Vintage Rustic Wedding at La Kana Semarang

By Ikke Dwi A on under The Wedding

Style Guide

Style

International

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Holy Matrimony

Venue St. Elizabeth Chapel - Bandungan

Event Styling & Decor Excelsior Decoration

Photography Alvin Photography

Make Up Artist Lala Anindita

Groom's Attire Jeanny Dwiana (bowtie)

Wedding Reception

Intimate wedding di Indonesia bisa dikatakan masih sulit untuk diterapkan, mengingat panjangnya daftar tamu undangan dari calon pengantin plus kedua orangtuanya. Namun intimate wedding ini berhasil diterapkan Ayu dan Valdi untuk hari pernikahannya.

Ingin mendapatkan intimate wedding yang sukses? Simak yuk kisah masa persiapan dan hari H Ayu dan Valdi ini.

Ayu dan Valdi bisa dikatakan hampir menghabiskan setengah hidupnya selalu bersama. Mereka sudah menjadi teman sepermainan sejak SMP, lalu satu sekolah di SMA, bahkan saat kuliah pun sama-sama satu kampus namun berbeda jurusan. Mulai dari dandanan masih culun sampai sekarang, bahkan kedua orangtuanya pun sudah kenal dekat sedari dulu. Bagaimana tidak, karena rumahnya bersebrang-sebrangan dan hanya berbeda tiga rumah.

“Mataku ditutup, trus pas buka mata di kolam renang udah ada floating candle bertuliskan “I Love U”. Hihihi. I wasn’t sure of risking our friendship into love, jadi aku ga langsung jawab, aku gantung dulu dan pikir matang-matang, hingga akhirnya 19 Maret 2010 kita jadian,” kisah Ayu saat mengingat kembali bagaimana pertemanan mereka berubah menjadi kisah cinta di pertengahan 2009.

The “Romantic Comedy” Proposal

Bagaimana Valdi melamar Ayu bisa dikatakan bak film romantic comedy. Saat itu Ayu, Valdi dan teman-temannya berjalan-jalan ke Kuala Lumpur. Dan suatu malam, di tengah jembatan di KLCC Park, Valdi tiba-tiba berlutut dan melamar Ayu. Dan tentu saja skenario lamaran ini sudah diketahui teman-temannya, kecuali Ayu.

Setelah cincin lamaran nyaris jatuh ke sungai karena Ayu kaget, namun tentunya jawabannya “Yes”. Bagaimana tidak, Ayu dan Valdi sudah lama saling mengenal, baik dan buruknya.

Masa Persiapan Pernikahan

Ayu dan Valdi sepakat untuk melangsungkan wedding destination, atau pernikahan di luar kota tempat tinggalnya. Dan dibutuhkan waktu kurang lebih satu tahun untuk menyiapkannya. Untuk tema, Ayu dan Valdi memutuskan untuk memilih intimate wedding bergaya vintage rustic. Acara pernikahan sendiri dilangsungkan di Jawa Tengah, sedangkan Ayu dan Valdi tinggal di Cirebon.

Kehadiran internet dan sosial media bisa dikatakan sangat membantu masa persiapan ini. Ayu dan Valdi sendiri yang menjadi wedding plannernya dan memilih vendor pernikahan dari hasil pencarian di Instagram dan blog.

“Semua vendor itu hasil pencarian kita cari sendiri, countless hours of browsing through Instagram ( browse IG thebridedept salah satunya :p ) and surfing through blog orang. Hihihi. Convincing our family also such a challenge. Karena dalam keluarga kita berdua, belum pernah ada yang melakukan destination wedding kaya gini,” ungkap Ayu.

Pada akhirnya, Ayu dan Valdi pun berhasil membujuk kedua orangtuanya untuk benar-benar bisa memilah tamu undangan hanya orang terdekat.

Beautiful Wedding Venue

La Kana yang terletak di Dusun Piyoto, Bandungan menjadi venue pilihan Ayu dan Valdi untuk wedding destinationnya. Memang selain orang Semarang, masih banyak orang yang belum mengetahui tempat ini. Selain pemandangannya yang indah, udaranya yang sejuk, juga cocok dengan konsep vintage rustic untuk pernikahannnya.

“Alasan pertamanya yang pasti adalah La Kana is such a lovely place. We fell in love at the first sight. We really avoided a grand ballrom style wedding. That’s why we decide to have an outdoor wedding. Lebih mudah untuk dapetin mood casual-nya.”

Alasan lain mengapa venue ini dipilih, karena orangtua Valdi berasal dari Jawa Tengah. Dan banyak saudara Valdi yang berdomisili di Semarang, Magelang, Solo, dan Jogya. Venue ini jadinya lebih mudah didatangi dan mereka tidak usah jauh-jauh ke Cirebon.

Intimate Wedding

“No stranger at our wedding” itulah motto Ayu dan Valdi. Bisa dikatakan intimate wedding ala Ayu dan Valdi ini sukses. Dari total undangan yang datang yaitu sekitar 350 orang, 200an di antaranya keluarga dan sisanya teman-teman sang pengantin.

We want to have a private & intimate wedding. Kita mau orang yang dateng ke wedding kita adalah memang orang yang kita kenal, yang memang mau berbagi kebahagiaan dengan kita, yang mau rela jauh-jauh dari Jakarta, Bandung, Cirebon untuk dateng ke Bandungan tanpa keterpaksaan.”

Bahkan ada saudara Ayu yang datang khusus dari Guangzhou dan teman Valdi yang pulang lebih awal dari tripnya di London untuk menghadiri pernikahan ini. And yes.. Ayu dan Valdi pun sengaja tidak memakai pelaminan agar bisa berbaur dengan para tamu. Sebagai gantinya, disediakan bridal table.

Wedding Inspiration

Vintage Rustic selalu menjadi tema pernikahan impian Ayu sedari dulu bahkan sebelum pacaran dengan Valdi. Untuk inspirasi, Ayu mengaku banyak mengambil dari western wedding dan Pinterest.

Kesulitan dalam menyiapkan hari pernikahan tentu ada! Ayu dan Valdi mengaku sulit dalam mencari vendor yang mengerti tema vintage rustic ini, khususnya vendor dekor. Mengingat vendor decor yang akan menentukan apakah tema vintage rustic ini akan betul-betul mengena atau tidak. Dan untungnya sang pengantin pun menemukan cici Christine dari Excelsior Decoration atas referensi Ko Adi dari Thunder Lighting. Kesulitan lainnya yaitu bagaimana membrief para vendor agar apa yang diinginkan sang pengantin bisa diterima dengan baik.

Beautiful Wedding Invitation

Wooden pocket board menjadi pilihan desain undangan pernikahan Ayu dan Valdi. Selain bernuansakan rustic, undangan ini juga memiliki manfaat sehingga tamu yang menerimanya tidak membuangnya. Wooden board ala Ayu dan Valdi ini bisa digantung, ataupun digunakan tempat menyimpan sesuatu.

Dan karena Ayu seorang desainer, tentu saja wedding invitationnya ini didesain sendiri. Undangan inipun sangat bernuansakan DIY, selain urusan mencetak dan memotong board, Ayu membuat selebihnya sendiri bersamaan dengan Valdi dan sang Ibunda yang bertugas menjahit pocket.

“Assembling, dan terakhir di print tag nama orang satu-persatu lalu diakhiri dengan pita yang cantik. All done by our own hands, with all our heart! And lucky me, I have a super-talented-sister-mentor Ci Lyshe yang ngebikinin aku ilustrasi yang dipakai jadi item design kita di mana-mana. Hihihi.”

About the Wedding Day

Hari pernikahan Ayu dan Valdi bisa dikatakan benar-benar dikelilingi orang-orang tercinta yang benar-benar mengenal mereka. Di antaranya para groomsmen dan bridesmaidnya yang ternyata teman-teman sepermainan, di mana teman Ayu juga teman Valdi, dan begitu pun sebaliknya.

“They all are our closest people after family, and it’s so nice to be surrounded by bunch of happy people that know exactly what kind of couple we are! Mereka bener-bener ngebuat suasana jadi selalu ringan, konyol, dan membahagiakan. Rasanya, menikahi sahabat dengan disaksikan sahabat-sahabat terdekat itu kayanya : this really are my best day ever!

Selain itu, di hari pernikahan ini juga semua sangat mencirikan sang pengantin. Mulai dari desain, undangan, dekor, buku tamu, souvenir pernikahan, sampai holy matrimony book. Semuanya memiliki sentuhan dari kedua pengantin.

Pretty Little Party itu ya kita berdua yang menjalankan. Hari H minus 2 minggu aja, di mana pasangan lain itu udah lagi perawatan biar cakep, kita masih keringetan bikin ring bearer. Kita bahkan bikin cover Alkitab sendiri biar ga sama dengan yang lain. Holy Matrimony book, wedding favour, guest book, dan segala macam wedding stationery yang ada itu kita print, potong, dan lipat sendiri satu-satu.”

Foto Prewedding Selama 5 Tahun

Ada lagi yang spesial dari hari pernikahan Ayu dan Valdi. Yup! Foto prewedding mereka ternyata sudah dimulai sejak Juli 2010. Valdi hobi fotografi sehingga setiap kali mereka liburan selalu mengumpulkan foto yang nantinya akan dipajang di hari pernikahan. Pemotretan ini tentunya dibantu oleh Vilda, adik Valdi yang secara tidak langsung menjadi fotografer pribadi pasangan ini. Dari lima tahun itu jadilah foto prewedding berlokasi di 12 kota dari lima negara yang berbeda.

Menikah Itu ga Harus Mahal Loh!

Itulah yang ingin ditunjukkan Ayu dan Valdi. Banyak orang bilang menyewa atau membuat gaun puluhan juta itu wajar, tetapi gaun ini hanya akan dipakai sekali seumur hidup.

“Buat kita, kenapa juga harus buang puluhan juta kalau cuma dipakai beberapa jam aja ? Mending sisanya bisa untuk isi rumah, yang akan dinikmati lebih dari sehari. Oleh karena itu aku dan Valdi memilih untuk membeli sendiri pakaian yang kami kenakan. Dan aku sendiri juga ga suka dengan wedding gown yang berpanjang-panjang ria. I want to keep it simple,” ungkap Ayu mengenai hari pernikahannnya yang dipenuhi sentuhan kesederhanaan dan DIY.

Kedua pengantin ini pun turut dibantu teman-temannya. Ilustrasi didesain dibantu Ci Lyshe (@lysflies), bowtie Valdi dibuat oleh keponakannya – Jeanny Dwiana ( @jeannydwiana ), Wedding Hanger karya Vilda, adiknya Valdi (@jeanike.v). Lalu choir yang mengiringi pemberkatan di gereja adalah teman-teman choir Valdi dari Paramabira Binus yang dulu ikut kompetisi bareng ke Europe. Begitu pun dengan Romo nya juga Romo Abukasman dari Cirebon yang dekat dengan sang pengantin. Dan terakhir WO – The Dayz – yang juga teman-teman Valdi.

Art is in our blood. I love design, He loves photography. We both love music. He plays music, I sing. He was in choir, I was in Dance group. He’s detail oriented, and I’m detail devil. That’s why, our wedding is the culmination of all our love and passion

Top 3 Vendors Pilihan Ayu dan Valdi:

Ayu dan Valdi mengaku susah sekali untuk menjawab pertanyaan ini karena mereka sangat puas dengan semua vendor pilihannya. Namun jika harus tetap memilih, maka berikut ini urutan dan alasannya:

1. Excelsior Decoration

Dari awal kontak dan ketemuan, Christine was really a helpful decorator. Pengalamannya dengan rustic vintage bisa dilihat jelas di portfolio nya yang fantastic. Kontakan jarak jauh Cirebon – Jogja, tetapi tidak pernah terjadi miscommunication. Bahkan video call via Skype pun pernah dilakukan dan Christine tetep sangat sangat supportive! Mereka selalu sabar mendengarkan mimpi dan harapan sang pengatin, menyerap detail, bahkan mereka beberapa kali membantu men-suggest item-item yang bakal bagus dibikin dengan design sang pengatin. Every inch, every part, from our bouquet, our boutonierre, to table setting, everything is just beautiful. Bersama dengan Ko Adi dari Thunder Lighting yang selalu bikin ketawa, mereka berdua jadi duet maut dibalik terpenuhinya tema Rustic Vintage kita.

2. Lala Anindita

I dreamt of having a natural flawless face on my wedding day, not some heavy and too much make up looks. Waktu aku lihat portfolionya, aku udah yakin Lala adalah orang yang tepat. Dan itu terbukti dari test make up dan make up hari H. Make up artist yang talented itu banyak, walau ga semua style nya natural flawless. Tapi Lala bukan cuma berbakat, she has such a super warm attitude. Dia selalu ngingetin aku untuk istirahat cukup, minum vitamin, what kind of softlens and accessories that will look good on me, selalu on time dan professional.

3. Semua vendor lainnya!

Karena kita bener-bener ga nyesel milih semua vendor-vendor kita. Semuanya sungguh memenuhi ekspektasi, dan sesuai dengan arahan mood dan karakter yang mau kita capai. Mereka bener-bener berusaha untuk membuat kita senang. Thunder Lighting oke banget, sehingga outdoor wedding bisa terlihat sangat bagus bahkan di kamera handphone. Semua orang juga memuji betapa lezatnya makanan dari venue-nya sendiri dan tentunya betapa ambience La Kana itu sangat unik dan cantik. Alvin photography sangat-sangat memuaskan dan nangkep banget apa mau kita tentang rustic vintage wedding dari awal pre-wed hingga hari H. Albertcoustic bikin suasana wedding dinner makin intimate dengan ngebawain song list kita secara akustikan nya yang light dan lovely. Dikombinasikan dengan ke-gokilan Puja & Fira yang style-nya sangat young dan warm, the night was like a dream to us. Dessert table dan wedding cake dari Yani Cake sukses jadi attention grabber bagi para tamu-tamu, dan semuanya bilang kue-kue nya super enak. Dan tentunya bantuan dari The Dayz WO sangat-sangat penting untuk hari H kita, mereka sangat membantu, selalu menyerap unek-unek dan kemauan kita yang aneh-aneh dan detail.

Ingin dapatkan DIY intimate “vintage rustic” wedding sukses ala Ayu dan Valdi? Ini loh tipsnya:

Be who you are! Your wedding day is all about you two! Jangan biarkan pribadi kalian hilang di perjalanan mempersiapkan wedding, dan at the end kalian merasa bahwa this wedding is soooo not us. Punya konsep dan harapan yang jelas sejak awal, sehingga ga terombang-ambing saat liat-liat pameran, atau berubah karena berkompromi dengan option yang ditawarkan vendor.

Tetap bersama dan konsisten dengan komitmen berdua, karena wedding preparation can get messy, but please remember that it’s the marriage that matter the most, not the wedding. Setiap ada hal yang ga menyenangkan, kita berdua selalu stick to that point, dan kita selalu mengulangi our magic word : This is gonna be worth it!

The greatest thing about our wedding is that we both felt extremely happy for the whole day. Literally happy, like we absorbed all the worlds energy and happiness, like nothing holding us back! Kita udah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, kalau ada hal yang ga sesuai ekspektasi dan ada masalah tak terduga.

Dan juga pasrah kalau kita bisa jadi, seperti banyak pasangan lain yang kita lihat kuyu saat resepsi baru dimulai. Ternyata malah kebalikannya, that was our most energized day of our life, that was the moment of our life!

Ternyata ketika kita mempersiapkan wedding kita dengan sepenuh hati sesuai konsep dan mimpi kita, dan memilih vendor yang tepat, dan dikelilingi dengan orang terdekat, there’s nothing to worry about at all, kita bisa bebas jadi diri kita sendiri. Kita gak tegang, gak grogi, gak kerasa capeknya, dan selalu happy ketemu tamu-tamu yang datang.

Intimate outdoor wedding dinner, checked! Casual fun wedding, checked! No stranger at the wedding, checked! Being (overly) happy at our big day, checked! 😀 Is it worth all the efforts (and all time, energy, debates, back pain, lack of sleep while DIY-ing) ? Totally!