunakan suntiang yang ia pakai. Kedua acara tersebut juga berlangsung sangat meriah dan setiap prosesinya mengandung makna yang sangat dalam.

Ketika ditanya soal hal yang ingin ia ubah dari pernikahannya, Chairani mengaku ingin mengubah pakaian seragam bridesmaid dan keluarganya. Persiapan pernikahan yang tak terlalu lama, membuat Chairani sibuk dalam mengurus hal-hal lain yang membuatnya tidak fokus dalam mengurus bahan untuk seragam. “Seharusnya saya memilih warna dan bahan yang lebih bagus untuk mereka” ungkap Chairani. Untuk para brides-to-be yang akan menggunakan 2 adat seperti Chairani, ia menyarankan untuk menyikapinya dengan santai. Usahakan mengatur dan membagi acara secara adil untuk masing-masing adat. Jika kedua orang tua ingin ikut andil, untuk menghindari konflik maka dengarkan dan turuti apa yang mereka inginkan, selama itu baik untuk kita.