Warm & Intimate Wedding of Dhyes & Indro at Rumah Saya

By Pravita Hapsari on under The Wedding

Warm & Intimate Wedding of Dhyes and Indro at Rumah Saya

Style Guide

Style

International

Venue

Outdoor

Colors

Vendor That Make This Happened

Venue Rumah Saya

Photography Get Her Ring

Make Up Artist Yunita Irawan

Hair Do Jatu Purwanti

Bride's Attire Dewangga Larasati

Catering Balai Sarwono

Wedding Entertainment La Oficio

Wedding Organizer Ngurus Wedding

Souvenir Maca

“Kami bertemu pertama kali tahun 2009. Sebenarnya kami satu kampus di ITB tapi tidak pernah bertemu, baru bertemu waktu kerja di Kalimantan,” cerita Dhyes saat ditanya tentang pertemuan pertamanya dengan Indro.

Kerja di site terpencil membuat penghuninya mudah untuk saling dekat. Dhyes dan Indro sama-sama bekerja di departemen engineering tapi setiap minggu ada acara Safety Talk di departemen mereka dengan host yang bergantian. Dhyes ingat sekali minggu itu adalah gilirannya sebagai host Safety Talk dengan pembicara Mas Indro.

Uniknya, saat Dhyes mengirim undangan ke semua personil engineering, Mas Indro membalas email itu dengan menyapanya yang saat itu baru bergabung selama satu minggu dan notabene email tersebut dilihat oleh semua personil. Dhyes yang saat itu malu, menjadi penasaran untuk bertemu dengan Indro. Dari rasa sebal itu, membuat mereka semakin dekat dan membantu Dhyes beradaptasi dengan pekerjaannya. Sering tukar pikiran dan berkeliling lapangan pertambangan bersama membuat mereka merasa cocok dan menjalin hubungan selama kurang lebih tujuh tahun. Setelah empat tahun diperusahaan yang sama, Dhyes pun pindah kerja ke Jakarta dan mereka menjalani hubungan LDR.

Acara pernikahan Dhyes dan Indro dimulai dengan akad nikah sekitar pukul 12.30. Karena lokasi outdoor di Rumah Saya dan dekat dengan Imlek, mereka sempat takut akan turun hujan. Benar saja, hujan turun sejak subuh sampai sekitar pukul 10, tapi tidak lama setelah itu matahari muncul. Tepat saat Dhyes memasuki area akad, hujan kembali mengguyur. Dhyes pun panik dan saat membacakan izin menikah perasaannya campur aduk antara sedih karena hujan dan terharu karena tiba saatnya pamit dengan orangtua. Sebaliknya, Mas Indro tenang dan melafaskan ijab dengan sangat lancar. Setelah itu, hujan berhenti dan berganti dengan cerahnya matahari.

Konsep pernikahan Dhyes dan Indro ini rustic, simple, dan warm. Buat mereka, pernikahan adalah momen yang intim dengan tujuan berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan sahabat dekat dengan suasana yang hangat. Undangan pun hanya sekitar 200, dan menjadi lebih seru karena dapat mingle dengan para tamu undangan. Dhyes suka dengan warna nude dan Mas Indro sangat suka warna abu-abu, jadi sentuhan warna untuk acaranya tidak jauh dari nude, abu-abu, coklat, hijau, dan biru untuk warna yang lebih tegas tapi tetap menyatu dengan alam. pilihan musik akustik yang dibawakan La Oficio juga menambah kehangatan acara sore itu, musiknya asik dan suara penyanyi pun easy listening.

Dengan tema dekorasi rustic dan bunglon, mereka ingin menyesuaikan dekor dengan alam sekitarnya. Area VIP dipasang tenda transparan dengan gantungan daun artifisial, bunga peacock, mawar putih, hydrangea hijau dan biru, juga kaktus. Photobooth dihiasi dengan kaktus dan peacock jar yang digantung. pelaminan dengan gawangan kayu dan backdrop daun rambat serta mawar, hydra, lily, dan peacock sebagai pemanis. Pintu Bali di lokasi juga dimanfaatkan dengan sentuhan bunga-bungaan. Aisle yang terbuat dari jajaran kayu itu dikeliling dengan bunga dan dedaunan yang serupa.

Busana yang digunakan oleh Dhyes memang agak unik. Ia menggunakan satu baju untuk akad dan resepsi dengan tampilan yang berbeda. Sejak awal Dhyes memang tidak mau repot untuk berganti baju dan hanya ingin membuat satu baju. Ternyata setelah diskusi dengan Mbak Anggi sebagai desainer dari Dewangga, beliau bisa membuatkan satu baju dengan dua look: akad dan resepsi. Potongan sabrina dan cutting A-line skirt jadi pilihan untuk model gaunnya. Gaunnya sendiri dibuat menjadi dua bagian yang bisa disambung. Saat akad nikah, Dhyes menggunakan atasan dengan batik wiron sidomukti. Saat resepsi, atasan yang sama disambung dengan rok A-line panjang yang dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti satu gown. Warnanya sudah pasti nude dengan aplikasi 3D biru dan abu-abu supaya senada dengan jas Mas Indro.

Tantangan dalam menyiapkan pernikahan adalah Dhyes menyiapkan semuanya sendiri dibantu oleh sang adik. Karena Indro dan Dhyes LDR, komunikasi menjadi terbatas dan semuanya disiapkan sendiri tanpa bantuan WO. WO hanya membantu pelaksanaan hari H dan persiapan H-1 bulan. Sementara, mulai dari survei, pemilihan vendor, bahan kebaya dan seragam dikerjakan sendiri oleh Dhyes. Indro sudah mempecayakan semuanya karena sulitnya komunikasi saat sedang bekerja di Kalimantan.

Top 3 vendor menurut Dhyes, yaitu:

1. Entien Decoration

“Dekorasi hari itu adalah benar-benar yang kami mau, Tania dan timnya mewujudkan suasana hangat yang kami idamkan di acara spesial kami, simple dan berkesan. Selama persiapan pun, permintaan-permintaan tambahan dari kami semua di akomodir dengan sigap oleh tim dekor ini.”

2. Dewangga Larasati

Mba Anggi juga sudah mewujudkan busana pernikahan simple dan timeless untuk kami. Bersedia dicerewetin selama pembuatan, dimintai tolong untuk tambahan-tambahan diluar rencana dan kesabaran yang luarbiasa sudah menghadapi kegalauan bridezilla.

3. Yunita Irawan

“Paham sekali apa yang pas dengan wajah dan kepribadianku padahal tidak pernah test make up sebelumnya, tapi tampilan soft di akad dan efek “manglingi” nya dapet banget, sempet deg-degan dengan waktu touch up yg sebentar sementara sehabis akad saya nangis bombay sampe riasan bawah mata berantakan, tapi Yunita tetap tenang. Voila! Waktu yg singkat pun tetep sempat merubah riasan soft akad jadi bold untuk tampilan resepsi.”

Momen yang paling berkesan untuk Dhyes adalah saat akad nikah dan pembacaan izin nikah terasa haru sekali ditambah guyuran hujan membuat suasana semakin syahdu, baru kali ini Dhyes melihat Mas Indro menitikan air mata. Selain itu, keunikan mahar yang disiapkan oleh Mas Indro.

“Merinding sekali saat tahu dia menyiapkan ini diam-diam dan saya baru tahu H-4 lho. Never imagine something sweet coming from his hand.” Mahar pernikahan kami berbentuk pohon yang menggambarkan keluarga kecil ini ingin selalu menjadi tempat berteduh yang kuat. Pohonnya terbuat dari akar bahar yang diambil dari kedalaman laut dengan menyewa penyelam di Lampung. Daun-daunnya dari batu permata yang berasal dari pulau-pulai di Indonesia berjumlah 58 (18+2+20+18) disebut MAPAN dari singkatan Lima Delapan, dipotong, dibentuk, dan dipoles sendiri bebatuannya. Buahnya dari emas, melambangkan keturunan yang Insya Allah memberikan kilauan untuk hidup orangtua, agama, dan sekitarnya. Sepasang merak jantan dan betina juga melambangkan hubungan yang harmonis. Semua itu dibuat sendiri dengan tangan oleh Mas Indro.

Dhyes juga memberikan tips untuk para brides-to-be yang akan melangsungkan pernikahannya:

  1. “Positive thinking, yakin kalo apapun hambatannya pasti akan ada jalan keluar. Kalau sudah berpikir positif, menyampaikan apapun juga pasti happy, terutama untuk yang mempersiapkan pernikahan dari jarak jauh seperti saya dan si mas ya. Kalau ada hambatan, rasanya ingin menumpahkan semua emosi tapi saya memilih untuk tenang sebelum menyampaikan via telpon ke pasangan, jadinya setiap diskusi dibawa senang saja.”
  2.  “Percaya dengan orang yang lebih berpengalaman. Banyak diskusi itu penting, kan malu bertanya sesat dijalan. Ini berguna sekali saat menentukan vendor diawal, kalau tidak banyak bertanya tidak akan mendapatkan vendor yang memang satu visi sama kita, jadi jangan mudah memutuskan sebelum mendapatkan banyak input.”
  3. “Banyak berdoa dan pasrahkan semuanya kepada yang diatas. Mau dirancang sesempurna apapun, kalau Allah berkehendak lain, maka tidak akan terjadi. Kekurangan dan kelebihan dari setiap acara pasti ada, belum tentu semuanya puas dan bagus. Jangan terlalu memikirikan omongan orang, karena bisa jadi stres. Perbanyak berdekatan dengan-Nya, toh menikah kan mencari ridha-Nya.”